Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Memahami perbedaan discretionary fund dan reksa dana.

Memahami perbedaan discretionary fund dan reksa dana.

Industri Reksa Dana Masih Diproyeksikan Tumbuh Tahun Ini

Rabu, 23 Maret 2022 | 04:15 WIB
Nabil Alfaruq (nabil.alfaruq@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id — Industri reksa dana diproyeksikan mengalami pertumbuhan pada tahun ini seiring dengan pemulihan ekonomi yang kian membaik. Ekonomi Tanah Air sempat mengalami perlambatan pada tahun sebelumnya akibat dampak dari pandemi Covid-19.

President Director Sucorinvest Asset Management Jemmy Paul Wawointana mengatakan, pihaknya optimis terhadap pertumbuhan industri reksa dana pada tahun 2022 seiring dengan antusiasime investor Indonesia yang semakin besar terutama ritel. Optimisme ini juga didukung oleh produk domestik bruto (gross domestic bruto/GDP) Tanah Air yang diperkirakan semakin tinggi seiring dengan siklus komoditas yang terjadi akhir-akhir ini.

Advertisement

Baca juga: 51 Reksa Dana Raih Penghargaan Best Mutual Fund Award 2022

“Dengan adanya sentimen tersebut, kami berharap dapat menambah jumlah investor dan dana kelolaan Manajer Investasi (MI) dalam negeri kedepannya,” ujar Jemmy dalam Awarding Best Mutual Fund 2022 yang diselenggarakan oleh Majalah Investor dan Infovesta, Selasa (22/3).

Meskipun industri reksa dana kian bertumbuh, Jemmy menilai bahwa masih kurangnya pengertian terhadap produk reksa dana. Kedepan, investor diharapkan bisa mengikuti atau mendalami berbagai edukasi yang dilakukan oleh MI di Indonesia, sebab hal ini penting untuk menentukan tujuan investasi.

Direktur Utama Trimegah Asset Management Anthony Dirga melanjutkan, tantangan di industri reksa dana Indonesia cukup banyak, meskipun pertumbuhan jumlah investor sangat baik, dimana sampai saat ini sudah mencapai 7,5 juta, tapi pertumbuhan dana kelolaan (asset under management/AUM) dan unit penyertaan belum begitu tinggi.

Baca juga: Mirae Sekuritas Bidik AUA Reksa Dana Melonjak 200% Lewat Strategi Ini..

“Salah satu tantangan industri reksa dana adalah jangka waktu investor berinvestasi di produk ini, baik jangka pendek maupun jangka panjang. Secara garis besar, negara kita membutuhkan perkembangan yang lebih lanjut lagi,” ujar dia.

Menurut hasil riset Trimegah Asset Management, Indonesia perlu mencapai GDP per kapita sekitar US$ 5.000. Saat ini Indonesia masih dikisaran US$ 4.100 - US$ 4.200. Sehingga membuthkan 4-5 tahun lagi untuk mencapai posisi US$ 5.000, dan akhirnya industri reksa dana Tanah Air bisa tumbuh secara eksplonansial.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Infovesta Utama Parto Kawito menyampaikan, AUM total industri reksa dana (di luar jenis pernyataan terbatas dan USD) tumbuh tipis sepanjang 2021 sebesar 0,03% menjadi Rp 553,60 triliun dimana kenaikan ini ditopang oleh AUM dari reksa dana pasar uang dan pendapatan tetap.

Baca juga: 8 Isu Ini Perlu Dicermati agar Reksa Dana Terus Bertumbuh Sehat

“Pasar uang dan pendapatan tetap pertumbuhannya cukup tinggi seiring juga dengan return nya. Sementara efek bersifat ekuitas itu tumbuh nya negatif,” ujar dia.

Sebagai informasi, Majalah Investor dan Infovesta menyelenggarakan Awarding Best Mutual Fund 2022. Parto menyampaikan, metode pemeringkataan dalam penghargaan kali ini sedikit berbeda. “Penghargaan kali ini mengambil fokus pada Infovesta 90, artinya 5% teratas dan 5% terbawah kita hilangkan,” ujar dia.

Untuk pemeringakatan reksa dana, dilakukan berdasarkan kinerja historis, seperti 1,3,5,10 tahun terakhir untuk reksa dana. Hal ini tujuannya untuk memberikan informasi bagi calon nasabah, sebagai salah satu pertimbangan dalam memiliki reksadana yang sesuai dengan profil resiko nya.

Baca juga: Dana Kelolaan Reksa Dana Berbasis ESG Capai Rp 3,5 triliun

Untuk jenis reksa dana yang diperingkat adalah saham, campuran, pendapatan tetap, pendapatan tetap USD, pasar uang dan ETF pasif & indeks. Untuk periode nya 1,3,5 hingga 10 tahun. Untuk 10 tahun khusus untuk reksa dana saham, karena populasinya sudah cukup banyak.

Sementara AUM, dibagi menjadi 4 kelas, yakni Rp 10-100 miliar, Rp 100-500 miliar, Rp 500 miliar - Rp 1 triliun dan di atas Rp 1 triliun. Selanjutnya untuk profil resiko, khusus untuk reksadana campuran, di bagi menjadi 3 kelas, ada konservatif, moderat dan agresif.

Parto menambahkan, kiriteria penilaian terdapa sedikit perubahan dibanding tahun lalu, untuk kategori pasar uang, pendapatan tetap (IDR & USD), campuran, saham, ETF dan Indeks yang dikelola secara aktif, bobotnya untuk annual growth 30%, risk adjusted return (modified sharpe ratio) 40%, downside risk 10% dan UP Growth 20%. Sementara untuk ETF dan indeks yang dikelola secara pasif, bobotnya untuk tracking error di 70% dan UP Growth di 30%.

Editor : Indah Handayani (indah.handayani26@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN