Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
ilustrasi minyak 
Sumber: Antara

ilustrasi minyak Sumber: Antara

Minyak Stabil di Tengah Kekhawatiran Perlambatan Permintaan Tiongkok

Senin, 18 April 2022 | 16:06 WIB
Indah Handayani (handayani@investor.co.id)

TOKYO, investor.id - Harga minyak stabil di sesi Asia pada Senin sore, karena kekhawatiran atas permintaan yang melambat di Tiongkok mendorong investor untuk mengambil keuntungan dari kenaikan yang dibuat hari sebelumnya di tengah kekhawatiran atas pasokan yang ketat dan krisis Ukraina yang semakin dalam.

Minyak mentah berjangka Brent menguat 27 sen atau 0,2%, menjadi diperdagangkan di US$ 111,97 per barel pada pukul 06.42 GMT, meluncur dari tertinggi sejak 30 Maret di US$ 113,80 per barel yang dicapai di awal sesi.

Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS naik 20 sen atau 0,2%, menjadi diperdagangkan di US$ 107,15per barel, setelah naik setinggi US$ 108,55, tertinggi sejak 30 Maret.

Baca juga:Harga Minyak Naik di Tengah Kekhawatiran Pasokan

Ekonomi Tiongkok melambat pada Maret karena konsumsi, real estat dan ekspor terpukul keras, menghilangkan angka pertumbuhan kuartal pertama yang lebih cepat dari perkiraan dan memperburuk prospek yang sudah melemah oleh pembatasan Covid-19 dan perang Ukraina.

Negara ini menyuling minyak 2,0 % lebih sedikit pada Maret dari setahun sebelumnya, dengan keluaran (throughput) turun ke level terendah sejak Oktober karena lonjakan harga minyak mentah menekan margin dan penguncian yang ketat mengurangi konsumsi bahan bakar.

"Beberapa investor Asia membukukan keuntungan karena mereka menjadi khawatir tentang melambatnya permintaan di Tiongkok," kata Satoru Yoshida, seorang analis komoditas di Rakuten Securities dikutip dari Antara, Senin (18/4/2022).

Baca juga: Minyak Naik saat UE Kemungkinan Secara Bertahap Larang Impor Minyak Rusia

Kamis (14/4/2022) lalu, sehari sebelum liburan akhir pekan Paskah, baik Brent dan WTI naik lebih dari 2,5 % di tengah berita bahwa Uni Eropa mungkin secara bertahap melarang impor minyak Rusia.

Pemerintah Uni Eropa mengatakan pekan lalu bahwa eksekutif blok itu sedang menyusun proposal untuk melarang minyak mentah Rusia, tetapi para diplomat mengatakan Jerman tidak secara aktif mendukung embargo langsung.

Komentar itu muncul sebelum ketegangan meningkat dalam krisis Ukraina, dengan pihak berwenang melaporkan beberapa ledakan di Ukraina barat dan selatan pada Senin ketika pasukan Rusia mengklaim hampir menguasai penuh kota pelabuhan strategis selatan Mariupol setelah hampir dua bulan pertempuran berdarah.

"Perang yang berkelanjutan antara Rusia dan Ukraina tanpa tanda-tanda gencatan senjata memicu kekhawatiran pasokan, terutama karena permintaan diperkirakan akan meningkat saat musim mengemudi mendekat di belahan bumi utara," kata Chiyoki Chen, kepala analis di Sunward Trading.

Baca juga: Minyak Menguat Didukung Gangguan Pasokan Libya Serta Eskalasi Konflik Ukraina

Badan Energi Internasional telah memperingatkan bahwa sekitar 3 juta barel per hari (bph) minyak Rusia dapat ditutup mulai Mei dan seterusnya karena sanksi, atau pembeli secara sukarela menghindari kargo Rusia.

Produksi minyak Rusia terus merosot pada April, turun 7,5% pada paruh pertama Maret, kantor berita Interfax melaporkan pada Jumat (15/4/2022).

Menambah tekanan, Libya menghentikan produksi minyak dari ladang minyak El Feel pada Minggu (17/4/2022) dan dua sumber di pelabuhan minyak Zueitina mengatakan ekspor di sana telah ditangguhkan setelah pengunjuk rasa yang menyerukan Perdana Menteri Abdulhamid al-Dbeibah yang berbasis di Tripoli untuk mengundurkan diri mengambil alih situs tersebut.

Namun demikian, perkiraan produksi minyak AS sedang direvisi naik meskipun ada kendala tenaga kerja dan rantai pasokan, karena harga yang lebih tinggi memacu lebih banyak pengeboran dan kegiatan penyelesaian sumur, menurut pakar industri.

Editor : Indah Handayani (indah.handayani26@gmail.com)

Sumber : ANTARA

BAGIKAN