Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Cikarang Listrindo. Sumber: listrindo.com.

Cikarang Listrindo. Sumber: listrindo.com.

Cikarang Listrindo Segera Emisi Obligasi US$ 600 Juta, BNI Catatkan Obligasi US$ 600 Juta

Senin, 27 September 2021 | 05:55 WIB
Nabil Al Faruq (nabil.alfaruq@beritasatumedia.com) ,Gita Rossiana (gita.rossiana@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – PT Cikarang Listrindo Tbk (POWR) bakal menggelar rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) pada Oktober untuk meminta persetujuan emisi obligasi global (global bond) sebesar US$ 600 juta atau setara Rp 8,5 triliun. Sementara itu, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) atau BNI akan mencatatkan perpetual bond additional tier-1 senilai US$ 600 juta pada 27 September 2021.

Cikarang Listrindo berencana menggunakan dana hasil penerbitan obligasi global untuk pelunasan surat utang 2026 yang berbunga 4,95%. Bunga surat utang dibayarkan 2 kali dalam setahun, yakni pada 14 Maret dan 14 September, dengan jatuh tempo pada 14 September 2026.

Surat utang 2026 sebelumnya diterbitkan oleh anak usaha perseroan, yakni Listrindo Capital BV, pada 14 September 2016. Nilainya sebesar US$ 550 juta. Namun, Listrindo Capital telah mengalihkan seluruh hak dan kewajibannya kepada perseroan pada 25 September 2019.

“Surat utang yang akan diterbitkan perseroan merupakan transaksi material, dimana nilai yang diterbitkan lebih besar dari 50% ekuitas berdasarkan laporan keuangan per 31 Desember 2020 yang sebesar US$ 670 juta. Adapun nilai penerbitan surat utang ini mewakili 89,48% ekuitas perseroan,” jelas manajemen Cikarang Listrindo dalam keterangan resmi.

Sesuai rencana, surat utang yang baru akan jatuh tempo selambat-lambatnya tahun ke-15 sejak diterbitkan. Suku bunga diharapkan maksimal sebesar 5,75% per tahun.

Sebagai informasi, surat utang sebesar US$ 600 juta ini akan dicatatkan di Bursa Efek Singapura (SGX). Aksi korporasi ini akan dilakukan setelah perseroan memperoleh persetujuan dalam RUPSLB pada 15 Oktober 2021.

Perpetual Bond BNI

Sementara itu, hari ini, BNI akan mencatatkan perpetual bond additional tier-1 di Bursa Efek Singapura. “Perpetual bond akan diperdagangkan dalam mata uang dolar Amerika Serikat (AS) dengan nilai minimal US$ 200 ribu,” sebut keterbukaan informasi di Bursa Efek Singapura, Jumat (24/9).

Adapun penerbitan perpetual bond ini dilakukan pada 24 September 2021. Bertindak sebagai lead manager dan bookrunner adalah JP Morgan Securities, UBS AG cabang Singapura, dan BNI Securities Pte Ltd.

Direktur Keuangan BNI Novita Widya Anggraini mengatakan, perseroan memang telah menerbitkan additional tier 1 perpetual non-cumulative capital securities senilai US$ 600 juta. Obligasi ini memiliki tingkat bunga 4,3% per tahun.

“Dana hasil penerbitan perpetual bond akan digunakan untuk menambah modal inti bank, penguatan modal, meningkatkan pembiayaan, serta untuk memperkuat struktur komposisi dana jangka panjang," jelas Novita kepada Investor Daily, Minggu (26/9).

Dalam pemberitaan sebelumnya, Novita mengatakan bahwa target minimal dari perpetual bond ini sebesar US$ 500 juta. Namun, hasil akhir perolehan dana tergantung pada penentuan harga.

Dengan adanya perpetual bond tersebut, rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) BNI bisa bertambah 1,2%. Per akhir Juni 2021, CAR BNI berada di level 18,18% dengan tier 1 sebesar 15,99%.

Sementara itu, Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo dalam rapat kerja dengan Komisi VI DPR belum lama ini memaparkan, BNI mengalami tekanan pada rasio permodalan dibandingkan dengan bank peers.

Opsi pemenuhan modal BNI dilakukan dengan dua cara. Pertama, untuk jangka pendek, perseroan akan menerbitkan perpetual bond additional tier-1. Pemenuhan modal kedua dilakukan melalui rights issue untuk kebutuhan permodalan yang lebih berkelanjutan. Rights issue akan dilakukan pada semester I-2022 dengan nilai Rp 11,7 triliun.

Adapun pada Maret lalu, BNI telah menerbitkan subordinated notes untuk memenuhi modal tier 2 sebesar US$ 500 juta. Notes ini memiliki jangka waktu hingga 2026 dengan tingkat bunga 3,75%. Bertindak sebagai lead manager dan bookrunner dalam subordinated notes itu adalah Citigroup Global Markets Ltd dan HSBC Ltd.

Sementara itu, dalam rapat kerja Komisi VI DPR dengan Menteri BUMN pada 22 September lalu, BNI menjadi satu dari delapan BUMN yang akan mendapatkan Penyertaan Modal Negara (PMN) pada tahun depan. Besaran PMN yang akan diterima BNI sebesar Rp 3,5 triliun.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN