Menu
Sign in
@ Contact
Search
Direktur Utama Bank Neo Commerce Tjandra Gunawan. Foto: Ist

Direktur Utama Bank Neo Commerce Tjandra Gunawan. Foto: Ist

Target Harga Saham Bank Neo (BBYB) Fantastis nih, Bagaimana Bisa?

Minggu, 7 Agustus 2022 | 12:03 WIB
Ely Rahmawati (redaksi@investor.id)

JAKARTA, investor.id – PT Bank Neo Commerce Tbk (BBYB) atau BNC mencatatkan pertumbuhan pinjaman sebesar 71,4% sejak peluncuran produk pinjaman digitalnya pada kuartal IV-2021 hingga Juni 2022 mencapai Rp 7 triliun. Perusahaan memiliki likuiditas yang cukup untuk mencapai target pertumbuhan kredit tahun ini.

Berdasarkan perhitungan RHB Sekuritas, untuk mencapai penyaluran pinjaman sebesar Rp 10 triliun, rasio pinjaman terhadap simpanan (LDR) harus tetap di 90,1%. NIM harus meningkat menjadi 10,2% pada kuartal II-2022 dan 15% pada kuartal IV-2022 dari percepatan pinjaman digital. Bank Neo Commerce juga memangkas biaya operasional dengan membatasi transfer antar bank gratis hingga 25 kali per bulan.

“Kami merekomendasi beli saham BBYB dengan target harga Rp 2.900,” ungkap analis RHB Sekuritas Ryan Santoso dan Andrey Wijaya dalam riset terbaru.

Baca juga: RUPS Bank Neo Commerce (BBYB) Sepakati Peningkatan Modal Lewat Rights Issue

Target harga tersebut tergolong fantastis. Sebab pada perdagangan Jumat (5/8/2022), BBYB ditutup pada harga Rp 1.465. Dengan mengacu pada target harga Rp 2.900, itu berarti potensi gain BBYB hampir 100%, tepatnya 97,9%.

Para analis tersebut menjelaskan, Bank Neo Commerce memiliki penyaluran pinjaman yang kuat. Outstanding pinjaman perseroan mencapai Rp 7 triliun pada bulan Juni 2022, tumbuh 71,4% sejak November 2021 saat peluncuran pinjaman digital.

“Bauran kredit didominasi oleh channeling dan direct lending yang berkontribusi lebih dari 60% dari total kredit,” sebut Ryan dan Andrey.

Pada 2022, emiten berkode saham BBYB ini menargetkan pinjamannya mencapai Rp 10-12 triliun dengan memperluas kemitraannya dengan platform fintech seperti iGrow, Kredito, Asetku, dan Uatas. BBYB juga dijadwalkan untuk meluncurkan Neo Loan (pinjaman langsung in-house) dan Buy Now Pay Later (BNPL) pada paruh kedua 2022.

Perseroan mengharapkan NIM mencapai dua digit pada kuartal II-2022. Pendapatan bunga bersih bulan Juni tumbuh menjadi Rp 132 miliar dibanding Januari 2022 sebesar Rp 58 miliar, yang menjadikan NII kumulatif selama enam bulan 2022 sebesar Rp 547 miliar (+302% yoy) – berkat produk pinjaman digital.

Menurut Ryan dan Andrey, BBYB menunjukkan bahwa kuartal II-2022 NIM mencapai 10,2% dibanding selama 2021 yakni 5,2%, dan bertujuan untuk membawa angka ini menjadi 15% pada kuartal IV-2022, didorong oleh percepatan penyaluran pinjaman dan pinjaman langsung. “Perlu dicatat juga bahwa likuiditas masih cukup dan LDR pada kuartal II-2022 diperkirakan mencapai 63,1%. Jika pencairan pinjaman mencapai Rp 10 triliun pada bulan Desember, ceteris paribus, LDR akan tetap di 90,1%,” jelas Ryan dan Andrey.

Adapun rugi bersih BBYB pada bulan Juni berkurang menjadi Rp 30 miliar dibanding Januari 2022 sekitar Rp 160 miliar. Di antara inisiatifnya adalah membatasi transfer antar bank gratis hingga 25 kali per bulan, dengan biaya Rp 2.000 untuk setiap transfer tambahan. Biaya tersebut masih lebih rendah dibandingkan bank lain yang mengenakan biaya Rp 2.500-6.000 untuk transfer antar bank.

Baca juga: Top! Laba Bersih Allo Bank (BBHI) Melonjak 556%

Faktor positif lainnya, peningkatan modal Rp 5 triliun pada semester II-2022. Rights issue yang sempat tertunda akibat sentimen negatif di sektor teknologi kembali menjadi agenda. Perusahaan berencana untuk menerbitkan maksimal 5 miliar saham baru dan 942 juta saham untuk private placement. Tidak ada pembeli siaga untuk aksi korporasi ini.

“Namun, karena CEO Akulaku (William Li) telah menyatakan minat perusahaan untuk meningkatkan kepemilikan saham di BBYB menjadi 40%, kami optimistis BBYB tidak akan kesulitan memenuhi persyaratan modal sesuai ketentuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebesar Rp 3 triliun. Apalagi, harga eksekusi akan berada di atas rights issue sebelumnya, yaitu Rp 1.300, menurut kami,” ungkap Ryan dan Andrey.

Sementara itu, risiko utama dalam rekomendasi ini, antara lain pendanaan berbiaya rendah yang terbatas dan kredit bermasalah (NPL) yang lebih tinggi dari pinjaman digital.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com