Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
PT Archi Indonesia Tbk (ARCI). Foto: Perseroan.

PT Archi Indonesia Tbk (ARCI). Foto: Perseroan.

Archi Berambisi Jadi Perusahaan Tambang Emas Terbesar di Asia Tenggara

Minggu, 28 November 2021 | 22:46 WIB
Gita Rossiana (gita.rossiana@investor.co.id)

MINAHASA, investor.id – PT Archi Indonesia Tbk (ARCI), unit usaha Grup Rajawali yang dikendalikan Peter Sondakh, berambisi menjadi perusahaan tambang emas terbesar di Asia Tenggara. Hal ini dilakukan dengan meningkatkan kapasitas produksi dan menjadi perusahaan emas yang terintegrasi.

Deputy Chief Executive Officer Archi Indonesia Rudy Suhendra menjelaskan, visi untuk menjadi perusahaan tambang emas terbesar di Asia Tenggara bisa tercapai pada tahun 2025. Sebab pada periode tersebut, Archi bisa meningkatkan kapasitas produksi menjadi 8 juta ton dari 3,9 juta ton.

"Dengan peningkatan kapasitas tersebut, Archi kemungkinan bisa mencapai produksi lebih dari 450 kilo ons atau lebih dari 14 ton emas per tahun. Saat ini, produksi emas Archi sekitar 200-220 ribu ons per tahun," kata dia saat ditemui di sela kunjungan ke tambang emas PT MSM TTN milik Archi Indonesia di Minahasa Utara, Sulawesi Utara, baru-baru ini.

Adapun perusahaan yang memiliki tambang emas terbesar di Asia Tenggara saat ini adalah PT Agincourt Resources, anak usaha PT United Tractors Tbk (UNTR), bagian dari Grup Astra. Agincourt melalui tambang emas Martabe memiliki produksi sekitar 350 ribu ons per tahun. Namun, tambang Martabe dikabarkan tidak akan dilakukan eksplorasi seekspansif Archi saat ini.

Menurut Rudy, peningkatan produksi akan dilakukan dengan memaksimalkan kegiatan eksplorasi dan peningkatan kapasitas pabrik. Hingga Desember 2020, Archi baru melakukan eksplorasi dan penambangan 10% dari total area konsesi sekitar 40 ribu hektare.

Dengan memiliki potensi besar yang belum dimanfaatkan tersebut, Archi berencana mendorong kegiatan eksplorasi tambang dengan menargetkan area proyek Near-Mine, Western Corridor dan Greenfields. Berdasarkan studi yang dilakukan oleh pakar industri Energy and Mineral Technology International, Archi memiliki tambahan cadangan bijih emas baru sebanyak 5,3-13 juta ons.

Dalam rangka menyelaraskan rencana perseroan untuk mendorong aktivitas eksplorasi tambang serta meningkatkan prospek bisnis, Archi juga akan meningkatkan kapasitas pabrik pengolahan bijih emas. "Peningkatan kapasitas produksi akan dilakukan dari 3,9 juta ton pada akhir 2020 hingga menjadi 8 juta ton pada akhir 2025," papar dia.

Tidak hanya meningkatkan kapasitas produksi, perseroan akan menjadi perusahaan tambang emas terintegrasi untuk mendukung visi menjadi perusahaan terbesar di Asia Tenggara. Rudy mengungkapkan, dengan menjadi perusahaan tambang emas terintegrasi, Archi akan melakukan kegiatan produksi emas dari hulu ke hilir. Artinya, perseroan akan melakukan kegiatan eksplorasi, kontraktor penambangan, pabrik pengolahan, dan produk logam emas batangan.

Sejauh ini, Archi baru melakukan kegiatan eksplorasi, kontraktor penambangan, pabrik pengolahan, dan belum melakukan kegiatan pemurnian bijih emas yang masih tercampur dengan perak. Kegiatan pemurnian sejauh ini masih dilakukan oleh PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dan PT Bumi Suksesindo (BSI).

Meski demikian, Archi tengah melakukan study dan assessment untuk membangun pabrik pemurnian (refinery) yang diharapkan kegiatan studi ini bisa rampung pada 2022. "Dari hasil studi ini baru bisa terlihat apakah ekspansi ini feasible untuk dijalankan atau tetap bekerja sama dengan mitra yang ada selama ini," tutur Rudy.

Adapun sebelumnya, Archi menjual produk emasnya ke pasar ekspor. Namun, sejak terjadi perubahan perpajakan pada Juli tahun ini, perseroan mulai menggenjot penjualan ke pasar domestik. Hingga September 2021, penjualan emas Archi ke pasar domestik sekitar 30%.

Untuk mendanai kegiatan ekspansi perusahaan, perseroan akan memanfaatkan kas internal. “Biasanya kami menghabiskan belanja modal sekitar US$ 70-80 juta per tahun. Namun, pada 2021, belanja modal sedikit lebih besar karena ada pembukaan pit baru," ujarnya.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN