Menu
Sign in
@ Contact
Search
Kelapa sawit - bahan CPO

Kelapa sawit - bahan CPO

Duh, Harga CPO Anjlok   

Selasa, 16 Agustus 2022 | 05:00 WIB
Indah Handayani (handayani@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id - Harga kontrak Crude Palm Oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives anjlok pada perdagangan Senin (15/8/2022).

Berdasarkan data Bursa Malaysia Derivatives pada penutupan Senin (15/8/2022), kontrak berjangka CPO untuk pengiriman September 2022 anjlok 311 Ringgit Malaysia menjadi 4.094 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak pengiriman Oktober 2022 jatuh 282 Ringgit Malaysia menjadi 4.125 Ringgit Malaysia per ton.

Sementara itu, kontrak pengiriman November 2022 amblas 273 Ringgit Malaysia menjadi 4.138 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak pengiriman Desember 2022 terjun bebas 260 Ringgit Malaysia menjadi 4.172 Ringgit Malaysia per ton.

Baca juga: Lama Tak Terdengar, Begini Update Bisnis Sawit Grup Bakrie (UNSP)

Serta, kontrak pengiriman Januari 2023 terpangkas 256 Ringgit Malaysia menjadi 4.218 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak pengiriman Februari 2023 jatuh 261 Ringgit Malaysia menjadi 4.259 Ringgit Malaysia per ton.

Research & Development ICDX Girta Yoga mengatakan, pergerakan harga CPO pekan ini akan sangat bergantung pada rilisnya data penting pada awal pekan antara lain bea keluar CPO Indonesia untuk paruh kedua Agustus. Serta, data ekspor CPO Malaysia untuk paruh pertama Agustus.

Yoga menjelaskan, dari Indonesia antara lain keputusan bea keluar CPO Indonesia untuk paruh kedua Agustus dan perkembangan terkait kebijakan DMO serta B40. Sementara dari Malaysia antara lain rilisnya data ekspor CPO Malaysia untuk paruh pertama Agustus serta perkembangan isu tenaga kerja.

Baca juga: Astra Agro (AALI) Tabur Rp 497 Miliar di Kebun Sawit, untuk Apa?

“Untuk potensi resistance berada di kisaran harga 4.250 – 4.300 Ringgit Malaysia per ton. Apabila menemui katalis negatif, maka harga berpotensi turun menuju support di kisaran harga 4.150 – 4.100 Ringgit Malaysia per ton,” ungkap Yoga kepada Investor Daily, baru-baru ini.

Yoga menambahkan tren pergerakan harga minyak nabati, terutama minyak kedelai, mempertimbangkan sentimen yang ada saat ini yaitu cuaca buruk di negara produsen utama seperti AS dan Brasil, maka harga berpotensi bergerak bullish. Meski demikian, ada sentimen yang berpotensi membuat harga terkoreksi, yaitu dari situasi ekspor melalui jalur Laut Hitam yang kembali pulih.

Lebih lanjut Yoga mengatakan, untuk sentimen yang dipantau antara lain perkembangan situasi ekspor Ukraina melalui jalur Laut Hitam dan juga sinyal dimulainya perang tarif baru antara AS dan Tiongkok. “Untuk potensi resistance minyak kedelai berada di kisaran harga US$ 650-700 per ton. Apabila menemui katalis negatif, maka harga berpotensi turun menuju support di kisaran harga US$ 400 - 350 per ton,” tutup Yoga.

Editor : Indah Handayani (indah.handayani26@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com