Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Bursa Efek Indonesia (BEI)  di Jakarta.  Foto ilustrasi:  BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Usai Anjlok 2%, Begini Pola Gerak IHSG Sepekan ke Depan

Minggu, 28 November 2021 | 22:20 WIB
Nabil Al Faruq (nabil.alfaruq@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – Indeks harga saham gabungan (IHSG) diprediksi melemah terbatas hingga akhir November, kemudian bisa rebound pada awal Desember. Adapun sentimen yang akan memengaruhi pergerakan indeks, antara lain pengumuman BPS, perkembangan kasus Covid-19 varian baru Omicron, dan pelaksanaan tapering oleh The Fed.

Kepala Riset Praus Capital Alfred Nainggolan mengatakan, pergerakan IHSG akan terkoreksi untuk sementara yang diperkirakan berlangsung sampai akhir November. Kemudian, IHSG berpotensi menghasilkan return positif pada awal Desember berkisar 2-4%. “Bisa technical rebound dengan kisaran pergerakan indeks pada level 6.500-6.700,” kata dia kepada Investor Daily, Minggu (28/11).

Sebelumnya, pada perdagangan Jumat (26/11), IHSG ditutup anjlok 2,06% ke level 6.561,5. Menurut Alfred, munculnya varian baru Omicron membuat uncertainty makin tinggi. Investor tentu akan cenderung defensif dan wait & see berharap varian baru Covid tersebut tidak menyebabkan gelombang baru berikutnya yang lebih parah dari varian Delta.

Dari dalam negeri, tekanannya dinilai masih tidak terlalu besar. Menurut Alfred, pemerintah masih akan bisa mengendalikan Covid di momen libur akhir tahun ini, sehingga optimisme pasar menyambut tahun 2022 bisa terjaga.

Perlu diketahui, IHSG telah beberapa kali menembus all time high dalam kondisi tersebut, diperkirakan potensi upside untuk jangka pendeknya terbatas. Saham-saham dengan valuasi yang premium, lebih dihindari. “Trading difokuskan untuk saham-saham first liner yang masih memiliki valuasi atraktif atau valuasi yang masih murah,” kata dia.

Dalam momentum koreksi IHSG yang diperkirakan sampai akhir bulan ini, investor direkomendasikan untuk mengambil kesempatan melakukan trading terkhusus untuk memanfaatkan kenaikan musiman IHSG pada bulan Desember. “Namun, tetap untuk saham apa yang menjadi pilihan, kami tetap fokuskan ke emiten-emiten first liner yang masih memiliki valuasi dan masih sangat menarik (murah) seperti ASII, UNTR, INDF, dan saham-saham CPO,” ujar Alfred.

Sementara itu, analis teknikal MNC Sekuritas Herditay Wicaksana mengatakan, IHSG dalam sepekan ke depan secara garis besar berpotensi cenderung terkoresi, seiring dengan pergerakan IHSG pekan sebelumnya sudah berada pada akhir penguatannya. “Hal tersebut juga terlihat dari pergerakan MACD yang sudah divergen dan stochastic yang bergerak terkoreksi,” ujar dia.

Herditya memperkirakan, level support IHSG dalam sepekan ke depan akan berada di 6.480 dan level resisten berada di 6.670. Pekan ini investor direkomendasikan untuk menerapkan strategi buy on weakness dengan saham yang bisa diperhatikan adalah PT Itama Ranoraya Tbk (IRRA), PT Saraswanti Anugerah Makmur Tbk (SAMF), dan PT Indika Energy Tbk (INDY).

Secara terpisah, analis Kiwoom Sekuritas Sukarno Alatas juga mengatakan, indikator stochastic IHSG dalam sepekan ke depan berpotensi melemah, diiringi dengan MACD histogram yang bergerak negatif (line bearish) dan volume meningkat. “Jika IHSG bergerak bearish, indeks bisa lanjut turun ke support 6.485- 6.509. Jika IHSG kembali bergerak bullish, ada peluang kembali menguat ke resistance 6.598-6.621,” tutur dia.

Dari internal, sentimen yang akan memengaruhi IHSG adalah rilis data PMI yang diperkirakan kembali meningkat dan data inflasi diprediksi akan kembali meningkat. Dari eksternal, semua mata beralih ke laporan pekerjaan Amerika Serikat (AS) yang akan dirilis Jumat, yang mungkin akan menunjukkan pemulihan lanjutan di pasar tenaga kerja. 

Selanjutnya, Ketua Federal Reserve Powell bersaksi di depan Kongres, sedangkan pertemuan OPEC+ yang sangat dinanti diperkirakan akan menawarkan panduan ke dalam rencana produksi minyak mentah koalisi. “Investor juga menunggu data utama termasuk IMP manufaktur dan jasa di seluruh dunia, angka PDB kuartal III untuk Australia, India, Kanada, Brasil, dan Turki, laporan inflasi Zona Euro, dan output industri dan perdagangan ritel Jepang,” papar Sukarno.

Di lain pihak, Associate Director of Reaserch and Investment Pilarmas Sekuritas Maximilianus Nico Demus mengatakan, IHSG berpotensi untuk bergerak melemah dalam sepekan ke depan dengan tingkat probabilitas 60% dengan rentang 6.480-6.595. Sementara, pelamahan indeks pekan lalu dipengaruhi oleh munculnya varian baru Covid-19, yakni Omicron. “Tentu ini merupakan salah satu varian yang ternyata mengandung lebih banyak mutasi pada meningkatnya protein, sehingga virus corona mampu mengikat sel lebih erat daripada varian Delta,” jelas dia.

Nico menegaskan, investor dapat memperhatikan saham di sektor perbankan, infrastruktur, transportasi, logistik, dan energi pekan ini dengan strategi buy on weakness. Namun, investor perlu berhati-hati karena IHSG sendiri sudah berada di titik yang cukup tinggi saat ini. “Bukan Taper Tantrum ternyata yang membuat pelaku pasar dan investor gentar, namun Omicron, salah satu varian baru dari Covid-19 yang mampu membuat gejolak ketidakpastian bertambah. Apalagi, jika tidak ada tindakan pencegahan, harapan mungkin akan berubah menjadi keputusasaan,” ujarnya.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN