Menu
Sign in
@ Contact
Search
Anthoni Salim. (Foto: Beritasatu Photo/Uthan A Rachim)

Anthoni Salim. (Foto: Beritasatu Photo/Uthan A Rachim)

Banyak Saham Grup Salim yang Lesu, Apa Kabar Anthoni Salim?

Kamis, 3 Februari 2022 | 21:10 WIB
Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Grup Salim adalah salah satu konglomerasi terbesar di Indonesia. Banyak unit bisnis kelompok usaha yang dikendalikan oleh Anthoni Salim tersebut yang melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI). Lantas, bagaimana kinerja saham dari emiten Grup Salim saat ini?

Berdasarkan rekapitulasi selama periode 30 Desember 2020 hingga 3 Februari 2022 atau sekitar 13 bulan, banyak saham emiten Grup Salim yang harganya turun.

Sebut saja, saham PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) yang turun 6,2% menjadi Rp 6.425 dari Rp 6.850 dalam rentang waktu tersebut. Kemudian, saham PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) terpangkas 11,2% menjadi Rp 8.500 dari Rp 9.575.

Baca juga: Entitas Grup Salim Kuasai 6% Saham Allo Bank (BBHI)

Lalu, saham PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) anjlok 10,2% ke Rp 1.235 dari Rp 1.375. PT Indomobil Sukses Internasional Tbk (IMAS) tergerus 49,5% menjadi Rp 765 dari Rp 1.515. PT Indomobil Multi Jasa Tbk (IMJS) melemah 10,2% menjadi Rp 368 dari Rp 410.

Selain itu, saham PT Indoritel Makmur Internasional Tbk (DNET) terkoreksi 8% menjadi Rp 3.220 dari Rp 3.500. PT Nusantara Infrastructure Tbk (META) turun 51,3% menjadi Rp 109 dari Rp 224.

Hanya saham PT Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP) dan PT Bank Ina Perdana Tbk (BINA) yang harganya naik. Selama periode 30 Desember 2020 hingga 3 Februari 2022, SIMP naik 7,1% ke Rp 450 dari Rp 420. Sedangkan BINA melesat 501,4% menjadi Rp 4.150 dari Rp 690.

Baca juga: Lewat Agus Projosasmito, Salim Poles Saham Bumi Minerals (BRMS)?

Sementara itu, Samuel Sekuritas dalam risetnya tetap merekomendasikan beli ICBP dengan target harga Rp 12.000. Alasannya, rekomendasi tersebut berdasarkan pertumbuhan penjualan yang pesat bersamaan dengan penguatan margin keuntungan.

Target harga tersebut juga mempertimbangkan perkiraan peningkatan laba bersih Indofood CBP menjadi Rp 7,47 triliun pada 2022 dibandingkan perkiraan tahun 2021 sebesar Rp 6,69 triliun dan perolehan tahun 2020 senilai Rp 6,58 triliun. Pendapatan juga diperkirakan naik menjadi Rp 61,65 triliun pada 2022 dibandingkan estimasi tahun 2021 sebesar Rp 55,76 triliun dan raihan 2020 senilai Rp 46,64 triliun.

Baca juga: Medco Power, Pacificlight Power dan Salim Group, Ekspor Energi Listrik ke Singapura

Mengenai INDF, sebelumnya CLSA Sekuritas dalam risetnya menyebutkan bahwa hampir seluruh divisi bisnis Indofood Sukses Makmur menunjukkan tren penguatan hingga akhir 2021. Namun, beban bunga anak usaha perseroan, yaitu Indofood CBP, tetap menjadi tantangan.

Menurut CLSA, hanya bisnis tepung terigu yang mencatatkan penurunan margin keuntungan hingga kuartal III-2021. Secara umum, Indofood masih menarik karena memiliki gabungan bisnis mulai dari komoditas hingga pangan. Seluruh divisi tersebut juga tercatat sebagai pemain utama di bisnisnya, sehingga bisa menjadi bantalan bagi kinerja perseroan.

CLSA Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli INDF dengan target harga Rp 8.600. Target harga tersebut mengimplikasikan perkiraan PE tahun 2022 sekitar 10,2 kali.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com