Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pengujian untuk mengukur kelayakan bahan bambu sebagai suatu sistem matras guna meningkatkan daya dukung tanah dasar di lokasi konstruksi Jalan Tol Semarang-Demak.

Pengujian untuk mengukur kelayakan bahan bambu sebagai suatu sistem matras guna meningkatkan daya dukung tanah dasar di lokasi konstruksi Jalan Tol Semarang-Demak.

Saham BUMN Konstruksi Berguguran, Bagaimana Prospek ke Depan?

Senin, 17 Januari 2022 | 16:13 WIB
Parluhutan Situmorang

JAKARTA, Investor.id - Seluruh saham emiten BUMN konstruksi anjlok sepanjang hari ini, meskipun secara fundamental bisnis konstruksi cenderung lebih baik tahun 2022, dibandingkan realisasi tahun 2021. Pertumbuhan bisnis konstruksi didukung atas ekspektasi ekonomi lebih baik, seiring terkendalinya kasus Covid-19 di Indonesia.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), saham PT Waskita Karya Tbk (WSKT) turun Rp 40 (6,35%) menjadi Rp 590, PT Adhi Karya Tbk (ADHI) turun Rp 60 (6,74%) menjadi Rp 830, PT PP (Persero) Tbk (PTPP) melemah Rp 70 (7%) menjadi Rp 930, dan PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) anjlok Rp 75 (6,64%) menjadi Rp 1.055.

Penurunan dalam tersebut juga merembet kepada sejumlah anak usaha BUMN konstruksi, seperti PT PP Presisi Tbk (PPRE) turun Rp 6 (3,75%) menjadi Rp 154 dan PT PP Properti Tbk (PPRO) ditutup stagnan di level Rp 56. PT Waskita Beton Precast Tbk (WSBP) ditutup melemah Rp 6 (5,45%) menjadi Rp 104 dan saham PT Wjaya Karya Beton Tbk (WTON) melemah Rp 8 (3,39%) menjadi Rp 228.

Terkait prospeks emiten BUMN konstruksi, analis CIMB Sekuritas Halima Y Syahputra dan Aurelia Barus dalam riset baru-baru ini menyebutkan bahwa perolehan kontrak baru emiten sektor konstruksi masih menghadapi tantangan pada 2022-2023. Sedangkan keputusan pemerintah untuk membangun ibu kota baru mulai tahun 2022 diperkirakan belum bisa mengangkat pamor emiten konstruksi.

Baca juga: Bisnis Konstruksi Pulih, Sejumlah Analis Rekomendasi Beli Saham PTPP

CIMB Sekuritas memperkirakan total kontrak baru emiten konstruksi tahun 2022 hanya mencapai Rp 97 triliun atau hampir sama dengan perkiraan tahun 2021 sebanyak Rp 97 triliun. Kontrak baru tersebut diproyeksikan mulai naik tahun 2023 dengan estimasi Rp 104 triliun.

“Estimasi stagnannya raihan kontrak baru emiten BUMN konstruksi tahun 2022 dipicu atas penurunan anggaran infrastruktur negara mencapai 8%. Hal ini dipengaruhi kebijakan pemerintah untuk mencapai target defisit anggaran tahun 2022-2023 maksimal 3% dari total GDP,” terangnya dalam riset.

Terkait pembangunan ibu kota baru tahun 2022, dia mengatakan, masih menjadi tanda tanya, dari mana sumber dananya? Anggaran yang disiapkan pemerintah untuk proyek tersebut hanya berkisar 7% dari total kebutuhan dana Rp 466 triliun. Sisanya mengandalkan public private partnership (PPP) sebesar 73% dan perusahaan swasta mencapai 20%.

Meski skema pendanaan sudah disusun, menurut dia, belum ada kejelasan pendanaan melalui PPP yang sudah ditandatangani untuk pengembangan ibu kota baru tersebut akibat rendahnya IRR yang ditawarkan proyek tersebut. Begitu juga dengan pendanaan dari perusahaan swasta belum ada yang terlihat hingga kini.

Baca juga: Target Rp 11,96 T Meleset, Rights Issue Waskita (WSKT) Serap Dana Rp 9,44 T

Terkait injeksi dana pemerintah terhadap sejumlah emiten BUMN konstruksi tahun 2021 dan 2022, dia mengatakan, bakal berdampak positif terhadap emiten bersangkutan. Pemerintah telah mengalokasikan dana senilai Rp 7,9 triliun untuk injeksi dana kepada Waskita Karya melalui penerbitan saham baru (rights issue) dengan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) tahun 2021.

“Injeksi dana kepada Waskita Karya tersebut akan berdampak terhadap perbaikan struktur permoalan perusahaan tersebut untuk menuntaskan sejumlah proyek yang sudah dipegang perseroan. Begitu juga dengan Adhi Karya akan memanfaatkannya untuk menuntaskan proyek yang sudah dipegang,” terangnya.

Berbagai faktor tersebut mendorong CIMB Sekuritas untuk memangkas turun rekomendasi saham emiten konstruksi dari neutral menjadi underweight. Kinerja keuangan emiten sektor ini juga diperkirakan hanya bertumbuh pelan tahun ini dan masih membutuhkan waktu untuk pertumbuhan lebih pesat ke depan.

Editor : Parluhutan (parluhutan@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN