Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Indonesia Infrastructure Finance

Indonesia Infrastructure Finance

Diburu Investor, IIF Terbitkan Sustainability Bond US$ 150 Juta

Jumat, 22 Januari 2021 | 12:46 WIB
Farid Firdaus (farid.firdaus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, Investor.id – PT Indonesia Infrastructure Finance (IIF) menerbitkan surat utang global (global bond) perdana dalam format sustainability bond senilai US$ 150 juta dengan tingkat kupon 1,5% dan jatuh tempo pada 2026. Obligasi ini diserbu investor asing dengan pesanan yang masuk hingga US$ 390 juta.

Sustainability bond merupakan bagian program euro medium-term notes (EMTN) IIF dengan plafon hingga US$ 500 juta. Para bookrunner yang membantu aksi penerbitan ini antara lain Barclays, BNP Paribas, Citigroup, dan PT Mandiri Sekuritas.

“Pesanan final yang masuk berasal dari 45 akun. Berdasarkan wilayah, investor dari Asia mengambil porsi 72%, dan investor Eropa, Timur Tengah dan Afrika sebesar 28%. Sementara berdasarkan jenis investor, sebanyak 54% dari manajer investasi, 23% merupakan asuransi dan dana pensiun, serta 13% bank, dan 10% private bank dan lainnya,” tulis laporan Reuters, Jumat (22/1).

Sebagai informasi, sustainability bond merupakan obligasi yang hasil penerbitannya akan digunakan untuk mendanai proyek yang berwawasan lingkungan dan sosial.

Sebelumnya, lembaga pemeringkat international Fitch Ratings telah memberikan peringkat BBB terhadap sustainability bond IIF. Adapun, Fitch menilai, pengawasan dan dukungan terhadap IIF sangat kuat jika dilihat dari struktur kepemilikan saham. IIF secara tidak langsung dimiliki oleh pemerintah Indonesia dan disponsori oleh Asian Development Bank (ADB), serta International Finance Corporation (IFC), Grup Bank Dunia.

Pengawasan pemerintah Indonesia terhadap IIF dilakukan melalui PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero), yang menyetujui anggaran tahunan dan rencana jangka panjang IIF. Mayoritas pendanaan untuk operasi IIF berasal dari pemegang saham melalui modal disetor dan pinjaman, termasuk pinjaman subordinasi ADB dan Bank Dunia yang diberikan kepada pemerintah, didistribusikan kepada SMI untuk kemudian dipinjamkan ke IIF.

“Pinjaman subordinasi ini diberikan pada 2011 dan 2017 dengan total US$ 400 juta atau 272% dari ekuitas IIF saat ini. Kami yakin pinjaman subordinasi ini menunjukkan dukungan pemerintah yang berkelanjutan,” tulis Fitch, baru-baru ini.

Selain itu, IIF memiliki persyaratan modal minimum, sehinggga mewajibkan pemegang saham untuk menambah modal saat turun di bawah saldo. Apabila ada kasus gagal bayar oleh IIF, maka implikasi politiknya juga sangat besar lantaran bisa mempengaruhi kepercayaan lembaga multilateral terhadap proyek-proyek infrastruktur di Indonesia.

Fitch menilai, jika ada default, dampak sosial terhadap IIF akan terbatas. Hal ini lantaran tujuan IIF adalah membiayai proyek infrastruktur yang layak secara komersial. Sementara itu, SMI dapat diminta oleh pemerintah untuk membantu proyek infrastruktur yang belum menguntungkan.

Namun, lanjut Fitch, infrastruktur merupakan sektor utama dalam mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia. Pemerintah juga mendorong partisipasi perusahaan swasta pada sektor infrastruktur. Fitch menilai, peran IIF cukup penting bagi pemerintah dalam membantu sektor swasta ikut terlibat proyek infrastrutkur.

Fitch mencatat, meskipun ada pandemi Covid-19, IIF membukukan laba bersih Rp 17,5 miliar hingga semester I-2020, atau meningkat 212,5% dibanding periode sama tahun 2019 sebesar Rp 5,6 miliar. Kualitas aset dipertahankan dengan kredit macet bersih di level 0,6%, dari sebelumnya 0,7%.

Total aset IIF turun 2% secara tahunan hingga semester I-2020, tetapi kredit bisa naik 23% yang didukung pencairan pinjaman baru sebesar Rp 1,8 triliun. IIF juga menerima dua komitmen baru senilai Rp 1,1 triliun untuk pembiayaan proyek energi terbarukan pada semester I-2020.

IIF tidak memiliki utang jatuh tempo yang signifikan dalam jangka menengah, kecuali senilai US$ 200 juta pada 2021. Fitch meyakini, resiko pembiayaan kembali (refinancing) bisa dimitigasi oleh IIF dengan akses pendanaan di pasar modal, hubungan dengan bank, dan dukungan pemegang saham.

Editor : Parluhutan (parluhutan@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN