Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi batu bara di Australia. ( Foto: AFP )

Ilustrasi batu bara di Australia. ( Foto: AFP )

Sahamnya Masih Layak Dikoleksi, Meski Harga Jual Batubara Cenderung Turun di 2022

Jumat, 21 Januari 2022 | 13:09 WIB
Parluhutan Situmorang

JAKARTA, Investor.id - Kinerja keuangan dan saham emiten batu bara sepanjang tahun ini cenderung melambat akibat tren penurunan harga jual batu bara. Meski demikian, beberapa saham emiten batu bara ini tetap layak untuk dicermati dengan peluang kenaikan harga jual.

Dua faktor utama penekan harga batu bara adalah inventori batu bara Tiongkok kembali ke level normal. Harga juga dipengaruhi atas pulihnya produksi batu bara Indonesia hingga mengungguli level sebelum pandemi Covid-19.

Sinarmas Sekuritas memperkirakan rata-rata harga batu bara dunia akan turun mencapai 19,2% menjadi US$ 102 per ton sepanjang 2022, dibandingkan level tertinggi sepanjang masa mencapai US$ 270 per ton sepanjang 10 bulan tahun 2021.

Analis Sinarmas Sekuritas Axel Leonardo mengatakan, penurunan harga jual batu bara diperkirakan secara bertahap mulai semester I-2022 dipicu melambatnya permintaan batu bara dari Tiongkok. Karena, biasanya permintan batu bara dari negera tersebut turun pada semester I.

Baca juga: Ekspor Batubara Dilarang Sementara, Bagaimana Nasib Sahamnya?

Secara bersamaan, Tiongkok mencatatkan peningkatan inventori batu bara atau kembali pulih dari level terendahnya pada Agustus 2021. Pemulihan didukung atas pemberian kepada 153 perusahaan penambang batu bara bisa berproduksi, sehingga dapat menambah kapasitas produksi sebanyak 220 juta ton batu bara per tahun.

Sedangkan produksi batu bara Indonesia diperkirakan meningkat menjadi sekitar 637-664 juta ton, sehingga terjadi peningkatan dari realisasi, dibandingkan sebelum pandemi mencapai 616 juta ton.

“Berbagai faktor tersebut diharapkan membuat rata-rata harga jual batu bara perseroan tahun ini bisa turun mencapai 19,2% menjadi US$ 105 per ton,” tulisnya dalam riset yang diterbitkan di Jakarta, belum lama ini.

Prospek industri batu bara juga akan dipengaruhi atas kebijakan dunia untuk mengurangi gas buang karbon. Di antaranya, Tiongkok berencana mengurangi gas buang. Namun demikian, batu bara diprediksi tetap menjadi sumber energi utama setidaknya dalam 2-3 thun mendatang.

Hal ini didukung atas transisi ke penggunaan energi terbarukan masih membutuhkan waktu, apalagi Tiongkok masih membutuhkan energi besar untuk menopang ekonomi. Pengembangan energi terbarukan juga masih membutuhkan studi lebih lanjut.

Baca juga: Waspadai Potensi Profit Taking Saham Batubara

Berbagai faktor tersebut mendorong Sinarmas Sekuritas merevisi turun rekomendasi saham sektor batu bara dari overweight menjadi neutral. Sedangkan tiga saham yang direkomendasikan beli adalah PT Bukit Asam Tbk (PTBA), PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG), dan PT United Tractors Tbk (UNTR). Sedangakn saham PT Adaro Energy Tbk (ADRO) dipertahankan netral.

Prospek saham Batubara

 

Rekomendasi

Target harga (Rp)

FY2022/2023F PE

PTBA

buy

3.570

7,7x/9,3x

ITMG

buy

28.800

8,1x/11,4x

UNTR

buy

29.800

10,6x/10,3x

ADRO

neutral

2.400

9,5x/11,4x

Sumber: Sinarmas Sekuritas

 

Editor : Parluhutan (parluhutan@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN