Menu
Sign in
@ Contact
Search
Ilustrasi investasi reksa dana. Foto: Pixabay

Ilustrasi investasi reksa dana. Foto: Pixabay

Siasati Inflasi BBM Melalui Investasi Reksa Dana

Kamis, 15 September 2022 | 16:01 WIB
Lona Olavia (redaksi@investor.id)

JAKARTA, investor.id - Pemerintah memutuskan untuk menaikan harga BBM bersubsidi, belum lama ini. Sejumlah ekonom memperkirakan, kenaikan tersebut dapat memicu inflasi dan volatilitas di pasar modal.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahunan di Indonesia pada Juli 2022 mencapai 4,94% (vs. konsensus ekonom 4,82%), dengan inflasi komponen inti berada di 2,86% YoY (vs. konsensus ekonom 2,85%).

Bank Indonesia juga telah meningkatkan suku bunga acuan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRRR) sebesar 25 bps (0,25%) menjadi 3,75%. Ini merupakan perubahan suku bunga acuan yang pertama kali sejak Februari 2021.

Baca juga: Situasi Global Volatil, Peluang Investasi di Reksa Dana Saham Masih Menarik

Kenaikan suku bunga diambil untuk mengantisipasi risiko peningkatan inflasi inti dan ekspektasi inflasi akibat kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non-subsidi serta inflasi volatile foods.

Menurut Anggota Komite Audit dan Manajemen Risiko Asiantrust Asset Management, Nicholas Hilman, jika Inflasi terus naik akan berdampak ke pertumbuhan ekonomi Indonesia dan kehidupan sehari-hari kita semua.

"Barang dan jasa tentunya akan mengalami kenaikan harga, karena BBM adalah bahan pokok dari banyak aktivitas kita sehari-hari, dari minyak goreng yang kita gunakan untuk makanan, sampai bahan bakar yang digunakan kendaraan kita. Dampak dari inflasi ini juga menurunkan daya beli atau purchasing power kita masing-masing,” katanya dalam keterangan resmi, Kamis (15/9/2022).

Baca juga: Kolaborasi Eastspring-MNC Sekuritas Permudah Akses Investasi Reksa Dana 

Inflasi juga berpengaruh langsung ke pasar modal. Untuk mengantisipasi kenaikan inflasi, maka suku bunga dinaikkan oleh BI. Saat suku bunga naik, hal ini secara tidak langsung akan meningkatkan cost of funds untuk berbisnis dan pengajuan kredit. Pada akhirnya, pergerakan dan pergantian cuaca makroekonomi tersebut akan menimbulkan volatilitas harga aset-aset yang ada di pasar modal, seperti saham dan obligasi.

Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk mencari cara mempertahankan nilai uangnya agar tidak tergerus inflasi, salah satunya dengan berinvestasi pada Reksa Dana.

Pria yang sebelumnya bekerja di BlackRock, salah satu manajer investasi global yang terbesar dan terkemuka, berpendapat dibutuhkan strategi investasi yang memiliki fleksibilitas untuk melakukan perubahan kelas aset maupun sektor secara dinamis.

Baca juga: Investasi Reksa Dana Jadi Solusi di Tengah Isu Resesi Global

"Kami di Asiantrust menerapkan portfolio construction yang sistematis dengan proses ‘top down dan bottom up’ dalam merancang portofolio. Kami melihat kondisi makro seakan sedang berlayar searah dengan arah angin bertiup. Dalam waktu yang bersamaan, kami akan mencari instrumen dan sektor mana yang akan diuntungkan dari lingkungan makro ekonomi dan kita melihat saham atau obligasi yang akan kita masukan ke dalam portofolio. Jika arah angin berubah atau faktor fundamental sebuah sektor berubah, kami memiliki fleksibilitas untuk melakukan rotasi, misalnya dari obligasi jangka panjang ke saham blue chip," ujarnya.

Dalam penyusunan sebuah portofolio, Nicholas membeberkan ada proses sistematis yang pihaknya kerjakan untuk membangun portofolio yang resilient untuk mengoptimalkan return yang lebih stabil dengan risiko yang lebih terukur.

"Kami awali dengan tolak ukur atau benchmark. Benchmarking adalah penetapan titik acuan untuk mengukur kinerja portofolio, yang dapat membantu membandingkan dan mengevaluasi alokasi aset dengan lebih baik. Disini kami mengevaluasi kelas aset seperti saham vs obligasi, lalu kami pikirkan tentang perbandingan kinerja portofolio seperti benchmark IHSG, dan lainnya. Lalu kami tentukan jangka waktunya,” jelasnya.

Baca juga: Pengguna Naik 1,5 Kali Lipat, Tokopedia Luncurkan Reksa Dana Pendapatan Tetap

Kedua, pihaknya melakukan budgeting dari segi biaya dan pajak, maupun risiko. Tujuannya adalah untuk meminimalkan biaya-biaya dan pajak untuk memaksimalkan nilai portofolio dan menetapkan tingkat risiko yang sesuai berdasarkan tujuan. Ketiga, adalah proses investasi. Dan terakhir adalah monitoring.

Dan untuk memberikan imbal hasil yang lebih stabil, pihaknya saat ini memiliki dua strategi investasi utama. Kedua strategi tersebut adalah, Reksa Dana Asiantrust Balanced Fund dan Reksa Dana Asiantrust Amanah Syariah Fund. Strategi Balanced Fund menerapkan alokasi aset sebesar 65% pada obligasi dan 35% pada saham dengan target return 6-8% per tahun dengan volatilitas yang rendah. Sementara Reksa Dana Asiantrust Amanah Syariah Fund adalah strategi Capital Appreciation ditujukan untuk menghasilkan keuntungan saham, namun dengan volatilitas yang lebih rendah melalui exposure yang seimbang antara saham dan obligasi.  

"Kami sekarang mengelola dua Reksa Dana campuran yang mempunyai fleksibilitas berinvestasi pada kelas aset saham, obligasi, maupun deposito. Yang tentunya dalam keadaan makro ekonomi seperti sekarang ini fleksibilitas sangat diperlukan," tuturnya.

Editor : Lona Olavia (olavia.lona@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com