Menu
Sign in
@ Contact
Search
Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta. (BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal)

Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta. (BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal)

Blue Chip Rawan Profit Taking, Saham Defensif Ini Bisa Jadi Pilihan

Jumat, 22 April 2022 | 08:08 WIB
Mashud Toarik (mashud_toarik@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mencetak rekor tertinggi baru ke level 7.276,19 pada penutupan perdagangan Kamis kemarin, (21/4/2022). Posisi ini dicapai setelah IHSG mengalami penguatan sebanyak 48,83% (0,68%) dari penutupan perdagangan sehari sebelumnya.

Euforia pasar saham telah berlangsung cukup panjang, bahkan sejak akhir tahun lalu. Untuk itu, setelah berkali-kali menembus all-time high baru, analis menilai sudah saatnya investor melakukan aksi profit taking.

Kepala Riset PT Resawara Gian Investa, Kiswoyo Adi Joe memperkirakan aksi profit taking akan marak terjadi jelang cuti bersama Lebaran. Pasalnya mereka dinilai lebih nyaman memegang posisi cash saat kondisi pasar saham dalam negeri sedang libur, terlebih ada peluang bank sentral Amerika Serikat menaikan suku bunga di saat pasar libur.

“Investor besar khawatir tahu-tahu The Fed menaikan suku bunga agresif saat bursa dalam negeri libur,” ujarnya, Kamis (22/4/2022).

Untuk itu Kiswoyo mengingatkan investor ritel untuk tidak agresif melakukan akumulasi sebelum cuti bersama Lebaran, terutama pada saham-saham blue chip penggerak pasar yang dinilainya sudah mengalami kenaikan agresif.

“Kami ingatkan hari Senin pekan depan (25/4/2022) itu perdagangan saham terakhir yang uangnya masuk sebelum libur Lebaran, kalau jualnya tanggal 26-27 April, nanti uangnya masuk ke rekening bank sesudah libur Lebaran,” ujarnya.

Aksi profit taking dinilai akan membuat pergerakan IHSG mengalami konsolidasi, momentumnya diperkirakan dia mulai berlangsung setelah tanggal 25 April hingga Mei. Pada periode konsolidasi tersebut IHSG diprediksi bisa melorot hingga level 7.000, bahkan 6.500.

“Batas koreksi IHSG di angka 7.000, itu level psikologis dan itu bahkan masih bisa turun ke level 6.500. Saya yakin (terjadi) karena IHSG sempat sideways di area 6.500,” imbuhnya.

Meski begitu ruang akumulasi tetap terbuka, sebab menurutnya peluang masih terbuka pada saham-saham sektor defensif. Namun pilihan ini disarankan bagi investor dengan horizon jangka panjang. “Saham-saham defensif yang bisa jadi pilihan diantaranya INDF, JSMR, TAPG. Sementara untuk jangka lebih panjanng sudah bisa dilirik saham-saham properti seperti BSDE dan SSIA,” ujarnya.    

Kiswoyo menyebut hingga Mei 2022, saham INDF berpotensi mencapai level 6.500-7.000, saham JSMR ditargetkan Rp 4.000-4.500, lalu TAPG pada level Rp 750-800. Sementara untuk jangka panjang saham BSDE ditargetkan Rp 1.500.


 

Editor : Mashud Toarik (mashud_toarik@investor.co.id)

Sumber : Majalah Investor

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com