Menu
Sign in
@ Contact
Search
Salah satu fasilitas PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk (BIPI). (Foto: Perseroan)

Salah satu fasilitas PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk (BIPI). (Foto: Perseroan)

Laba Astrindo (BIPI) Bisa Naik 15 Kali Lipat Berkat PTT Mining

Kamis, 29 September 2022 | 18:35 WIB
Zsazya Senorita (redaksi@investor.id)

JAKARTA, investor.id – Aksi PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk (BIPI) mengakuisisi PTT Mining Ltd Hongkong (PTTML) diyakini mampu mengerek laba Astrindo naik hingga 15 kali lipat dari perolehan tahun 2021.

Estimasi ini berasal dari laba PTT Mining semester I-2022 yang mencapai US$ 150 juta dan diperkirakan berlipat ganda dalam satu tahun penuh menjadi sekitar US$ 300 juta.

Adapun laba tahun berjalan Astrindo pada 2021 mencapai US$ 21,89 juta. Dengan demikian, jika laba PTT Mining masuk ke laporan keuangan Astrindo secara konsolidasi, jumlahnya diprediksi mencapai US$ 321 juta, naik 14.285% atau setara 15 kali lipat laba Astrindo 2021.

Baca juga: Astrindo (BIPI) Akuisisi PTT Mining Hong Kong, Nilai Transaksi Jumbo!

“Kalau kami asumsikan setahun, berarti (laba) menjadi US$ 320-an juta. Berarti lompatnya hampir 15 kali lipat. Jadi secara performance ini gambarannya setelah konsolidasi revenue kami nanti 80% mungkin dari sini (PTTML). Jadi ini game changer benar-benar mengubah financial profile dan performance ke depannya. Jadi sangat signifikan,” kata Direktur Astrindo Nusantara Infrastruktur Michael Wong di Jakarta, baru-baru ini.

Ia menjelaskan, asumsi tersebut berlaku di luar gejolak sentimen pelarangan ekspor seperti yang terjadi awal tahun ini. Pasalnya laba dan pendapatan PTT Mining masih didominasi hasil operasional tambang batu bara di Jembayan, Kalimantan Timur.

PTT Mining kini memiliki beberapa konsesi tambang batu bara, antara lain di Brunei Darussalam, Madagaskar, serta tiga tambang batu bara di Kalimantan yakni Jembayan, Sebuku, dan Penajam.

Selanjutnya, dari sisi pendapatan, PTT Mining diperkirakan menyumbang sekitar US$ 500 juta ke pemasukan Astrindo dalam setahun, berkaca dari pendapatan PTT Mining pada 2021 senilai US$ 511 juta.

Baca juga: Astrindo Nusantara (BIPI) Siap Akuisisi 10% Saham Arutmin di Semester I-2023

Revenue kami BIPI US$ 200 jutaan, but this is (PTT Mining) about US$ 500 juta tahun lalu, tahun ini bisa lebih besar dua kali lipat (US$ 1 miliar),” imbuh Michael.

Namun, dia menegaskan bahwa seluruh estimasi kenaikan laba dan pendapatan tersebut belum tentu terjadi tahun ini, karena penyerahan resmi operasional PTT Mining ke BIPI baru akan dilaksanakan pada November 2022. Meski demikian, perseroan tetap berusaha mencatatkan kinerja keuangan secara konsolidasi lebih cepat dari itu.

Alasan Akuisisi

Michael menegaskan, akuisisi PTT Mining merupakan penawaran yang sangat bagus. Akuisisi perusahaan yang memiliki tambang batu bara berkualitas tinggi di Jembayan tersebut telah direncanakan sejak September 2021. Lapangan Jembayan memiliki batu bara dengan kalori antara 5.200- 5.700 kkal/kg GAR atau rata-ratanya 5.400 kkal/kg GAR.

Baca juga: Investor Baru Mau Masuk BUMI Lewat Private Placement Rp 24 T, Grup Bakrie Tetap Pengendali?

Lapangan batu bara lain milik PTT Mining, punya batu bara kalori 4.000-4.200 kkal/kg GAR yang cocok untuk suplai PLTU PLN. Namun, jumlah batu bara 5.200- 5.700 kkal/kg GAR lebih banyak dibandingkan 4.000-4.200 kkal/kg GAR.

Hal itu, menurut dia, membuat perseroan memiliki daya tawar lebih tinggi karena persaingan pasar batu bara berkalori tinggi di Indonesia tidak terlalu ketat seperti batu bara berkalori rendah. Batu bara berkalori tinggi juga lebih berbasis ekspor, sehingga bisa dijual dengan harga pasar global.

“Sebetulnya memang kami planning untuk akuisisi ini dari sebelum harga batu bara naik. Kebetulan saat ini harga melambung cukup tinggi. Jadi sebetulnya suatu berkah buat kami. Karena kami negosiasinya dari harga lama, bukan sekarang,” sambung dia.

Baca juga: Durian Runtuh Bumi Minerals (BRMS) di Kerta Banten

Perusahaan batu bara yang diakuisisi pada harga US$ 471 juta tersebut, kata dia, berproduksi cukup stabil yakni sekitar 6 juta ton per tahun selama sepuluh tahun terakhir. Diprediksi masih bisa berproduksi minimal 10 tahun lagi. Akuisisi ini juga sudah termasuk kontrak pembelian batu bara dari pelanggan PTT Mining, hingga infrastruktur yang dibutuhkan seperti pelabuhan.

“Sebelum akuisisi, kami perusahaan yang fokus ke infrastruktur energi, logistik, konveyor, penanganan batu bara, penghancuran batu bara, dan pelabuhan batu bara,” ujar Direktur Utama BIPI Ray Anthony Gerungan.

Perseroan memperkirakan aksi korporasi ini bisa ‘balik modal’ dalam kurun 1-1,5 tahun dengan keyakinan harga batu bara masih terus melambung naik.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com