Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Bukalapak (BUKA) listing di BEI, Jumat (6/8/2021). Foto: bukalapak

Bukalapak (BUKA) listing di BEI, Jumat (6/8/2021). Foto: bukalapak

Harga Saham BUKA Kembali ARB, Bagaimana Prospek ke Depan?

Selasa, 7 Desember 2021 | 10:20 WIB
Parluhutan Situmorang

JAKARTA, Investor.id - Harga saham PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) kembali dibuka turun hingga auto reject bawa (ARB) dengan pelemahan Rp 30 (6,58%) menjadi Rp 426. Dengan pelemahan tersebut, harga saham BUKA kian jauh meninggalkan harga penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) level Rp 850 per saham.

Bahkan, sepanjan pekan pertama Desember ini saja, harga saham BUKA telah melorot dari level Rp 545 menjadi Rp 426 per saham. Sedangkan jika dihitung awal November 2021, harga saham perseroan telah melorot dari level Rp 695 menjadi Rp 426.

Tidak hanya menunjukkan penurunan harga, pemodal asing juga terlihat melanjutkan aksi jual (net sell) saham peruashaan e-commcerce tersebut dalam beberapa pekan terakhir. Berdasarkan data perdagangan BEI, investor asing melepas saham BUKA hingga Rp 46,60 miliar pada perdagangan sesi I hingga pukul 10.00. Lalu bagaimanakah sebenarnya prospek saham BUKA?

Analis BRI Danareksa Sekuritas Niko Margaronis dalam riset yang diterbitkan awal bulan ini menyebutkan bahwa performa Bukalapak menunjukkan perbaikan hingga September 2021 atau sesuai dengan perkiraan. Hal ini ditunjukkan peningkatan pendapatan menjadi Rp 484 miliar atau bertumbuh 57,6% dari periode sama tahun lalu.

Peningkatan tersebut didukung atas agresifnya pertumbuhan pendapatan Mitra sebesar 322,8% dari Rp 117 miliar menjadi Rp 497 miliar. Sedangkan pendapatan marketplace tumbuh 5,2% dari Rp 742 miliar menjadi Rp 780 miliar hingga September 2021. Sedangkan pendapatan BukaPengadaan menunjukkan penurunan dari Rp 89 miliar menjadi Rp 71 miliar.

Tidak hanya itu, total pembayaran (total processing value/TPV) Bukalapak juga menunjukkan kenaikan sebesar 50,9% dengan pertumbuhan tertinggi dicetak TPV Mitra sekitar 178,8%. Lonjakan tersebut sejalan dengan bertambahnya jumlah Mitra aktif perseoran menjadi 4,1 juta hingga September 2021.

Perseroan juga mencatatkan kontinuitas penurunan rugi EBITDA dari sebelumnya Rp 1,26 triliun menjadi Rp 1,08 triliun. Penurunan tersebut menggambarkan margin EBITDA membaik dari sebelumnya – 134% menjadi – 81%.

Momentum pertumbuan tersebut, ungkap Niko, diproyeksikan berlanjut sejalan dengan upaya perseroan untuk terus pengembangan Mitra melalui SaaS dan QRIS. Perseroan juga telah mengembangkan penjualan produk Mitra akan pemesanan pelanggan bisa berulang ke depan.

“Bukalapak telah menunjukkan kemampaun dalam mengatasi kegagalan pasar, membangun bisnis e-commerce secara berkelanjutan dengan mengoptimalkan O2O, dan mengoptimalkan penggunaan media sosial untuk mendorong penjualan produk Mitra,” ujarnya.

Hal ini mendorong BRI Danareksa Sekuritas untuk mempertahankan peningkatan target pendapatan Bukalapak mencapai Rp 1,89 triliun tahun 2021 dan diharapkan meningkat menjadi Rp 2,71 triliun. Sedangkan rugi bersih perseroan diperkirakan naik menjadi Rp 1,48 triliun tahun ini sebelum kerugian tersebut turun menjadi Rp 825 miliar pada 2022, dibandingkan rugi bersih tahun 2020 Rp 1,34 triliun.

BRI Danareksa Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli saham BUKA dengan target harga dipertahankan level Rp 1.400.

Editor : Parluhutan (parluhutan@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN