Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
HUT 44 tahun pasar modal Indonesia

HUT 44 tahun pasar modal Indonesia

Pelaku Pasar Modal Berikrar Pulihkan Ekonomi

Selasa, 10 Agustus 2021 | 14:12 WIB
Abdul Muslim (abdul_muslim@investor.co.id) ,Gita Rossiana (gita.rossiana@investor.co.id) ,Lona Olavia (redaksi@investor.id)

JAKARTA, investor.id – Kalangan pelaku pasar modal berikrar untuk membantu pemerintah memulihkan ekonomi nasional yang terpuruk akibat pandemi Covid-19. Pasar modal memiliki kontribusi besar dalam pemulihan ekonomi seiring makin banyaknya perusahaan yang mencari pendanaan lewat penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham maupun penerbitan obligasi.

Direktur Eksekutif Asosiasi Emiten Indonesia (AEI) Samsul Hidayat mengatakan, pembangunan industri pasar modal Indonesia saat ini sudah berada di jalur yang tepat untuk berkontribusi terhadap pertumbuhan perekonomian nasional.

Penghimpunan dana melaju kencang pada 2021
Penghimpunan dana melaju kencang pada 2021

Eksistensinya pun makin nyata seiring banyaknya investor domestik yang tergabung di pasar modal dan juga banyaknya perusahaan yang ingin mencari pendanaan lewat penawaran umum perdana (IPO) saham.

“Jalan untuk kontribusi yang maksimal dari pasar modal untuk ekonomi Indonesia sudah mulai kelihatan dari hari ke hari dan makin terbuka. Pasar modal menawarkan maksimalisasi fungsi untuk memajukan perekonomian Indonesia. Pasar modal sebagai media untuk mempertemukan modal masyarakat dan dipergunakan untuk modal kerja perusahaan dan dikembalikan dalam bentuk return,” katanya kepada Investor Daily, Senin (9/8).

Samsul Hidayat  dalam diskusi serangkaian acara Tokoh Finansial Indonesia 2020 live di BeritaSatu TV, Kamis (17/12/2020). Sumber: BSTV
Samsul Hidayat  Sumber: BSTV

Hal ini pun serupa dengan yang terjadi di negara-negara maju di mana banyak pelaku usaha yang memanfaatkan pasar modal sebagai sumber pendanaan bagi dunia usaha. BEI sendiri akan terus meningkatkan peran industri pasar modal menjadi sumber pendanaan bagi perusahaan domestik dalam rangka melakukan ekspansi bisnis.

Dihubungi terpisah, Deputi Komisioner Hubungan Masyarakat dan Logistik OJK Anto Prabowo mengatakan, pasar modal yang melibatkan banyak investor di tengah pandemi seperti saat ini menunjukkan kepercayaan terhadap ekonomi negara.

“Utamanya, setelah beberapa waktu lalu OJK melakukan otomasi dan pemanfaatan information technology (IT) sehingga lebih transparan,” kata Anto kepada Investor Daily, Senin (9/8).

Direktur Pengembangan Kebijakan Perlindungan Konsumen OJK Anto Prabowo. Foto: BSTV
Direktur Pengembangan Kebijakan Perlindungan Konsumen OJK Anto Prabowo. Foto: BSTV

Sementara itu, pengamat pasar modal Budi Frensidy menilai, pasar modal berperan dalam menyalurkan dana di masyarakat untuk membiayai ekspansi emiten baik melalui pembelian saham maupun obligasi.

“Jadi buat yang punya uang lebih dan tidak terpakai karena tidak punya usaha atau bisnisnya sedang sepi seiring sektor ril dan ritel yang cenderung masih mengalami kontraksi, dananya bisa disalurkan ke pasar modal,” ucap Budi kepada Investor Daily, Senin (9/8).

Dahulu, lanjut Budi, pilihan utama masyarakat adalah menempatkan uang mereka di bank. Tetapi kini bunga bank sudah rendah dan beberapa bank bahkan menolak menerima deposito dalam jumlah besar. Sebab, bank-bank tidak bisa melempar deposito tersebut sebagai kredit.

Pengamat pasar modal Budi Frensidy
Pengamat pasar modal Budi Frensidy

Bagi perusahaan atau emiten, melesatnya jumlah investor ritel yang beralih dari bank ke pasar modal membuat para investor bisa mendapatkan dana murah dalam jumlah besar melalui penerbitan saham atau obligasi untuk membesarkan usaha mereka. 

“Meningkatnya jumlah emiten akan meningkatkan permintaan tenaga kerja di perusahaan dan di industri yang terkait pasar modal seperti brokerage, asset management, underwriter, rating, unit link, dan lain-lain,” tuturnya.

Sinergi dan Kolaborasi

Guru Besar IPMI International Business School Prof Roy Sembel dalam Webinar Membangun Bisnis Korporasi Yang Berkelanjutan Dengan ESG live via Zoom, Live Streaming Beritasatu.com, Senin (29/3/2021). Foto: Beritasatu Photo/Uthan AR
Guru Besar IPMI International Business School Prof Roy Sembel  Foto: Beritasatu Photo/Uthan AR

Roy Sembel, Professor Distinguished Chair for Finance & Investment at IPMI International Business School, berpendapat, regulator, emiten, dan investor, pasar modal di Tanah Air, punya tantangan yang berat untuk saling bersinergi dan berkolaborasi agar bisa keluar dari keterpurukan akibat dampak terburuk dari Covid-19 dan berkontribusi bagi pemulihan ekonomi nasional.

“Jadi, yang pasti tantangan yang terberat dari mereka semua untuk saling bekerja sama. Pemerintah dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebagai regulator serta Bursa Efek Indonesia (BEI) sebagai pelaksana pasar modal di Indonesia juga perlu merelaksasi aturan dan memberikan kemudahan kepada para emiten, terutama yang sedang menghadapi masa tersulit akibat pandemi,” ujar Roy kepada Investor Daily, Senin (9/8).

Setelah sempat berhenti beberapa tahun, tepat pada 10 Agustus 1977 aktivitas pasar modal diresmikan kembali oleh Presiden Soeharto. Ketika itu bursa efek dijalankan di bawah Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam). Pengaktifan kembali pasar modal ini juga ditandai dengan go public PT Semen Cibinong sebaga iemiten pertama.

Pada tahun ini pengaktifan kembali pasar modal memasuki 44 tahun dengan mengusung tema Sinergi Pasar Modal bagi Pemulihan Ekonomi.

Roy pun mengaku bersyukur bahwa pemerintah telah memberikan kelonggaran kepada emiten untuk merestrukturisasi utangnya. Sebab, saat ini tak hanya kelas usaha mikro dan kecil yang sedang mengalami masa terberat menjalankan bisnisnya, tapi juga dialami oleh perusahaan/ pengusaha menengah dan besar.

Dia juga mendorong BEI untuk membuat terobosan-terobosan dan berinovasi dengan meluncurkan produk- produk pasar modal terbaru di tengah Covid-19 yang telah mendorong orang untuk lebih beraktivitas secara digital dan lebih terintegrasi melalui platform digital.

Satu di antaranya yang bisa dilakukan dengan membuat produk gabungan antara saham dan mata uang virtual (crypto) dalam satu paket platform, sehingga investor bisa mempunyai pilihan lebih dari satu produk keuangan dalam satu wadah platform.

“Sekarang kan zamannya platform. Jadi, buatlah terobosan pasar saham dan crypto bisa disajikan dalam satu platform agar investor semakin punya pilihan dan saya yakin mereka akan suka,” imbuhnya.

Dalam hal tersebut, Roy pun menyarankan agar OJK dan Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) untuk saling bekerja sama dengan membuat terobosan regulasi pasar yang lebih terbuka dan semakin terintegrasi dengan menghilangkan sekat-sekat yang menghambat.

Pekerja melintasi layar pergerakan saham di gedung BEI, Jakarta. Foto ilustrasi: Daily/David Gita Roza
Pekerja melintasi layar pergerakan saham di gedung BEI, Jakarta. Foto ilustrasi: Daily/David Gita Roza

Selain itu, OJK dan BEI dimintanya untuk memberikan edukasi yang baik kepada para investor pasar modal dan keuangan agar lebih paham dengan hak, kewajiban, dan risiko ketika berinvestasi. Para investor pasar modal juga disarankannya untuk meningkatkan kualitas dirinya melalui komunitas yang diikutinya.

Sementara itu, lanjut dia, sekuritisasi aset/pendapatan emiten di antaranya dengan mendorong lahirnya produk-produk Kontrak Investasi Kolektif-Efek Beragun Aset (KIK-EBA) dan Real Estate Investment Trust (REIT) juga bisa menjadi salah satu pendorong sektor pasar modal terhadap kebangkitan sektor riil.

Sebab, pasar modal bisa menjadi alternatif pencarian dana bagi emiten selain dari langkah pendanaan dengan penawaran saham kepada public (IPO), penerbitan saham baru, dan obligasi. Dengan alternatif permodalan yang lebih variatif tersebut, emiten pun diharapkan bisa kembali bangkit dari dampak buruk Covid-19.

Roy kembali menjelaskan bahwa OJK, Bappebti, dan BEI, mulai dari sekarang perlu mulai merintis pasar keuangan yang lebih terintegrasi ke depannya, sehingga investor pada saatnya bisa membeli semua produk keuangan dalam satu platform super (super app), mulai dari saham, obligasi, crypto, perbankan, hingga asuransi.

Sementara itu, OJK, Bappebti, dan BEI, pada tahap awal bisa merintis kelahiran satu paltform untuk menggabungkan pasar saham dan crypto.

Selanjutnya, platform juga bisa dikaitkan dengan banyak platform marketplace, di antaranya Tokopedia dan Bukalapak. Dia yakin, langkah awal ini akan diminati oleh investor karena memberikan pilihan untuk berinvestasi.

“Ke depannya, kalau semua pasar keuangan bisa digabungkan menjadi satu, itu bagus bagi investor karena akan ada banyak pilihan investasi. Ini yang disebut dengan one stop investor service. Ini bisa mulai dirintis dari sekarang,” tuturnya.

Menurut dia, hal tersebut bisa dirintis mulai dari gebrakan OJK dan Bappebti yang dinilainya selama ini punya regulasi lebih fleksibel dibandingkan dengan regulasi yang berlaku pada sektor perbankan dan asuransi yang lebih kaku (rigid).

Direktur Asosiasi Riset & Investasi Pilarmas Investindo Maximilianus Nico Demus
Direktur Asosiasi Riset & Investasi Pilarmas Investindo Maximilianus Nico Demus

Direktur Riset dan Investasi Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus mengatakan, bentuk sinergi pelaku pasar modal dalam membantu pemulihan ekonomi nasional yang terdampak pandemi Covid-19 adalah dengan membantu perusahaan yang membutuhkan pendanaan baik itu melalui penerbitan obligasi maupun saham.

“Apa pun tujuannya, pasar modal mampu menyediakan pendanaan bagi perusahaaan, sinergi itu yang paling jelas,” ujar dia.

Dia menyebutkan setidaknya ada empat upaya yang diperlukan untuk meningkatkan peran pasar modal dalam mendukung pemulihan ekonomi, pertama melakukan sosialisasi dan edukasi terkait pasar modal, kedua memilah dan memastikan informasi yang sampai ke pasar yang benar dan dapat dipertanggungjawabkan, ketiga mendorong orang-orang untuk berinvestasi di pasar modal dengan baik, dan terakhir bersama-sama menjaga imej pasar modal sebagai tempat investasi yang aman.

Analis CSA Research Institute. Foto: IST
Analis CSA Research Institute. Foto: IST

Sedangkan pengamat pasar modal Reza Priyambada mengungkapkan, bentuk sinergi pelaku pasar modal dalam membantu pemulihan ekonomi nasional yang terdampak pandemi Covid-19 antara lain adalah dengan membantu perusahaan yang membutuhkan pendanaan baik melalui IPO saham dan obligasi, rights issue, dan lain-lain.

“Pasar modal merupakan wadah bagi perusahaan untuk mendapatkan pendanaan guna ekspansi yang dapat menyerap tenaga kerja dan pada gilirannya dapat membantu pemulihan ekonomi nasional,” papar Reza.

Sedangkan upaya yang diperlukan untuk meningkatkan peran pasar modal dalam mendukung pemulihan ekonomi,

Reza menyebut, saat ini sosialiasasi dan edukasi terkait pasar modal sangat diperlukan guna meningkatkan pemahaman masyarakat. Sejauh ini pemahaman masyarakat dinilai masih rendah yang tercermin dari perkembangan investor pasar modal di Tanah Air yang masih terbatas dibandingkan di negara-negara maju, padahal masayarakat Indonesia berpotensi besar untuk berinvestasi di pasar modal.

“Di tengah situasi sekarang yang katanya banyak pengangguran dan kemiskinan, kita masih saja mendengar ada masyarakat yang tertipu investasi bodong dengan nilai besar. Saya kira ini ironis kenapa masyarakat masih jatuh ke investasi bodong, dan tidak memilih pasar modal yang jelas memiliki return dan risiko terukur. Inilah pentingnya edukasi dan sosialisasi,” papar Reza.

