Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
London Sumatera. Foto: David Gita Roza

London Sumatera. Foto: David Gita Roza

Lonsum Siap Bangkit

Selasa, 11 Agustus 2020 | 04:44 WIB
Parluhutan Situmorang (redaksi@investor.id)

JAKARTA, investor.id - Kinerja operasional dan keuangan PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) atau Lonsum diproyeksi membaik pada semester II tahun ini. Hal itu seiring kondisi cuaca yang mendukung produktivitas, mulai pulihnya aktivitas ekonomi dunia, dan tren kenaikan rata-rata harga jual minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO).  

Proyeksi membaiknya sektor perkebunan kelapa sawit, termasuk pengaruhnya pada Lonsum, sesuai dengan hasil riset sejumlah sekuritas, di antaranya Danareksa Sekuritas, Trimegah Sekuritas, dan Samuel Sekuritas Indonesia.

Analis di tiga sekuritas tersebut memberikan pandangan yang optimistis pada semester II tahun ini. “Diharapkan kembali meningkat dan harga jual CPO juga diestimasi tetap membaik. Namun, peningkatan produksi Lonsum kemungkinan tetap di bawah pencapaian semester II-2019,” tulis analis Danareksa Sekuritas Andreas Kenny dalam risetnya, baru-baru ini.

Peningkatan harga jual  dan volume produksi pada paruh kedua tahun ini berpeluang mendorong laba bersih Lonsum menjadi Rp 263 miliar pada 2020 dibandingkan pencapaian tahun lalu senilai Rp 259 miliar.

Sedangkan pendapatan perseroan diperkirakan turun dari Rp 3,69 triliun menjadi Rp 3,49 triliun, seiring dengan penurunan volume produksi tandan buah segar (TBS) perseroan. Menurut Andreas, kenaikan harga jual kemungkinandidorong oleh pertumbuhan permintaan pasar setelah dibukanya kembali aktivitas ekonomi di sejumlah negara.

Hal itu terlihat dari mulai meningkatnya penjualan produk induk usaha perseroan, PT Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP), dalam beberapa bulan terakhir.

Atas dasar itu, Danareksa Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli saham LSIP dengan target harga Rp 1.300. Target harga tersebut sudah merefleksikan realisasi kinerja keuangan Lonsum sepanjang semester I-2020 yang berada di bawah ekspektasi.

Terkait realisasi kinerja sepanjang semester I-2020, Andreas menilai bahwa perolehan pendapatan dan laba bersih Lonsum hanya merefleksikan masing-masing 44,9% dan 33,7% dari target yang ditetapkan oleh Danareksa Sekuritas.

Sawit TBS. Foto ilustrasi: Investor Daily/Gora Kunjana
Sawit TBS. Foto ilustrasi: Investor Daily/Gora Kunjana

Hingga semester I-2020, perseroan membukukan peningkatan laba bersih menjadi Rp 92 miliar dibandingkan periode sama tahun lalu Rp 10 miliar. Sedangkan penjualan turun tipis dari Rp 1,59 triliun menjadi Rp 1,56 triliun.

Sementara itu, analis Samuel Sekuritas Indonesia Yosua Zisokhi mengungkapkan,volume produksi TBS dan CPO Lonsum berpotensi berangsurangsur pulih pada semester II tahun ini, setelah efek cuaca ekstrem berakhir.

“Secara tahunan diproyeksikan volume penjualan perseroan memang masih terkoreksi 12,2% tahun ini, namun diharapkan bertumbuh 8,5% pada 2021,” tulis dia dalam risetnya.

Meskipun volume produksi turun, laba bersih Lonsum diprediksi bertumbuh pada2020 dan 2021 masingmasing 11,1% dan 2,5%. Margin operasional juga diharapkan meningkat pada 2020 dan 2021 masing-masing 11,8% dan 12,1%.

Perbaikan tersebut ditopang oleh konsistensi kenaikan harga jual CPO dalam beberapa bulan terakhir.

Tren kenaikan harga jual CPO yang berdampak pada peningkatan laba bersih Lonsum mendorong Samuel Sekuritas Indonesia untuk mempertahankan rekomendasi beli saham LSIP dengan target harga Rp 1.000. Targettersebut merefleksikan perkiraan EV/EBITDA tahun 2021 sebesar 7,3 kali. Yosua memperkirakan volume produksi TBS Lonsum mencapai 16,8 ton per hectare tahun ini atau turun 12,2% dari realisasi tahun lalu.

Penurunan itu dipengaruhi oleh La Nina yang diprediksi mulai terjadi pada Oktober 2020 hingga pengujung tahun ini.  Sebab itu, produksi kebun perseroan bakal pulih total tahun depan dengan perkiraan naik 8,5% menjadi 17 ton per hektare. Sedangkan rata-rata harga jual CPO Lonsum berpotensi tumbuh pada 2020 dan 2021 masing-masing 11,1% dan 2,5%.

Begitu juga dengan proyeksi harga CPO pada paruh kedua tahun ini diperkirakan lebih baik dibandingkan semester I-2020 setelah dibukanya kembali aktivitas ekonomi, terutama di India dan Tiongkok yang menyerap 23,3% dari total konsumsi CPO dunia.

Yosua memperkirakan ratarata harga jual CPO tahun ini naik 9,5% menjadi 2.400 ringgit Malaysia per ton. “Dengan demikian, rata-rata harga jual CPO perseroan tahun 2020 dan 2021 sebesar Rp 6.990/kg dan Rp 7.163/kg atau tumbuh 11,1% yoy dan 2,5% yoy,” jelas dia.

Kenaikan Harga CPO

Sampel minyak sawit untuk B20, B30, hingga B100. Foto ilustrasi: Investor Daily/Gora Kunjana
Sampel minyak sawit untuk B20, B30, hingga B100. Foto ilustrasi: Investor Daily/Gora Kunjana

Di lain pihak, analis Trimegah Sekuritas Aditya Nugraha, Samuel Mailoa, dan Sebastian Tobing dalam risetnya menyebutkan bahwa harga CPO telah menguat hingga 17% menjadi 2.780 ringgit Malaysia per ton sepanjang Juli 2020.

Kenaikan harga tersebut dipengaruhi oleh peningkatan permintaan minyak nabati untuk kebutuhan pangan dan diprediksi berlanjut sampai akhir tahun ini.

Menurut Aditya, Samuel, dan Tobing bahwa kenaikan harga CPO tersebut juga diikuti oleh komoditas minyak nabati lainnya, seperti minyak kedelai dan bunga matahari.

Kenaikan tersebut diprediksi membuat realisasi kinerja keuangan emiten CPO tahun ini akan melampaui target yang telah ditetapkan semula. Penguatan harga CPO disinyalir berkat pertumbuhan penjualan makanan ringan selama pandemic Covid-19.

Hampir semua produsen makanan ringat dunia melaporkan lonjakan volume penjualan berkisar 3-26%, seperti produk biskuit, potato, sereal, dan lainnya. Sebagaimana diketahui, produk tersebut menggunakan bahan baku minyak goreng.

“Kenaikan harga jual CPO juga bakal didukung oleh penurunan volume produksi CPO pada paruh kedua tahunini akibat rendahnya pemupukan kebun sawit saat harga jualnya turun pada semester I tahun ini,” ungkap Aditya, Samuel, dan Tobing.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN