Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
MNC Group.

MNC Group.

Indonesia Transport & Infrastructure Jadi Induk Perusahaan Batu Bara MNC Group

Sabtu, 16 Oktober 2021 | 05:00 WIB
Lona Olavia

JAKARTA, investor.id - PT Indonesia Transport & Infrastructure Tbk (IATA) teken nota kesepahaman untuk mengakuisisi PT MNC Energi dari PT MNC Investama Tbk (BHIT) sebagai pemegang saham mayoritas. Setelah transaksi, Indonesia Transport & Infrastructure akan menjadi entitas induk untuk seluruh perusahaan batu bara MNC Group.

Head of Investor Relations MNC Group Natassha Yunita menuturkan, IATA dalam hal ini sedang bersiap untuk mengambil alih tiga perusahaan sekaligus. Pertama, PT Bhakti Coal Resources, perusahaan eksplorasi dan produsen tambang batu bara di Sumatera Selatan yang juga merupakan perusahaan induk dari perusahaan-perusahaan pemilik Izin Usaha Pertambangan, seperti PT Putra Muba Coal, PT Bhumi Sriwijaya Perdana Coal, PT Indonesia Batu Prima Energi, PT Arthaco Prima Energi, PT Sumatra Resources, PT Energi Inti Bara Pratama, PT Sriwijaya Energi Persada, PT Titan Prawira Sriwijaya, PT Primaraya Energi, dan PT Putra Mandiri Coal, yang secara keseluruhan memiliki estimasi sumberdaya sebesar 1,75 miliar metrik ton (MT) dan estimasi cadangan sebesar 750 juta MT.

Kedua, PT Nuansacipta Coal Investment, perusahaan eksplorasi dan produsen tambang batu bara di Kalimantan Timur. Ketiga, PT Suma Sarana, perusahaan eksplorasi minyak di wilayah Provinsi Papua.

“Akuisisi ini akan terjadi setelah hasil uji tuntas dan valuasi terhadap PT MNC Energi selesai dijalankan. Dengan asumsi semua proses due diligence berjalan lancar, IATA akan segera meminta restu OJK, dengan target penyelesaian transaksi pada akhir kuartal I-2022,” ucapnya dalam keterangan tertulis, Jumat (15/10).

Rencana transaksi tersebut merupakan langkah strategis bagi Indonesia Transport & Infrastructure untuk memanfaatkan momentum yang timbul dari lonjakan harga komoditas batubara yang berkelanjutan. Perseroan meyakini akuisisi ini tidak hanya akan mendongkrak prospek bisnis, tetapi juga secara signifikan menguatkan nilai perusahaan karena IATA mengubah kepentingan bisnisnya dari sektor transportasi dan infrastruktur ke sektor energi.

Seperti diketahui, Indonesia Transport & Infrastructure adalah perusahaan yang bergerak di bidang bisnis penerbangan komersial dan layanan transportasi udara. Perseroan adalah anak perusahaan dari PT Global Transport Services. Perseroan menyediakan berbagai layanan penerbangan berkualitas, seperti penyewaan pesawat dan helikopter, kargo udara, bengkel dan pemeliharaan, serta layanan terkait lainnya, untuk industri minyak, gas, dan pertambangan di Indonesia dan Asia Tenggara.

Krisis Batu Bara

Di sisi lain, dalam beberapa bulan belakangan ini, harga batu bara Newcastle melonjak hingga menyentuh angka $269,5 per ton pada bulan ini, harga tertinggi sepanjang masa. Harga saat ini berada di level $245 per ton. Kenaikan ini turut mendorong harga batu bara di Indonesia.

Kenaikan permintaan listrik di Tiongkok, larangan informal Beijing atas impor batu bara dari Australia, lonjakan permintaan listrik di India, gangguan pasokan di negara-negara penghasil batubara seperti Australia, Afrika Selatan dan Columbia, dan kenaikan harga gas alam telah memicu kenaikan substansial.

Alhasil, harga batu bara diperkirakan akan tetap tinggi karena pasokan yang terus menyusut. Permintaan di Tiongkok dan bagian lain dunia terus meningkat, bahkan akan meningkat lebih tinggi karena musim dingin yang akan datang sebentar lagi, pembukaan kembali ekonomi pasca pandemi dan banjir di provinsi Shanxi, pusat penambangan batu bara terbesar di Tiongkok.

Menurut data National Bureau of Statistics (NBS) Tiongkok, batubara merupakan sumber energi utama di sana, dengan kontribusi hampir 60% dari total penggunaan energi nasional, yang banyak digunakan untuk pemanasan, pembangkit listrik, dan pembuatan baja. Sementara India telah memerintahkan pembangkit listrik untuk mengimpor 10% batubara untuk campuran, pembalikan tajam dari arahan sebelumnya untuk menggunakan batubara domestik. 

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN