Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Kripto. (Pixabay)

Kripto. (Pixabay)

Bitcoin Cs Berhasil Bangkit saat The Fed Naikkan Suku Bunga 75 Bps

Kamis, 16 Juni 2022 | 08:36 WIB
Lona Olavia (redaksi@investor.id)

JAKARTA, investor.id - Pasar kripto nampak mayoritas berbalik cerah pada Kamis (16/6/2022) pagi ini. Seperti yang telah diproyeksikan pelaku pasar sebelumnya, Bank Sentral AS The Fed, Rabu (15/6/2022) waktu setempat, akhirnya menaikkan suku bunga acuan sebesar 75 basis poin, namun Bitcoin Cs sejenak berfluktuasi dengan harga Bitcoin (BTC) jatuh ke level US$ 20.270 dalam beberapa menit setelah pernyataan Fed. Tetapi kira-kira satu jam setelah pengumuman, harga BTC berhasil menanjak ke US$ 21.444.

Mengutip CoinMarketCap, Kamis pagi pukul 08.30 WIB, BTC mampu melanjutkan kenaikan 3,25% dalam 24 jam ke US$ 22.708,58, Ethereum (ETH) juga menguat 3,24% dalam periode yang sama ke US$ 1.242,31. Begitupula dengan BNB yang menguat lebih tinggi 5,64% ke posisi US$ 234,69, serta koin kripto lainnya.

Advertisement

Sebelumnya, mengikut pasar saham yang melemah sejak sepekan terakhir, pasar kripto juga setali tiga uang. Bitcoin sebagai kripto nomor satu misalnya, sempat terjerumus dekat ke US$ 20.000 per BTC, harga yang pernah dicapai pada Desember 2017 sebagai harga tertinggi sepanjang masa sejak 2008. Harga tertinggi sebelumnya adalah US$ 69 ribu pada November 2021 lalu. Pasar kripto keseluruhan sempat rontok hingga di bawah US$ 1 triliun, yakni US$ 903,3 miliar.

Baca juga: Nasib Harga Bitcoin Cs Ditentukan Hari Ini, Investor Kripto Deg-degan Nantikan Putusan The Fed

Iklim pasar kripto memang baru kali ini mengalami situasi makroekonomi pengetatan kuantitatif, setelah selama kurang lebih 13 tahun berada di pasar global dengan dolar yang melimpah, dampak resesi keuangan 2008.

Kendati tidak diduga sebelumnya, pelaku pasar kripto punya beberapa harapan, hanya jika resesi baru terjadi lagi, karena skenario seperti itu akan memaksa The Fed menggelontorkan dolar lagi untuk menyelamatkan ekonomi dan menekan suku bunga ke tingkat yang lebih rendah.

Secara teknikal, jika harga BTC turun di bawah US$ 20.000 berpotensi melorotkan harganya di bawah US$ 15 ribu per BTC bahkan lebih.

Baca juga: CEO MicroStrategy Tepis Isu Margin Call saat Bitcoin Anjlok ke US$ 21.000

Sam Callahan dari Swan Bitcoin misalnya percaya bahwa, berdasarkan pengalaman dari pasar bearish sebelumnya, ada kemungkinan Bitcoin bisa turun lebih dari 80% dari harga tertinggi sepanjang masa, seperti yang terjadi pada Desember 2018, ketika jatuh ke hanya di atas US$ 3.000. Itu berarti Bitcoin jatuh serendah US$ 13.800 pada siklus ini.

Robohnya pasar kripto ini pun sekaligus menegaskan bahwa kripto tidak dapat diandalkan dalam situasi inflasi kritis dengan tipe seperti ini. Di tengah lesunya pasar kripto, Peter Brandt, yang menjadi salah satu analis popular di Twitter, memiliki pandangan baru terhadap harga Bitcoin. 

Menurut analisis teknikalnya, harga kripto utama ini dapat jatuh ke US$ 13.000, namun masih ada peluang untuk tidak terjadi, meski tipis sekali peluangnya. Menurut Peter, kejatuhan ini akan gagal jika harga berhasil menutup weekly candle di atas level tertinggi di 31 Mei, di sekitar US$ 32.206.

Editor : Lona Olavia (olavia.lona@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN