Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Peternakan ayam Japfa Comfeed. Foto: DEFRIZAL

Peternakan ayam Japfa Comfeed. Foto: DEFRIZAL

Saham Emiten Peternakan Unggas Dilema Harga Jual dan Inflasi

Minggu, 22 Mei 2022 | 15:09 WIB
Parluhutan Situmorang (redaksi@investor.id)

JAKARTA, Investor.id – Kenaikan harga dagaing ayam akhirnya berhenti, bahkan cenderung turun setelah Lebaran tahun ini. Sedangkan harga bahan baku pakan ternak cenderung menunjukkan peningkatan. Di sisi lain program pemusnahan induk ayam (culling program) akan sedikit tahun ini akibat tren kenaikan inflasi.

Analis Mirae Asset Sekuritas Emma A Fauni mengatakan, rata-rata harga jual daging ayam sempat naik 8,3% menjadi Rp 21.600 per kilogram (kg) pada April, sejalan penurunan kasus harian Covid-19 dan mejelang Lebaran. Sebaliknya harga jual anak ayam usia sehari (DOC) turun mencapai 44,7% menjadi Rp 3.900 per ekor, dibandingkan periode sama tahun lalu.

Baca juga: Emiten Sektor Perunggasan Masih Dipenuhi Tantangan, Begini Prospek Sahamnya

Penurunan harga DOC dipengaruhi atas belum adanya tanda-tanda perpanjangan program pemusnahan anak ayam (culling program). Berdasarkan data culling program terakhir pemerintah dilaksanakan pada Maret 2022.

Namun memasuki Mei 2022, harga jual daging ayam mulai turun menjadi Rp 21.200 per kg atau melemah 2,6% dari April 2022. Penurunan terdalam terjadi di Jawa Barat mencapai 7,4%.

Penurunan harga jual ayam, menurut Emma, menjadi dilema bagi pemerintah, yaitu mendorong kenaikan harga jual daging ayam guna menguntungkan petani atau membiarkan harga jual daging ayam turun untuk meredam kenaikan inflasi. Besar kemungkinan pemerintah fokus mengendalikan inflasi dan menjaga daya beli masyarakat di tengah musim kenaikan tingkat suku bunga.

Oleh karena itu, dia mengatakan, culling program tahun ini diprediksi akan lebih sedikit, dibandingkan realisasi dalam dua tahun terakhir, meskipun harga jual daging ayam cenderung turun.

“Kami tidak menduga ada intervensi cepat pemerintah untuk mengerem penurunan harga daging ayam setelah program terakhir dilaksanakan Maret 2022,” terangnya dalam riset.

Baca juga: Target Harga Saham Fantastis, Se-prospektif Apa WIR Asia (WIRG)?

Terkait harga jual bahan baku pakan ternak, seperti jagung, dia mengatakan, masih terkendali setelah ada musim panen pertengahan Maret 2022. Hanya saja, kondisi tersebut diprediksi tidak berlanjut pada awal kuartal II-2022. Tekanan kenaikan harga jagung akan merembet terhadap margin keuntungan produsen pakan ternak pada kuartal II tahun ini.

Berbagai faktor tersebut mendorong Mirae Asset Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi netral saham peternakan dan pakan ternak ayam. Diproyeksikan keuntungan emiten ini terbatas tahun ini dari divisi penjualan ayam pedaing dan DOC, seiring dengan kenaikan harga pakan ternak.

Kondiis tersebut mendorong Mirae Asset Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi beli saham PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) dengan target harga Rp 2.000 dan PT Widodo Makmur Unggas Tbk (WMUU) Rp 240. Sedangkan rekomendasi trading buy disematkan pada saham PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) dengan target harga Rp 5.700 dan PT Malindo Feedmill Tbk (MAIN) dengan target harga Rp 680.

Editor : Parluhutan (parluhutan@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN