Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Bursa Efek Indonesia (BEI). Foto ilustrasi BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Bursa Efek Indonesia (BEI). Foto ilustrasi BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

IHSG Siap Cetak Rekor Lagi, Saham Ini bakal Jadi Penggerak!

Minggu, 23 Januari 2022 | 19:48 WIB
Muawwan Daelami (muawwan@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – Indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup melonjak 99,5 poin (1,5%) ke level 6.726,3 pada perdagangan Jumat (21/1). IHSG kembali berhasil mengukir rekor penutupan tertinggi sepanjang masa, yang sebelumnya di level 6.723,3 pada November 2021. Sepekan ke depan, IHSG diprediksi bakal mencetak rekor baru lagi, bahkan bisa menembus level tertinggi intraday yang selama ini di posisi 6.754,4.

Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Indonesia Nafan Aji mengatakan, secara teknikal IHSG bergerak beragam, namun pada pola up channel. Level support I dan II berada pada rentang 6.696 dan 6.651, sedangkan level resistance I dan II pada kisaran 6.754 dan 6.817.

“Kuncinya, kalau Senin (24/1) terjadi apresiasi harga, itu menandakan para pelaku pasar masih rajin melakukan pembelian. Tapi kalau terjadi profit taking, pelaku pasar akan bersikap lebih prudent dan itu akan mengurangi harapan terjadinya January effect,” kata Nafan kepada Investor Daily.

Baca juga: Net Buy Tembus Rp 6 T, Asing Getol Beli Saham-saham Ini

Mengenai fenomena January effect, dia memprediksi peluangnya tetap ada. Faktor penopangnya adalah sentimen positif pertumbuhan ekonomi global dan domestik pada 2021, yang diproyeksikan lebih bagus dibanding tahun sebelumnya. Hal itu ditandai dengan adanya kenaikan inflasi di Zona Euro yang mencerminkan pulihnya ekonomi.

Begitu juga dengan pengumuman global manufacturing PMI yang biasanya cenderung ekspansif, sehingga mendorong produktivitas ekspor dan impor. Sentimen-sentimen tersebut bisa menjadi katalis positif bagi January effect.

Baca juga: Mantap! Market Cap BEI Bertambah Rp 102,3 Triliun

“Dengan IHSG yang menguat 1,5% dan net foreign buy yang totalnya hampir Rp 6 triliun, serta proyeksi ekonomi Indonesia pada kuartal IV-2021 yang bisa tumbuh di atas 5%, semestinya bisa diimbangi dengan katalis positif berupa January effect,” ungkapnya.

Meski demikian, pelaku pasar juga mencermati beberapa situasi dan kondisi yang menyebabkan January effect tidak bisa dirasakan, karena diuji beberapa sentimen negatif seperti lonjakan kasus Covid-19 varian Omicron dan kebijakan The Fed yang akan menaikkan suku bunga acuan. Pelaku pasar sedang menantikan pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) yang akan digelar dalam waktu dekat.

“Jadi, saya pikir peluang untuk January effect tetap ada. Probabilitasnya bisa di atas 50% bahkan 60% kalau kita lihat dari faktor positif dan negatifnya,” ucap Nafan.

Baca juga: IHSG Tembus 6.700, Bukti January Effect Terjadi Tahun ini?

Menurut dia, IHSG sepekan ke depan bisa terapresiasi dengan kenaikan harga saham-saham blue chip, seperti ASII, TLKM, BBCA, bank-bank BUMN, INDF, dan JPFA.

Sementara itu, Phintraco Sekuritas memperkirakan IHSG melanjutkan penguatan ke kisaran 6.750-6.770 pada Senin (24/1), setelah mencatatkan resistance breakout di 6.720 pada perdagangan Jumat (21/1). Aksi beli selektif pada saham-saham big cap diperkirakan berlanjut dan kembali menjadi penggerak (mover) IHSG di awal pekan.

“Perhatikan potensi penguatan lanjutan pada ARTO, BBCA, BMRI, CPIN, UNTR, dan TLKM. Pelaku pasar juga dapat memperhatikan potensi rebound lanjutan ANTM, MDKA, UNVR, INDF, dan BBRI," sebut perusahaan efek tersebut.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN