Menu
Sign in
@ Contact
Search
Jungleland Theme Park di Sentul. (Perseroan)

Jungleland Theme Park di Sentul. (Perseroan)

Grup Bakrie Lepas Mayoritas Saham Jungleland

Kamis, 29 September 2022 | 20:29 WIB
Thresa Sandra Desfika (thresa.desfika@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id - Grup Bakrie melalui PT Graha Andrasentra Propertindo Tbk (JGLE) melepaskan 51,44% kepemilikan saham di PT Jungleland Asia (JLA), pengelola taman rekreasi Jungleland Theme Park di Sentul.

Mayoritas saham JLA itu dijual kepada investor strategis yakni PT Adiprotek Envirodunia (AE), suatu perusahaan yang tidak terafiliasi dengan perseroan. Sehingga, kepemilikan JGLE atas saham JLA menjadi 48,56%.

Baca juga: Investor Baru Mau Masuk BUMI Lewat Private Placement Rp 24 T, Grup Bakrie Tetap Pengendali?

Manajemen JGLE menjelaskan latar belakang transaksi itu. Menurut mereka, kondisi pandemi Covid-19 yang telah berlangsung sejak akhir tahun 2019 telah menekan banyak industri khususnya industri taman hiburan dan rekreasi karena sangat bergantung atas keramaian namun perlu dibatasi demi mengurangi potensi penularan.

Meski telah beroperasi, Jungleland Theme Park sempat dihentikan operasionalnya selama hampir 2 tahun. Hal ini membuat JLA kehilangan pendapatannya. Sementara beban gaji karyawan dan pemeliharaan wahana tetap harus dikeluarkan, dan selain itu terdapat kewajiban pembayaran bunga ke pihak perbankan.

Oleh karena itu, JGLE melalui JLA telah melakukan restrukturisasi fasilitas kredit dengan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk dan JLA harus dapat memenuhi komitmen pembayaran bunga dan pokok sesuai dengan jadwal restrukturisasi tersebut.

Walaupun kondisi perekonomian Indonesia dan aktivitas masyarakat mulai pulih, kegiatan operasional dan keuangan JGLE dan JLA perlu waktu untuk kembali ke kondisi sebelum wabah Covid-19, untuk itu perseroan mengundang investor strategis untuk menyetorkan tambahan modal di JLA dalam rangka pemenuhan komitmen restrukturisasi ke BRI dan modal kerja JLA.

Dengan setoran modal investor strategis tersebut, kepemilikan saham JGLE di JLA yang sebelumnya 99,999% akan terdilusi dan perseroan tidak lagi menjadi pemegang saham pengendali di JLA, namun demikian, perseroan optimis bahwa struktur modal akan lebih baik karena terdapat penurunan kewajiban kepada kreditur. Dengan pengurangan beban keuangan, perseroan dapat berfokus pada pengembangan aset-aset perseroan lainnya.

Baca juga: GOTO On Track untuk Capai Profit, Begini Penjelasannya

“Manajemen berkeyakinan bahwa tanpa kehadiran AE di JLA, sangat sulit bagi JLA dan perseroan untuk memenuhi komitmen restrukturisasi pinjaman kepada kreditur/Bank BRI. Hal ini dapat memicu kondisi default atas pinjaman yang berujung pada lepasnya JLA secara keseluruhan atau 100%, yang mengakibatkan kerugian yang lebih besar bagi perseroan,” jelas Presiden Direktur JGLE Resza Adikreshna dalam keterangan resmi, Kamis (29/9/2022).

Adapun skema pelepasan 51,44% kepemilikan saham JLA kepada AE, yakni AE mendapatkan kepemilikan saham JLA sebesar 51,44% dengan melakukan penyertaan modal senilai Rp 251 miliar melalui penerbitan saham baru JLA.

Penyertaan modal akan digunakan oleh JLA untuk pembayaran angsuran pokok dan bunga kepada BRI serta modal kerja.

Atas penyetoran modal oleh AE, kepemilikan perseroan di JLA menjadi 48,56% sehingga perseroan tidak lagi menjadi pemegang saham pengendali dan mengkonsolidasikan laporan keuangan JLA.

“Dekonsolidasi JLA tidak hanya mengeluarkan beban operasional dan beban keuangan JLA secara penuh yang selama beberapa tahun terakhir menekan kinerja perseroan tapi juga memungkinkan perseroan untuk kembali mengembangkan proyek baru khususnya quick yielding projects berupa tempat hunian tapak/rumah dengan segmen menengah,” ungkap Resza.

Dia menambahkan, perseroan juga sudah memiliki landbank di beberapa lokasi strategis untuk pengembangan perumahan tersebut. Dengan kondisi ini, perseroan menargetkan dapat mencatatkan kinerja keuangan yang positif di tahun 2023 setelah dalam beberapa tahun terakhir mencatatkan kinerja keuangan yang negatif.

Mengacu pada proforma laporan keuangan yang disusun berdasarkan laporan keuangan perseroan per 30 Juni 2022 yang telah ditelaah secara terbatas oleh Kantor Akuntan Publik Rama Wendra & Rekan, di mana dengan memproformakan seolah-oleh transaksi terjadi pada tanggal 30 Juni 2022, dampak dari pelaksanaan transaksi antara lain penurunan jumlah aset perseroan dengan tidak dikonsolidasikannya JLA oleh perseroan di mana terjadi penurunan jumlah aset sebesar Rp 1,25 triliun (42%).

Selain itu, penurunan secara signifikan atas jumlah kewajiban perseroan secara konsolidasi karena tidak dikonsolidasikannya utang JLA sebesar total Rp 591,8 miliar sehingga memperbaiki rasio utang terhadap modal (DER) perseroan di mana sebelum proforma, DER sebesar 55% kemudian turun menjadi 37%.

Baca juga: Soal Laba Bersih Garuda (GIAA) Rp 57 T, Wamen BUMN Buka Suara

Juga, penurunan kinerja keuangan/profitabilitas Perseroan yang disebabkan efek dilusi atas JLA, di mana terjadi penurunan kinerja keuangan/profitabilitas sebesar Rp 761,83 miliar (2.113%).

Sebagai informasi, JGLE berada di bawah naungan kelompok usaha Bakrie. Di mana, anak usaha PT Bakrieland Development Tbk (ELTY), yakni PT Surya Global Nusantara, menggenggam 38,761% saham JGLE.

Editor : Theresa Sandra Desfika (theresa.sandra@investor.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com