Menu
Sign in
@ Contact
Search
Ilustrasi investasi reksa dana.

Ilustrasi investasi reksa dana.

Siap-Siap, Pasar Finansial Bakal Beri Kejutan Positif di Semester Ini

Selasa, 2 Agustus 2022 | 13:57 WIB
Lona Olavia (redaksi@investor.id)

JAKARTA, investor.id - Memasuki paruh kedua 2022 banyak ekspektasi pasar yang berubah dari pandangan di awal tahun. Pertama, tekanan inflasi yang tadinya diperkirakan akan memudar, ternyata lebih persisten dari perkiraan. Kedua, bank sentral Amerika yang awalnya diperkirakan akan menaikkan suku bunga secara gradual, ternyata terpaksa untuk menaikkan suku bunga secara agresif untuk menanggulangi lonjakan inflasi.

Faktor selanjutnya adalah adanya konflik Rusia-Ukraina dan naiknya kasus Covid-19 di Tiongkok yang mempengaruhi rantai pasokan global dan menambah tekanan terhadap inflasi. Bauran beberapa faktor ini menjadikan pandangan pasar menjadi lebih pesimis terhadap outlook pertumbuhan ekonomi global dan menyebabkan pasar global bergejolak di semester pertama.

Saat ini pasar dan The Fed memiliki pandangan yang selaras, di mana kenaikan suku bunga diperkirakan tetap agresif, dapat mencapai 3,4% di akhir tahun. Selain itu pertumbuhan ekonomi global untuk 2022 diperkirakan lebih lemah dari proyeksi sebelumnya, direvisi turun menjadi 2,9% dari perkiraan sebelumnya 4,1%.

Investment Specialist PT Manulife Aset Manajemen Indonesia Dimas Ardhinugraha mengatakan, hal positif yang bisa diangkat adalah bahwa pasar saat ini telah memperhitungkan pelemahan kondisi tersebut. Pasar finansial bersifat forward-looking, sehingga pelemahan outlook ekonomi dan lonjakan inflasi telah tercermin dari kinerja pasar di semester pertama.

“Ke depannya, karena ekspektasi pasar sudah sangat pesimis, maka kejutan positif dari data ekonomi yang lebih baik dari perkiraan, atau kebijakan ekonomi yang lebih suportif mendukung pertumbuhan ekonomi, dapat menjadi katalis positif bagi pasar finansial,” ujarnya, Selasa (2/8/2022).

Baca juga: Manulife Aset Manajemen: Saatnya Menangkap Peluang dari Pasar Finansial Asia

Topik yang sering menjadi perhatian pasar dan media saat ini adalah risiko resesi ekonomi di Amerika yang dapat menular ke dunia. Kondisi resesi umumnya terlihat dari kontraksi dan pelemahan berbagai sektor ekonomi, misalnya tingkat upah, tenaga kerja, manufaktur, dan penjualan ritel.

Meski begitu, menurut Dimas, sejauh ini indikator sektor-sektor tersebut masih tetap kuat dan belum menunjukkan sinyal resesi. Selain itu beberapa leading indicator ekonomi juga belum menunjukkan sinyal resesi, seperti probabilitas resesi dari Fed New York yang masih pada level kondusif. “Namun tidak bisa dipungkiri bahwa pertumbuhan ekonomi Amerika dan dunia diperkirakan melambat karena inflasi yang tinggi dan suku bunga yang belum naik, walau resesi belum menjadi skenario dasar,” katanya.

Di tengah tingginya volatilitas pasar dan risiko pelemahan pertumbuhan ekonomi global, idealnya investor melakukan diversifikasi investasi untuk meminimalisir risiko. Pasar Asia dapat menawarkan solusi diversifikasi bagi investor. Asia merupakan kawasan yang beragam, dengan profil dan kondisi ekonomi berbagai negara yang berbeda-beda, sehingga masih ada peluang yang bisa dimanfaatkan di pasar Asia.

Sebagai contoh kawasan ASEAN menawarkan potensi pertumbuhan yang menarik dengan tingkat inflasi yang relatif terjaga. ASEAN diuntungkan oleh pembukaan kembali ekonomi yang menjadi katalis bagi ekonomi domestiknya, dan juga sektor pariwisata yang kembali bergairah. Tidak hanya ASEAN, China juga menawarkan potensi menarik, didukung membaiknya kondisi Covid-19 serta potensi stimulus moneter dan fiskal untuk mendukung pertumbuhan ekonomi.

Baca juga: Koreksi Tajam Berpotensi Terjadi di Pasar Finansial

Beralih ke pasar domestik, sambung Dimas, di tengah melambatnya pertumbuhan ekonomi dunia, Indonesia merupakan negara yang menarik di mata investor dunia. Indonesia berada dalam posisi yang lebih suportif didukung oleh pertumbuhan ekonomi yang membaik, harga komoditas yang suportif, tingkat inflasi terjaga dan kebijakan bank sentral yang akomodatif.

Berlawanan dengan ekonomi global yang melambat, pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan akan mengalami akselerasi tahun ini didukung oleh normalisasi aktivitas masyarakat. Indikator ekonomi terkini terus menunjukkan perbaikan, terlihat dari indeks keyakinan konsumen yang kembali ke level sebelum pandemi dan juga pertumbuhan kredit yang terus menunjukkan perbaikan.

Penguatan harga komoditas utama Indonesia, seperti batubara, juga menjadi faktor positif bagi Indonesia. Sebagai contoh, harga batubara menguat 128% di paruh pertama tahun ini, yang mendukung kinerja neraca perdagangan hingga mencatat rekor surplus. Harga komoditas yang suportif akan memberi trickle-down effect ke ekonomi dan positif bagi stabilitas makro ekonomi Indonesia.

Selain pertumbuhan ekonomi yang positif, Indonesia juga diuntungkan oleh tingkat inflasi domestik yang relatif terjaga. Pemerintah memutuskan untuk menaikkan anggaran subsidi dan kompensasi energi demi menjaga harga listrik bersubsidi dan BBM Pertalite. Kebijakan ini positif untuk menjaga tingkat inflasi dan mendukung daya beli masyarakat. Dari sisi APBN, kenaikan anggaran subsidi akan dikompensasi oleh kenaikan pendapatan negara dari sektor komoditas yang tinggi.

Tingkat inflasi domestik yang terjaga memberi ruang bagi Bank Indonesia untuk tidak perlu buru-buru menaikkan suku bunga. Berlawanan dengan bank sentral negara maju yang berlomba-lomba menaikkan suku bunga untuk menghadapi lonjakan inflasi. Inflasi inti menjadi patokan bagi BI dalam menentukan kebijakan suku bunga.

Baca juga: Euforia Pasar Finansial

Adapun, ekspektasi pemulihan ekonomi domestik merupakan katalis positif bagi pasar saham Indonesia. Kondisi ekonomi yang lebih baik akan mendorong perbaikan kinerja keuangan emiten Indonesia, terutama setelah 2 tahun kondisi pandemi yang menekan kinerja emiten Indonesia.

“Walaupun volatilitas jangka pendek tetap dapat terjadi karena sentimen global, pasar saham tetap menawarkan potensi yang menarik di tahun ini didukung perbaikan fundamental,” tegas Dimas.

Sementara, pasar obligasi bergerak fluktuatif di paruh pertama tahun ini. Sentimen pasar dibayangi oleh naiknya imbal hasil US Treasury dan ketidakpastian di pasar domestik terkait apakah harga BBM dan listrik akan naik dan bagaimana dampaknya terhadap inflasi domestik.

Positifnya, ke depannya, ekspektasi kenaikan suku bunga Amerika yang sudah diantisipasi oleh pasar dapat membuat volatilitas pasar lebih minimal. Selain itu, naiknya anggaran subsidi dan kompensasi energi juga mengurangi faktor ketidakpastian di pasar domestik.

“Di tengah kondisi pasar yang sangat dinamis penting sekali bagi investor untuk memiliki portofolio yang terdiversifikasi untuk meminimalisir risiko dan volatilitas. Tinjau kembali profil risiko dan aset alokasi portofolio anda. Pastikan anda memiliki bauran instrumen investasi yang memiliki unsur long-term growth serta instrumen dengan profil risiko yang konservatif untuk menjaga tingkat volatilitas portofolio. Di reksa dana, terdapat pilihan yang tersedia bagi investor untuk menyesuaikan dengan profil risiko masing-masing,” tutupnya.

Editor : Lona Olavia (olavia.lona@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com