Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Direktur Eksekutif Lippo Group John Riady.

Direktur Eksekutif Lippo Group John Riady.

Usaha Rintisan Berguguran, John Riady: Justru Ini Musim Semi untuk Start-up Berkinerja Baik

Selasa, 28 Juni 2022 | 13:21 WIB
Lona Olavia (redaksi@investor.id)

JAKARTA, investor.id — Memasuki pertengahan tahun ini, berbagai usaha rintisan atau start-up mengumumkan kebijakan efisiensi yang berujung pada PHK massal. Hal itu menandakan adanya langkah lebih rasional dari strategi mayoritas start-up yang dikenal royal “bakar duit”.

Sadar atau tidak, para pelaku usaha rintisan banyak yang terjebak pada strategi agresif, baik itu secara pengembangan pasar maupun pengembangan internal. Indonesia, berdasarkan catatan Start-up Ranking merupakan rumah bagi 2.219 usaha rintisan.

Advertisement

Masing-masing usaha rintisan bersaing agar diterima pasar melalui berbagai layanan digital. Tuntutan ini mempunyai dua konsekuensi “strategis”, yakni mengupayakan agar layanan bisa diterima secara luas oleh masyarakat, serta keandalan dan inovasi digital yang berkesinambungan.

“Kutukan” ini selalu menghantui perjalanan usaha rintisan yang selalu meminta mahar besar dari para pemodal ataupun modal ventura. Sayangnya, persaingan menguasai pasar sekaligus mencari bakat digital itu berhadapan dengan semakin tercekiknya arus modal maupun kelangkaan talent.

Baca juga: Pandu Sjahrir Ingatkan Founder Waspadai Bubble Burst Start-up

Sebagai gambaran, Bank Dunia memperkirakan setiap tahun Indonesia membutuhkan sedikitnya 600 ribu orang yang menguasai teknologi digital. Kelangkaan talenta inipun telah mengerek biaya operasional berbagai perusahaan rintisan.

Terkait kemelut bergugurnya usaha-usaha rintisan, Direktur Eksekutif Lippo Group John Riady mengungkapkan, krisis talenta dan persaingan pasar yang menuju tidak sehat itupun terjadi di tengah memburuknya kondisi perekonomian global.

“Kebutuhan modal yang besar dalam pengembangan usaha rintisan harus berhadapan dengan situasi inflasi yang cenderung tinggi, menyebabkan berbagai pihak menahan dana. Terlebih lagi, saat ini terjadi gesekan dari kebijakan The Fed yang menyedot arus kapital global,” ungkapnya dalam keterangan resmi, Selasa (28/6/2022).

John yang juga praktisi modal ventura di bawah Lippo Group memiliki riwayat panjang dalam mengembangkan berbagai startup. Sejak 2015, melalui PT Venturra Capital, John Riady melakukan penetrasi ke dalam ekosistem ekonomi digital.

Berbagai usaha rintisan dibidani Venturra Capital, antara lain Ruang Guru, Ovo, Sociola, bahkan unicorn Grab. “Kini masih ada puluhan yang kami kembangkan,” jelas John.

Baca juga: Grab dan BRI Ventures Siapkan Start-up Tangguh

Melihat gejala rontoknya berbagai usaha rintisan, John menilai disebabkan berbagai kesalahan persepsi. Paling mendasar, lanjutnya adalah persepsi terkait prospek startup di tengah arus digitalisasi yang semakin meluas.

Persoalannya, pandemi yang telah memicu berbagai terobosan digital nyatanya tidak menolong momentum startup menjadi lebih besar. “Artinya apa? Di sini, yang akan bertahan tidak sekadar startup, melainkan startup yang siap dengan model bisnis dan prinsip untuk menghadirkan solusi berkesinambungan bagi persoalan masyarakat,” jelas John.

Dia mengungkapkan empat pilar investasi digital yang digarap Lippo seperti seed funding, pendanaan startup pre IPO, kemitraan digital dengan entitas global, hingga kolaborasi digital dengan jaringan bisnis konvensional, telah melahirkan ekosistem yang kuat.

“Kami mendanai berbagai usaha rintisan dari yang sejak awal dilahirkan, startup yang matang dan siap IPO, hingga membangun start-up bersama mitra global itu semuanya didorong prinsip yang sama. Prinsip kami, startup ini harus solutif, memecahkan persoalan masyarakat apapun bentuknya, inilah yang akan bertahan,” kata John.

Persepsi salah kaprah lainnya, katanya, adalah euforia digitalisasi yang tak beralasan. Euforia ini memicu tren serba digital lebih baik dibandingkan hal berbau konvensional.

Baca juga: Pemerintah Berikan Stimulus untuk Start-up

Sebaliknya, jelas John, justru berbagai senjata digital tidak akan efektif bila tidak disokong dengan layanan fisik atau konvensional. Lihat saja di Tiongkok, berbagai raksasa bisnis digital sebisa mungkin mengakuisisi berbagai perusahaan konvensional yang memiliki jaringan bisnis secara fisik.

“Ini merupakan strategi kolaborasi, istilahnya omnichannel. Dengan mengawinkan layanan digital dan keunggulan jaringan bisnis secara fisik, akan menopang penguatan kinerja. Apalagi di Indonesia yang sebagian besar aktivitas dan gaya hidup masyarakat masih belum bisa meninggalkan pola konvensional sepenuhnya,” tegas John.

Strategi omnichannel inipun diterapkan di berbagai jaringan bisnis Lippo Group. Salah satu yang kian sukses adalah kerja sama strategis ekosistem PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GoTo) dengan PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA), kemitraan itupun telah memetik hasil positif yang digambarkan dengan pertumbuhan pendapatan.

Pada akhirnya, John mengungkapkan di tengah bergugurannya berbagai usaha rintisan, justru ini merupakan momentum seleksi alam bagi ekosistem digital. “Yang bertahan adalah yang mempunyai kinerja baik serta prospek yang mampu menjangkau kebutuhan pasar,” ungkapnya.

Editor : Lona Olavia (olavia.lona@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN