Menu
Sign in
@ Contact
Search
Layar elektronik yang menampilkan pergerakan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta.  Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Layar elektronik yang menampilkan pergerakan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Net Buy Asing Tembus Rp 50 Triliun, Lampaui Sepanjang 2021

Selasa, 26 April 2022 | 06:00 WIB
Indah Handayani (handayani@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Dalam kurun waktu kurang dari empat bulan selama 2022, beli bersih (net buy) saham oleh investor asing di Bursa Efek Indonesia (BEI) sudah mencapai Rp 50,28 triliun. Angka itu bahkan telah melampui net buy tahun lalu. Sebab, sepanjang 2021, asing membukukan net buy saham sebesar Rp 38 triliun.

Derasnya aliran dana asing ke bursa saham Indonesia terjadi seiring dengan peningkatan risiko ketidakpastian global. Hal itu mendorong capital inflow ke pasar saham negara berkembang yang memiliki pertumbuhan dan inflasi terjaga, salah satunya Indonesia.

Direktur PT Anugerah Mega Investama Hans Kwee menjelaskan, sejak 24 Februari 2022 atau saat perang terjadi, terlihat lonjakan harga komoditas global. Saat ini, ditambah lagi sanksi-sanksi Eropa dan Barat terhadap Rusia. Misalnya saja, larangan pembelian batubara dari Rusia yang membuat aliran dana akan bergerak ke Indonesia. Sehingga harga batu bara bergerak naik lagi. Selain itu, karena komoditas, rata-rata negara penghasil komoditas mengalami masuknya aliran dana dan menguat, seperti Brasil, Afrika Selatan dan termasuk Indonesia.

Baca juga: Perdana Tercatat di BEI, Saham Indo Boga (IBOS) Mentok Naik 10%

“Golman Sachs dan JP Morgan bahkan menyebut negara yang paling bagus di Asia Tenggara adalah Indonesia dipicu oleh komoditas yang tinggi. Itu baru didukung oleh faktor global yang mempengaruhi kita. Belum dari dalam negeri,” ungkap Hans Kwee.

Menurut Hans Kwee, dari dalam negeri datang dari data surplus perdagangan Indonesia berturut-turut mengalami kenaikan yang ditopang oleh komoditas. Hal ini bukan hanya disebabkan invasi Rusia-Ukraina tapi juga ganguan pasokan yang terjadi. Kemudian, pembukaan ekonomi menambah permintaan global meningkat sehingga harga komoditas meningkat. Tidak hanya itu, penanganan Covid-19 dalam negeri juga sudah bagus. Alhasil, perekonomian tidak terlalu terpukul walaupun varian-varian baru mewabah.

Ditambah lagi, lanjut dia, kebijakan pemerintah yang melakukan kebijakan tax amnesti. Itu bagus yang disampaikan oleh masyarakat terhadap ini. Ditambah lagi, upaya tax amnesti ini merupakan solusi bagi pemerintah untuk mengembalikan defisit anggaran yang melebar selama pandemi. “Dengan demikian, pasar merespon hal ini dengan cukup positif. Aliran dana asing pun masuk ke pasar modal kita. Sehingga menyebabkan IHSG berkinerja bagus di awal 2022,” tambah Hans Kwee.

Baca juga: Catat! Masih Ada 35 Perusahaan Lagi bakal Melantai di BEI Tahun Ini

Hans Kwee memperkirakan konflik mungkin akan masih terjadi dan harga komoditas tetap tinggi. Hal ini mengingat perundingan damai antara Rusia dan Ukraina belum menemui kesepakatan. Rusia masih melakukan berbagai upaya-upaya kepada Ukraina agar kedua wilayah, yaitu Donetsk dan Luhansk, merdeka. Di satu sisi, langkah pemimpin Ukraina yang nampaknya kurang berpengalaman dalam politik agak membuat semakin sulit.

“Sanksi bagi Rusia masih cenderung menguntungkan bagi Indonesia. Tapi ya tentu, IHSG kita sudah cukup rawan profit taking,” lanjut dia.

Hans Kwee menambahkan, sampai kapan kelanjutan capital inflow ke Indonesia masih belum bisa ditentukan. Hal ini tergantung dari kapan berakhirnya perang antara Rusia dan Ukraina ini. Sebenarnya, Rusia tidak terlalu berambisi menduduki Ukraina, hanya keberatan upaya Ukraina untuk bergabung dengan NATO. Hal ini karena keamanan Rusia merasa terganggu jadi membuat mereka bergarak. Namun, hal ini diperkirakan akan segara berakhir tidak lama lagi.

Baca juga: BEI: ESG Jadi Pertimbangan Investor Memilih Emiten

“Jika ini terjadi, tentu kita harus hati-hati kemungkinan dana akan keluar dari pasar kita,” jelasnya.

Tidak hanya itu, Hans Kwee menambahkan pasar juga akan cenderung hati-hati di masa-masa mendatang. Menyusul keputusan The Fed yang akan menaikan suku bunga secara agresif. Hal ini akan memberikan tekanan pada negara emerging market. Kemudian ada rencana realisasi The Fed yang mengurangi kepemilikan aset sebesar US$ 95 miliar mulai bulan depan.

"Biasanya aksi ini akan berpengaruh pada nilai tukar mata uang di negara-negara emerging market. Apabila hal ini terjadi secara agresif, aliran dana asing yang keluar menunjukan akan ada tekanan di pasar, termasuk di komoditas," tutupnya. 

Editor : Indah Handayani (indah.handayani26@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com