Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk mencatatkan saham perdananya pada Senin (11/4/2022). Foto: Ist

PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk mencatatkan saham perdananya pada Senin (11/4/2022). Foto: Ist

Saham GOTO Bergejolak, Telkom: Bukan Soal Harga Saham Tapi Kolaborasi Dukung Ekonomi Digital Nasional

Minggu, 15 Mei 2022 | 09:13 WIB
Mashud Toarik (mashud_toarik@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id - Kebijakan Bank Sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin (bps) atau 0,50% membuat indeks seluruh saham global mengalami tekanan jual.

Investor berbondong-bondong melepaskan sahamnya dan beralih mengkonversi uangnya ke dolar Amerika. Sementara saham yang banyak dilepas oleh investor saat ini adalah emiten di perusahaan teknologi.

Bahkan Softbank melalui investasinya Vision Fund mencatatkan kerugian rekor kerugian US$ 27 miliar atau Rp 395 triliun akibat penurunan harga saham, efek dari kebijakan The Fed yang menaikkan suku bunga acuannya pekan lalu. Sahamnya pun ditutup anjlok 11 % jika dibandingkan harga saham bulan lalu.

Saham perusahaan teknologi di Indonesia juga mengalami nasib yang mirip dengan investasi yang dilakukan oleh Sooftbank. Emiten bank digital seperti Bank Jago (ARTO) dan market place seperti BukaLapak (BUKA) dan Gojek Tokopedia (GOTO) mengalami koreksi yang cukup dalam.

Meski mengalami koreksi, Senior Vice President, Corporate Communication & Investor Relation Telkom Ahmad Reza meyakini prospek industri digital di Indonesia masih cukup menjanjikan. Dengan penetrasi masyarakat akan layanan digital yang masih rendah, membuat potensi industri digital di Indonesia berpotensi untuk terus meningkat.

Terkait dengan investasi Telkomsel di GOTO, Reza menyampaikan bahwa dinamika harga sangat mungkin terjadi di pasar saham. Harga saham bisa turun dalam namun bisa juga melonjak cukup tinggi. Sesuai dengan kondisi pasar baik itu global maupun regional. Naiknya turunnya harga saham ini dipercaya akan membuat potensi capital gain ataupun capital lost.

"Dinamika harga saham merupakan suatu yang lazim terjadi. Seperti misalnya tahun lalu, kami mencatatkan unrealized gain atas investasi GoTo sebesar Rp 2,5 triliun. Namun kini bisa terjadi unrealized loss,” papar Reza dalam keterangan pers yang diterima redaksi, Minggu (15/5/2022).

Lanjut Reza, ketika Telkom Group mengambil keputusan untuk berinvestasi di suatu perusahaan, tidak semata-mata hanya mempertimbangkan aspek capital gain/loss. Tetapi juga mempertimbangkan aspek yang lebih besar luas lagi. Seperti sinergi dalam upaya membangun ekosistem digital nasional yang lebih besar. Salahsatunya melalui investasi Telkom Group di GOTO.

Dengan investasi Telkom Group di GOTO akan menciptakan kolaborasi dan sinergi yang sangat bagus seperi menghadirkan program khusus untuk Mitra Gojek serta easy onboarding merchant Mitra Gojek menjadi reseller Telkomsel, akses mudah untuk reseller melalui GoShop, dan fitur keamaman seperti number masking.

“Merger Gojek-Tokopedia semakin memperkuat investasi Telkomsel di Gojek untuk menjadi solusi digital yang lengkap dengan nilai sinergi value yang cukup tinggi. Telkomsel juga memberikan solusi kepada pengemudi dan merchant Gojek untuk meningkatkan engagement melalui penggunaan layanan digital connectivity dan platform advertising Telkomsel. Sehingga dengan adanya program sinergi ini, kami berharap akan tercipta nilai tambah (value creation) yang berkelanjutan baik bagi Telkom, GoTo dan Indonesia di masa depan” jelasnya

Pada kuartal 1-2022, Reza menjelaskan kinerja keuangan dan operasional Telkom cukup solid. Ini tercermin dari ulasan para analis pasar modal yang positif terhadap kinerja Telkom Group. Ke depan, Telkom percaya hasil ini semakin baik terutama dengan transformasi yang dilakukan Telkom yaitu strategi 5 bold moves.

"Telkom akan terus mempertahankan kinerja keuangannya. Berbagai strategi disiapkan Telkom seperti fokus pada penciptaan mesin pertumbuhan revenue baru termasuk pada segmen non-mobile. Seperti pengembangan data center dan cloud business, B2B IT service, inisiatif fixed mobile convergence dan pengembangan DigiCo digital service secara selektif," pungkas Reza.

Editor : Mashud Toarik (mashud_toarik@investor.co.id)

Sumber : Majalah Investor

BAGIKAN