Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Karyawan melintas di Main Hall Bursa Efek Indonesia di Jakarta. Foto ilustrasi:  BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Karyawan melintas di Main Hall Bursa Efek Indonesia di Jakarta. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

KALEIDOSKOP 2020

Saat Investor Lokal Gagah Berani Menahan Jatuhnya Pasar Saham

Selasa, 29 Desember 2020 | 10:03 WIB
Farid Firdaus (farid.firdaus@beritasatumedia.com) ,Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Tahun 2020 adalah tahun yang berat bagi korporasi, termasuk perusahaan yang sahamnya tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI). Kinerjanya terpukul pandemi Covid-19, sahamnya rontok, dan memicu kejatuhan pasar saham. Namun, ternyata, kondisi itu menjadi panggung bagi investor lokal. Saat investor asing keluar, investor lokal dengan gagah berani masuk dan berhasil menahan kejatuhan pasar lebih dalam, bahkan pulih dengan cepat.  

Jika ada penghargaan The Best Investor of the Year di pasar modal Tanah Air tahun ini, penerimanya bukanlah satu atau dua sosok investor terkenal, melainkan seluruh investor lokal saat ini, termasuk investor ritel.

Terbukti, indeks harga saham gabungan (IHSG) yang sempat terpuruk ke level 3.989,5 pada 23 Maret 2020, sudah kembali mencapai level 6.008,7 atau menguat 50,61% hingga 23 Desember 2020. Sementara, investor asing mencatat transaksi jual bersih (net sell) saham senilai total Rp 47,7 triliun (ytd).

Secara jumlah, total investor di pasar modal tahun ini pun melonjak. Per November, jumlah investor sudah menyentuh 3,61 juta single investor identification (SID) atau meningkat 45,51% dibandingkan akhir 2019. Dari jumlah tersebut, sebanyak 3,58 juta merupakan investor individu, sisanya sebanyak 32.183 adalah investor institusi.

Lebih spesifik, investor saham sebanyak 1,54 juta SID. Hingga akhir tahun ini, total investor diyakini lebih dari 3,8 juta SID.

Petugas kebersihan beraktivitas di depan layar elektronik yang menampilkan pergerakan harga saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), di Jakarta.  Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal
Petugas kebersihan beraktivitas di depan layar elektronik yang menampilkan pergerakan harga saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), di Jakarta. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Chief Executive Officer (CEO) Mirae Asset Sekuritas Indonesia Taye Shim mengatakan, investor lokal ritel kini menjadi pusat perhatian karena mengambil peran yang signifikan di pasar saham Indonesia.

“Tekanan besar terhadap pasar saham pada semester I-2020 membawa peluang bagi investor ritel terjun ke pasar,” kata dia kepada Investor Daily, Minggu (27/12).

Adapun total nilai transaksi perdagangan saham yang dicatatkan oleh Mirae Asset Sekuritas mencapai Rp 393,25 triliun selama 1 Januari-22 Desember 2020. Pangsa pasar Mirae sebesar 9,07% atau berada di posisi teratas dibandingkan para broker lainnya. Penggerak utama di balik besarnya nilai transaksi Mirae adalah investor ritel. Taye Shim optimistis tren penguatan IHSG berlanjut pada 2021.

Penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) turut menjadi faktor pendorong minat investor untuk mengambil risiko dalam berinvestasi.

Pengunjung berada di galeri Bursa Efek Indonesia, Jakarta. Foto ilustrasi: Investor Daily/David Gita
Pengunjung berada di galeri Bursa Efek Indonesia, Jakarta. Foto ilustrasi: Investor Daily/David Gita

Selain itu, kehadiran vaksin Covid-19 menambah optimisme terhadap pertumbuhan ekonomi di seluruh dunia. Perihal keberanian investor ritel ini turut diamini oleh Direktur Eksekutif Asosiasi Analis Efek Indonesia (AAEI) Haryajid Ramelan.

“Pandemi memperlihatkan investor ritel gagah berani, sementara investor institusi cenderung menahan diri. Pada 2021 bisa jadi investor institusi seperti dana pension atau lembaga lain kembali ke pasar, karena investor ritel saja sudah menikmati gain,” jelas dia, baru-baru ini.

Selama pandemi ini, kata dia, perusahaan sekuritas pun mendapat rezeki dengan penambahan nasabah ritel baru. Ternyata, investor ritel lebih cepat tanggap dengan belanja saham saat IHSG masih di bawah 5.000. Hal ini tidak dilakukan para investor institusi saat awal-awal pandemi menghantam pasar saham.

“Ketika itu, investor institusi mungkin terlena dengan aktivitas ekonomi yang melambat. Perusahaan asuransi juga masih takut berinvestasi. Tapi sekarang industri sudah bangkit dan IHSG menggeliat luar biasa,” jelas dia.

Kekuatan Pasar

Petugas keamanan melintas di main hall Bursa Efek Indonesia di Jakarta. Foto ilustrasi:  Beritasatu Photo/Uthan AR
Petugas keamanan melintas di main hall Bursa Efek Indonesia di Jakarta. Foto ilustrasi: Beritasatu Photo/Uthan AR

Secara terpisah, Direktur Utama PT Mandiri Sekuritas Dannif Danusaputro berpendapat, kekuatan dan daya tahan pasar modal domestik bisa terlihat dari likuiditas yang berlimpah dan kekuatan neraca emiten di BEI yang pernah melewati krisis-krisis sebelumnya.

Saat ini, kondisi neraca dan manajemen risiko cash flow mayoritas perusahaan di Indonesia cukup baik, terutama dengan adanya kewajiban lindung nilai tukar untuk mengurangi_asset-liability mismatch.

Dannif juga sepakat investor domestik semakin aktif dalam hal berinvestasi di pasar modal, dimana terlihat bahwa investor ritel menjadi support utama bursa saham saat investor asing terus menerus melakukan aksi jual. Selain itu, IHSG cukup bertahan dibandingkan dengan bursa emerging market yang lain.

Petugas berjaga dengan latar belakang monitor pergerakan harga saham di Bursa Efek Indonesia di Jakarta. Foto ilustrasi:  Beritasatu Photo/Uthan A Rachim
Petugas berjaga dengan latar belakang monitor pergerakan harga saham di Bursa Efek Indonesia di Jakarta. Foto ilustrasi: Beritasatu Photo/Uthan A Rachim

BEI mencatat, tahun ini menjadi momentum dominasi investor ritel domestik perihal ratarata nilai transaksi harian bursa. Rata-rata nilai transaksi harian selama Januari-November 2020 mencapai Rp 8,42 triliun. Sebanyak 45,9% di antaranya dikontribusi oleh aktivitas transaksi yang dilakukan oleh investor ritel dan tertinggi sepanjang sejarah. Hingga 10 Desember 2020, dari jumlah kepemilikan saham yang tercatat di BEI senilai Rp 3.491 triliun, sebesar 50,44% di antaranya merupakan milik investor ritel domestik. Sisanya 49,56% dimiliki investor asing.

Momentum dominasi investor ritel domestik ini juga menjadi rekor baru bagi BEI. Direktur Pengembangan BEI Hasan Fawzi mengatakan, perlu dorongan untuk mengubah lingkungan dari saving society  menjadi investment society.

Hal ini bisa dilakukan dengan mengedukasi masyarakat untuk meningkatkan kesadarannya dalam berinvestasi. Di sisi lain, pasar modal harus berbenah, sehingga bisa menjadi sarana investasi yang menguntungkan, aman, nyaman, mudah, dan murah bagi para investor.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN