Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Petani menunjukkan buah sawit di perkebunan kelapa sawit di Bogor, Jawa Barat, Sabtu (5/2/2022).  Foto ilustrasi:  BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Petani menunjukkan buah sawit di perkebunan kelapa sawit di Bogor, Jawa Barat, Sabtu (5/2/2022). Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Harga CPO Melemah, Lanjutkan Tren Bearish 

Sabtu, 18 Juni 2022 | 07:00 WIB
Indah Handayani (handayani@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Harga kontrak Crude Palm Oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives melemah pada Jumat (17/6/2022). Melanjutkan tren bearish seiring dengan sinyal potensi pengurangan permintaan dari negara importir, yaitu India dan Tiongkok. 

Berdasarkan data Bursa Malaysia Derivatives pada penutupan Jumat (17/6/2022), kontrak berjangka CPO untuk pengiriman Juli 2022 turun 4 Ringgit Malaysia menjadi 5.679 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak pengiriman Agustus 2022 terkoreksi 12 Ringgit Malaysia menjadi 5.524 Ringgit Malaysia per ton.

Advertisement

Sementara itu, kontrak pengiriman September 2022 menurun 19 Ringgit Malaysia menjadi 5.454 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak pengiriman Oktober 2022 terjatuh 18 Ringgit Malaysia menjadi 5.429 Ringgit Malaysia per ton. Serta, kontrak pengiriman November 2022 terpeleset 7 Ringgit Malaysia menjadi 5.440 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak pengiriman Desember 2022 jatuh 16 Ringgit Malaysia menjadi 5.460 Ringgit Malaysia per ton.

Baca juga: Wall Street Berakhir Bervariasi, Masih Catat Penurunan Mingguan

Research & Development ICDX Girta Yoga mengatakan, harga CPO masih berada pada tren bearish. Hal ini dipengaruhi sentimen yang mempengaruhi datang dari sinyal potensi pengurangan permintaan dari India selaku importir CPO terbesar pertama dunia, dilihat dari adanya peralihan pembelian dari CPO ke minyak nabati.

“Selain itu, ancaman dari penyebaran kembali wabah Covid di Tiongkok juga turut membebani dari sisi permintaan CPO. Hal ini mengingat Tiongkok merupakan negara importir CPO terbesar kedua dunia,” ungkap Yoga kepada Investor Daily, baru-baru ini.

Baca juga: Harga Minyak Anjlok ke Terendah Empat Minggu Terseret Kekhawatiran Resesi

Sementara di sisi pasokan, lanjut Yoga, kebijakan percepatan ekspor CPO yang dilakukan pemerintah Indonesia dengan menurunkan pungutan ekspor menjadi US$200 dari US$375 yang akan berlaku hingga 31 Juli. Serta, perilisan ijin ekportir CPO. Hal ini memberikan dukungan positif pada laju ekspor CPO Indonesia. Namun, di saat yang sama juga memicu kekhawatiran akan pasokan berlebih di pasar, terlebih dengan adanya sinyal pengurangan permintaan dari India dan Tiongkok.

“Ditambah lagi, perkembangan situasi di Malaysia terutama terkait tenaga kerja serta data ekspor, dan juga pergerakan harga minyak nabati global,” tutup Yoga.

Editor : Indah Handayani (indah.handayani26@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN