Menu
Sign in
@ Contact
Search
Indofood CBP. Foto: IST

Indofood CBP. Foto: IST

Indofood di Tengah Penurunan Daya Beli dan Kenaikan Harga CPO

Sabtu, 3 Juli 2021 | 06:35 WIB
Parluhutan Situmorang (redaksi@investor.id)

JAKARTA, investor.id - PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) masih menghadapi tantangan di tengah peningkatan kasus Covid-19 yang memukul daya beli masyarakat. Sedangkan kenaikan harga komoditas minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) bisa menjadi faktor penopang kinerja tahun ini.

Analis Mirae Asset Sekuritas Mimi Halimin mengungkapkan, Indofood merupakan produsen barang konsumsi dengan sejumlah keunggulan, yang didukung oleh empat lini bisnis saling melengkapi dalam grup, sehingga perseroan menjadi total food solutions.

“Kami menilai posisi tersebut menjadikan perseroan berada dalam posisi paling atas untuk mendapatkan keuntungan saat terjadi peningkatan permintaan ke depan,” tulis dia dalam risetnya.

Tak hanya itu, menurut Mimi, Indofood memiliki kemampuan besar untuk memperluas pasar ke luar negeri setelah anak usahanya, PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) menuntaskan akuisisi Pinehill Company Limited.

Perseroan juga diuntungkan oleh tren kenaikan harga CPO dalam beberapa bulan terakhir, sehingga kontribusi segmen agribisnis diperkirakan naik tahun ini.

Indofood. Foto: IST
Indofood. Foto: IST

Meski memiliki beragam keunggulan guna mempertahankan pertumbuhan kinerja keuangan, Indofood ternyata juga menghadapi tantangan berat tahun ini, seiring belum pulihnya daya beli masyarakat.

Kondisi kian parah setelah terjadi peningkatan kasus Covid-19 di dalam negeri. Hal ini mendorong Mimi untuk merevisi turun proyeksi kinerja keuangan Indofood tahun 2021 dan 2022.

Dia memangkas proyeksi pertumbuhan pendapatan Indofood tahun 2021 dan 2022 masing-masing 0,7% dan 0,8%. Pertumbuhan pendapatan tahun ini diproyeksikan hanya 17,3% menjadi Rp 95,8 triliun.

Sedangkan proyeksi kenaikan pendapatan tahun 2022 mencapai 6,7% menjadi Rp 102,2 triliun.

Begitu juga dengan margin EBIT perseroan direvisi turun, seiring dengan perkiraan pelemahan pada sejumlah anak usahanya, seperti Indofood CBP, Bogasari Flour Mills, dan bisnis distribusi. Sedangkan agribisnis diharapkan menjadi penopang margin EBIT perseroan tahun ini.

Dengan demikian, laba bersih tahun ini diperkirakan naik tipis 0,2% menjadi Rp 6,5 triliun dan laba bersih tahun 2022 diproyeksikan bertumbuh 10,7% menjadi Rp 7,2 triliun.

“Meski kami memangkas turun proyeksi kinerja keuangan Indofood, kami tetap percaya bahwa prospek perseroan tetap menjanjikan sejalan dengan perluasan pangsa pasar Indofood CBP setelah menuntaskan akuisisi Pinehill Company. Kenaikan harga CPO juga akan membawa sentimen positif,” jelas Mimi.

Sebab itu, Mirae Asset Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli saham INDF dengan target harga direvisi turun menjadi Rp 8.300. Target harga tersebut merefleksikan target PE sekitar 11,3 kali. Sebelumnya, analis BRI Danareksa Sekuritas Natalia Sutanto juga mempertahankan rekomendasi beli saham INDF dengan target harga Rp 8.100. Target harga tersebut merefleksikan perkiraan PE tahun ini sekitar 10,2 kali. Target harga tersebut juga mempertimbangkan dampak positif tuntasnya akuisisi Pinehill Company oleh Indofood CBP.

Pemulihan Ekonomi

Harga saham INDF satu dekade terakhir, prospek INDF, dan kinerja keuangan Indofood Sukses Makmur
Harga saham INDF satu dekade terakhir, prospek INDF, dan kinerja keuangan Indofood Sukses Makmur

Sementara itu, analis Mirae Asset Sekuritas Hariyanto Wijaya dan Emma A Fauni mengungkapkan, peningkatan kasus Covid-19 di Indonesia bersamaan dengan penerapan PPKM mikro bisa berimbas terhadap perlambatan pemulihan daya beli masyarakat hingga akhirnya berefek negatif terhadap sektor konsumer.

“Kami memahami bahwa penanganan pandemi Covid-19 membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan perkiraan semula. Kondisi ini terlihat setelah terjadi kembali lonjakan kasus Covid-19 dalam beberapa pekan terakhir. Hanya saja, kondisi terparah akibat Covid-19 sudah terlewati pada semester II-2020,” tulis Hariyanto dan Emma dalam risetnya.

Namun, lonjakan kasus Covid-19 bakal mempersulit pemulihan ekonomi dan daya beli masyarakat bakal berjalan lebih lambat dibandingkan perkiraan semula. Apalagi, setelah pemerintah memperketat kembali pembatasan sosial.

Meskipun sentimen jangka pendek lebih buruk, emiten sektor barang konsumsi masih menjanjikan dalam jangka panjang. Prospek tersebut didukung oleh potensi pasar yang besar, peningkatan jumlah penduduk, dan pertumbuhan daya beli masyarakat.

Selain itu, perusahaan barang konsumsi masih memiliki valuasi menarik, karena harga saat ini belum mencerminkan valuasi.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com