Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
ilustrasi harga minyak dunia
Sumber: Antara

ilustrasi harga minyak dunia Sumber: Antara

OPEC+ Kehabisan Kuota Produksi, Minyak Kembali Melambung

Selasa, 28 Juni 2022 | 10:45 WIB
Indah Handayani (handayani@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Tim Riset ICDX menyebut, harga minyak pagi ini terpantau bergerak bullish. Pasca berita yang mengindikasikan OPEC+ telah mencapai batas maksimal produksinya. Selain itu, gangguan pasokan di Libya dan Ekuador turut mendukung pergerakan harga minyak lebih lanjut.

OPEC+ dilaporkan telah kehabisan kapasitas untuk memompa lebih banyak minyak, termasuk anggota produsen terbesarnya Arab Saudi, ungkap Menteri Negara Sumber Daya Minyak Nigeria Timipre Sylva. Diperkirakan bahwa Aliansi 23 negara produsen minyak itu mungkin akan tetap menjalankan komitmen peningkatan produksi minyak di bulan Agustus saat bertemu pada hari Kamis nanti, ungkap sumber pada hari Senin.

Advertisement

Tim Riset ICDX menambahkan, turut menguatkan pernyataan dari Nigeria, Presiden Prancis Emmanuel Macron pada hari Senin mengatakan bahwa dua eksportir minyak utama OPEC telah memompa minyak sebanyak yang mereka bisa, dimana Uni Emirat Arab (UEA) telah mencapai output maksimum dan Arab Saudi hanya dapat menambahkan pasokan sekitar 150 ribu bph.

Baca juga: Rupiah Balik Melemah 33 Poin ke Posisi Rp 14.830 per Dolar AS

Menteri Energi UEA Suhail al-Mazrouei pada hari Senin mengatakan bahwa produksi UEA telah mendekati kapasitas maksimum berdasarkan kuota yang disepakati bersama dengan OPEC+ di angka 3.17 juta bph. “Berita tersebut memicu kekhawatiran akan semakin ketatnya pasokan di pasar global karena penambahan output dari kedua negara produsen Timur Tengah tersebut diharapkan dapat menutupi kekurangan pasokan dari Rusia,” tulis Tim Riset ICDX dalam risetnya, Selasa (28/6/2022).

Menambah tekanan pada sisi pasokan, Tim Riset ICDX menambahkan, National Oil Corp. (NOC) Libya pada hari Senin menyatakan kemungkinan untuk mengumumkan force majeure atas ekspor minyak yang dilakukan di kawasan Teluk Sirte dalam 3 hari ke depan akibat aksi kerusuhan. Selain Libya, Kementerian Energi Ekuador mengatakan negara itu dapat menghentikan produksi minyak sepenuhnya dalam dua hari ke depan di tengah protes anti-pemerintah. Mantan negara anggota OPEC itu dilaporkan memompa sekitar 520 ribu bph sebelum aksi protes terjadi.

Baca juga: Harga Emas Jatuh 55 Dolar Tertekan Data Ekonomi AS yang Lebih Kuat

Sementara itu, Iran dan AS dilaporkan akan mengadakan pembicaraan tidak langsung pada hari Selasa di ibukota Qatar, Doha, terkait kelanjutan negosiasi nuklir, ungkap juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Naser Kanani pada hari Senin. “Sinyal dimulainya kembali negosiasi nuklir Iran turut memicu harapan bahwa minyak Iran dapat segera kembali ke pasar global, terlebih di tengah ketatnya pasokan di pasar saat ini,” tambah Tim Riset ICDX.

Melihat dari sudut pandang teknis, Tim Riset ICDX memperkirakan harga minyak berpotensi menemui posisi resistance terdekat di level US$ 115 per barel. Namun, apabila menemui katalis negatif maka harga berpotensi turun ke support terdekat di level US$ 100 per barel.

Editor : Indah Handayani (indah.handayani26@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN