Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Analis CSA Research Institute. Foto: IST

Analis CSA Research Institute. Foto: IST

Pelaku Pasar Masih Terus Pantau Penyelesaian Kasus Asabri

Jumat, 17 September 2021 | 14:29 WIB
Lona Olavia

JAKARTA, investor.id - Persidangan kasus dugaan korupsi PT Asabri yang sempat diwarnai kericuhan dan memicu kemarahan majelis hakim karena para terdakwa menolak disidangkan secara bersamaan, membuat preseden buruk bagi perkembangan pasar modal Indonesia. Pasalnya, kepastian hukum menjadi hal yang ditunggu-tunggu oleh para investor.

Analis CSA Research Institute Reza Priyambada mengatakan, hingga saat ini sebenarnya pelaku pasar masih memantau penyelesaian kasus Asabri. “Ketidakpahaman penyidik dalam memahami kasus di pasar modal membuat kasus ini tambah ribut dan makin tidak jelas. Wajar saja kalau masing-masing pengacara tidak mau kliennya disidangkan jadi satu,” katanya, Jumat (17/9/2021).

Dia pun berharap jangan sampai karena ada penanganan kasus hukum di pasar modal yang salah justru mempengaruhi kepercayaan investor. Apalagi saat ini, market cap berdasarkan statistik pasar modal Indonesia sudah mencapai hampir Rp 7.400 triliun. Oleh karena itu, dalam penanganan kasus ini pihak yang berwajib harus melihat asal muasal kasus. “Jangan semua yang terlihat ada trading atau investasi saham MYRX (PT Hanson International Tbk), LCGP (PT Eureka Prima Jakarta Tbk), dan sejenisnya langsung diamankan,” pungkasnya.

Terkait kasus Asabri-Jiwasraya, Reza pun menambahkan masyarakat bisa meminta ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK) supaya bisa memberikan masukan bagaimana menangani kasus hukum dengan proses hukum yang baik.

Sebelumnya, Kuasa Hukum Benny Tjokrosaputro yaitu Fajar Gora menyampaikan bahwa, para terdakwa punya hak jika tidak ingin disidangkan secara bersamaan. Dia mengungkap alasan-alasan keberatan kliennya jika disidangkan bersama-sama. Selain itu, jika perkara tersebut digabungkan maka akan memakan waktu sangat lama dan bisa berpengaruh terhadap putusan hakim.  

Fajar pun membandingkan dengan kasus manajer investasi Jiwasraya yang disidangkan secara terpisah. "Di mana ada 13 terdakwa, namun banyak majelis hakim yang menyidangkan, sehingga sidang dapat dilakukan secara terpisah dan efektif," katanya.

Pakar Kebijakan Publik Universitas Trisakti Trubus Rahadiansyah menyarankan lebih baik dalam proses pengadilan hukum perkara Asabri dilakukan secara terpisah. Menurutnya, itu dilakukan agar dalam proses pembuktiannya lebih valid dan juga saksi-saksi yang dihadirkan lebih leluasa dalam memberikan kesaksian. "Karena per-kasusnya juga berbeda, berkaca dari kasus 13 Manajer Investasi di Jiwasraya memang harus dipisahkan. Tidak bisa dengan cara disatukan seperti itu, nanti hakimnya tidak fokus, jadi putusannya kurang akurat," ujarnya.

Hasil survei KedaiKopi mengungkapkan, penanganan kasus dugaan korupsi pada pengelolaan dana investasi dan keuangan PT Asuransi Jiwasraya (Persero) dan PT Asabri (Persero) telah menurunkan minat investor asing untuk berinvestasi di Indonesia, khususnya di pasar saham.

Editor : Mashud Toarik (mashud_toarik@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN