Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
PT ABM Investama Tbk (ABMM). Foto: IST

PT ABM Investama Tbk (ABMM). Foto: IST

Incar Tambang Batu Bara, ABM Siapkan Dana US$ 250 Juta

Kamis, 18 Juni 2020 | 21:27 WIB
Farid Firdaus (farid.firdaus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – PT ABM Investama Tbk (ABMM) mengalokasikan anggaran akuisisi tambang batu bara sebesar US$ 150-250 juta. Perseroan mengincar lokasi tambang produktif di sekitar Sumatera, Kalimantan Timur, dan Kalimatan Selatan.

Direktur ABM Investama Adrian Erlangga mengatakan, perseroan telah melakukan tinjauan terhadap 180 izin usaha pertambangan (IUP) atau konsesi sejak 2015. Perseroan membidik tambahan cadangan batu bara yang besar dari hasil akuisisi, yakni sekitar 70-100 juta ton dengan kadar kalori di atas 4.000 kcal per kg.

“Dana akuisisi lebih banyak akan kita cari dari pinjaman bank, baik dalam negeri atau luar negeri. Hingga saat ini kita sudah ada pembicaraan dengan dua bank. Pendanaan juga sebagian dari kas internal,” jelas dia usai Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) di Jakarta, Kamis (18/6).

Per akhir 2019, ABM Investama memiliki total cadangan dari dua lokasi penambangan di Kalimantan Selatan dan Aceh hampir sejumlah 260 juta ton batu bara. Perseroan berharap setidaknya ada satu akuisisi tambang yang bisa dieksekusi pada tahun ini.

Menurut Adrian, perseroan menerapkan pendekatan strategis dalam mengakusisi. Artinya, ketika sudah dibeli, perseroan tetap mempertahankan tambang sampai umurnya habis. Setelah itu, perseroan bertanggung jawab melakukan revegetasi pada lahan bekas tambang.

Adapun dana akuisisi yang disiapkan perseroan di luar anggaran belanja modal (capital expenditure/capex) tahun ini. Semula perseroan menyiapkan capex sebanyak US$ 90 juta, namun perseroan memangkasnya menjadi US$ 45 juta lantaran pandemi Covid-19. Pengeluaran tahun ini lebih banyak digunakan untuk pemeliharaan mesin-mesin dan area tambang.

Pandemi juga berpotensi membuat target produksi perseroan tahun ini sedikit terkoreksi. Adrian memprediksi, volume produksi batu bara tahun ini bakal di posisi 12-13 juta ton dari target semula yang dipatok 15 juta ton. Tahun lalu, perseroan mencatatkan produksi sebanyak 11,76 juta ton.

“Ketika Maret-April muncul wabah Covid-19, semua orang terkejut. Tapi pada Mei, produksi sudah kembali seperti semula. Dan, produksi juga dipengaruhi oleh cuaca, seperti pada tambang di Aceh,” jelas dia.

Adrian menambahkan, dinamika cuaca adalah faktor alam yang tak bisa terhindarkan. Di tambang Aceh, selama Juni-Juli ini diperkirakan terjadi angin muson barat. Perseroan cenderung mengedepankan keselamatan para pekerja di tambang tersebut. Namun, perseroan masih memiliki produksi yang terkendali di Kalimantan Selatan. Bahkan, pada tambang di Kalimantan, perseroan merevisi naik target produksinya dengan tambahan sekitar 500-600 ribu ton.

Sementara itu, ABM Investama melalui anak usahanya, PT Cipta Kridatama (CK), menandatangani kontrak jasa pertambangan dengan PT Berkat Murah Rejeki (PT BMR) pada 15 Juni 2020. Kontrak tersebut untuk pengerjaan tambang milik PT BMR yang terletak di Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan dengan nilai kontrak mencapai Rp 348,6 miliar. Kontrak tersebut akan berlaku seumur tambang.

Sesuai rencana, CK akan memberikan jasa penambangan untuk pengupasan lapisan tanah (overburden removal) dan penyewaan alat berat dalam mencapai target volume sekitar 12,6 juta bank cubic meter.

Sebelumnya, pada awal 2020, CK juga telah menandatangani kontrak jasa pertambangan yang berlaku seumur tambang dengan PT Kuansing Inti Makmur senilai Rp 7,4 triliun. Sementara tahun lalu, perseroan juga mengantongi kontrak serupa dari PT Multi Harapan Utama senilai US$ 337 juta dan PT Binuang Mitra Bersama senilai Rp 8 triliun.

Sementara itu, RUPST ABM Investama memutuskan untuk membagikan dividen kepada pemegang saham sebesar Rp 36,25 miliar. Sedangkan sisa laba bersih 2019 akan ditambahkan pada laba ditahan untuk pengembangan kegiatan usaha perseroan dalam menghadapi tantangan dan dinamika bisnis tahun ini.

RUPST juga menyetujui pengangkatan seorang direktur baru untuk memperkuat manajemen perusahaan yaitu Haris Mustarto, melengkapi Andi Djajanegara dan Adrian Erlangga di jajaran direksi perseroan.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN