Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
ilustrasi harga minyak. Sumber: Antara

ilustrasi harga minyak. Sumber: Antara

Minyak Anjlok 5% Setelah IMF Pangkas Prospek Pertumbuhan Ekonomi

Rabu, 20 April 2022 | 05:59 WIB
Indah Handayani (handayani@investor.co.id)

HOUSTON, investor.id - Harga minyak anjlok sekitar 5 % pada akhir perdagangan yang fluktuatif, Selasa (Rabu pagi WIB). Di tengah kekhawatiran permintaan setelah Dana Moneter Internasional (IMF) memangkas perkiraan pertumbuhan ekonomi dan memperingatkan inflasi yang lebih tinggi.

Minyak mentah berjangka Brent, patokan global untuk pengiriman pada bulan Juni, terpuruk US$ 5,91 atau 5,22%, menjadi menetap di US$ 107,25 per barel. Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman Mei jatuh US$ 5,65 atau 5,22 %, menjadi ditutup di US$ 102,56 per barel.

Harga minyak merosot meskipun produksi OPEC+ lebih rendah, yang menghasilkan 1,45 juta barel per hari (bph) di bawah targetnya pada Maret, karena produksi Rusia mulai menurun menyusul sanksi yang dikenakan oleh Barat atas invasinya ke Ukraina, menurut laporan dari aliansi produsen yang dilihat oleh Reuters.

Baca juga:Menteri Prancis: Embargo UE untuk Minyak Rusia Sedang Dikerjakan

Rusia memproduksi sekitar 300 ribu barel per hari di bawah targetnya pada bulan Maret sebesar 10,01 juta barel per hari, berdasarkan sumber sekunder, laporan tersebut menunjukkan.

OPEC+, yang mengelompokkan OPEC dan sekutunya yang dipimpin oleh Rusia, bulan lalu menyetujui peningkatan produksi minyak bulanan sebesar 432 ribu barel per hari pada bulan Mei, menolak tekanan oleh konsumen utama untuk memompa minyak lebih banyak.

IMF menurunkan perkiraannya untuk pertumbuhan ekonomi global hampir satu poin persentase penuh, mengutip invasi Rusia, dan mengatakan bahwa inflasi sekarang menjadi ‘jelas dan menghadirkan bahaya’ bagi banyak negara.

Prospek bearish menambah tekanan harga dari perdagangan dolar pada level tertinggi dua tahun. Greenback yang lebih kuat membuat komoditas-komoditas yang dihargai dalam dolar lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya, yang dapat mengurangi permintaan.

Baca juga:Sejumlah Katalis Positif Dukung Minyak Melaju Bullish

Presiden Bank Federal Reserve Chicago, Charles Evans pada hari Selasa (19/4/2022) mengatakan The Fed dapat menaikkan kisaran target kebijakan suku bunganya menjadi 2,25 % hingga 2,5 % pada akhir tahun, tetapi jika inflasi tetap tinggi kemungkinan akan perlu menaikkan suku bunga lebih lanjut.

Sementara itu, Presiden Bank Federal Reserve St. Louis James Bullard mengatakan bahwa pada hari Senin (18/4/2022) bahwa inflasi AS ‘terlalu tinggi’ ketika dia mengulangi pernyataannya untuk meningkatkan suku bunga menjadi 3,5 % pada akhir tahun guna memperlambat apa yang sekarang menjadi angka inflasi tertinggi 40 tahun.

Perkiraan pertumbuhan IMF yang lebih rendah, bersama dengan Cadangan Minyak Strategis yang melaporkan bahwa stok darurat turun 4,7 juta barel pada hari Senin (18/4). "Menyebabkan beberapa kegelisahan," kata Phil Flynn, analis di Price Futures Group dikutip dari Antara, Rabu (20/4/2022).

Baca juga:Minyak Naik Karena Pemadaman Libya Menambah Kekhawatiran Pasokan Rusia

Kekhawatiran atas pertumbuhan permintaan sudah menjadi fokus setelah jajak pendapat pendahuluan Reuters pada hari Senin (18/4/2022) menunjukkan persediaan minyak mentah AS cenderung meningkat minggu lalu.

Ekonomi Tiongkok melambat pada bulan Maret, memperburuk prospek yang sudah melemah oleh pembatasan Covid-19 dan konflik di Ukraina.

Permintaan bahan bakar di Tiongkok, importir minyak terbesar di dunia, dapat mulai meningkat karena pabrik-pabrik bersiap untuk dibuka kembali di Shanghai.

Baca juga: Minyak Stabil di Tengah Kekhawatiran Perlambatan Permintaan Tiongkok

Penurunan harga pada hari Selasa (19/4/2022) mengikuti kenaikan lebih dari 1% pada hari Senin (18/4) ketika harga minyak mencapai level tertinggi sejak 28 Maret karena gangguan pasokan minyak Libya.

National Oil Corp (NOC) Libya pada hari Senin (18/4/2022) memperingatkan ‘gelombang penutupan yang menyakitkan’ dan menyatakan force majeure pada beberapa produksi dan ekspor ketika pasukan di timur memperluas blokade mereka terhadap sektor tersebut karena kebuntuan politik. NOC pada hari Selasa (19/4/2022) menyatakan force majeure di pelabuhan minyak Brega.

Perdana Menteri Inggris Boris Johnson pada pembicaraan telepon dengan para pemimpin Barat pada hari Selasa (19/4/2022) menggarisbawahi perlunya meningkatkan tekanan pada Rusia dengan lebih banyak sanksi dan isolasi diplomatik.

Kemungkinan larangan Uni Eropa terhadap minyak Rusia terus membuat pasar gelisah. Menteri Keuangan Prancis Bruno Le Maire pada hari Selasa (19/4/2022) mengatakan bahwa embargo di tingkat Uni Eropa sedang dikerjakan.

Editor : Indah Handayani (indah.handayani26@gmail.com)

Sumber : ANTARA

BAGIKAN