Kinerja Bursa

Direktur Perdagangan dan Anggota Bursa BEI Laksono Widodo
Direktur Perdagangan dan Anggota Bursa BEI Laksono Widodo

Sementara itu, Direktur Perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) Laksono Widodo menjelaskan, menjelang hari ulang tahun ke-44 pasar modal Indonesia, indeks harga saham gabungan (IHSG) dan kapitalisasi pasar (market cap) meningkat.

“Harapannya sampai akhir tahun, transaksi semakin ramai dan jumlah investor akan semakin meningkat,” ujar dia kepada media, Senin (9/8).

Adapun berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG menembus level 6.127 pada penutupan perdagangan, Senin (9/8). Level tersebut meningkat 2,48% dibandingkan posisi akhir 2020. Sedangkan kapitalisasi pasar (market cap) mencapai Rp 7.389 triliun atau meningkat dibandingkan akhir 2020 yang mencapai Rp 6.970 triliun.

Head of Research PT Yuanta Sekuritas Indonesia Chandra Pasaribu menilai, sejauh ini pergerakan IHSG banyak ditopang oleh saham berkapitalisasi kecil dan menengah, terutama berkaitan dengan kesehatan dan teknologi. Hal ini terlihat dari IHSG yang melesat sekitar 3,75% pada perdagangan akhir pekan lalu, sementara indeks yang berisi 45 saham berkapitalisasi besar (LQ45) dan saham di IDX30 menurun masing-masing 9,71% dan 10,59%.

“Akan tetapi karena likuiditas dari saham kecil dan menengah ini terbatas sehingga bisa menyulitkan investability ke saham tersebut,” jelas dia.

Perkembangan market cap, jumlah investor & emiten
Perkembangan market cap, jumlah investor & emiten

Karenanya, manajer investasi kesulitan untuk mempertahankan portofolio reksadana saham karena ada aturan main dari komite investasi yang harus dipenuhi. Hal yang menjadi pertanyaan saat ini, menurut Chandra adalah keberlanjutan dari bisnis baru dalam membukukan arus kas positif dan kemampuan bisnis lama dalam menjawab tantangan zaman. Dari dua hal tersebut, pasar cenderung berpihak kepada bisnis baru yang berpotensi mengambil alih pasar.

Untuk tahun ini, Chandra masih sulit memprediksi pergerakan IHSG. Pasalnya, kondisi Covid-19 belum terkendali dan tingkat vaksinasi relative masih lambat. Chandra juga mencermati perkembangan bisnis teknologi dalam mencetak cashflow positif.

“Dengan melihat hal tersebut, kami masih mempertahankan IHSG di level 6.600-6.700,” kata dia.

Sementara untuk market cap, Chandra tidak bisa memperkirakan. Pasalnya, hal ini sangat dipengaruhi oleh perkembangan penawaran umum perdana (initial public of fering/ IPO) saham.

“Apabila Gojek dan Tokopedia (GoTo) listing, maka market cap-nya bisa langsung meningkat,” terang dia.

Head of Research PT Mirae Asset Sekuritas Hariyanto Wijaya. Foto: IST
Head of Research PT Mirae Asset Sekuritas Hariyanto Wijaya. Foto: IST

Head of Investment PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Hariyanto Wijaya menjelaskan, sektor teknologi akan mempengaruhi IHSG tahun ini. Apalagi, Gross Merchandise Value (GMV) industri e-commerce akan meningkat 23% dari US$ 44 miliar pada 2020 menjadi US$ 124 miliar pada 2025. Dengan pertimbangan ini, Bukalapak dan GoTo akan mampu mencetak pendapatan dari berkembangnya ekonomi digital di Indonesia.

“Belajar dari Amerika Serikat (AS), perusahaan teknologi mendominasi lima besar kapitalisasi pasar di sana,” kata dia.

Dengan melihat hal itu, ada beberapa saham yang menjadi pilihan Mirae seperti PT Bukalapak.com Tbk (BUKA), PT Prodia Widyahusada Tbk (PRDA), PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk (MIKA), PT Medikaloka Hermina Tbk (HEAL) PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), PT Surya Citra Media Tbk (SCMA), PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR), PT BTPN Syariah Tbk (BTPS) dan PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI). Per 6 Agustus 2021, saham pilihan Mirae tersebut sudah mencetak return 34,6% dari posisi Agustus 2019. (mwd/tm/jn)
 

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN