Menu
Sign in
@ Contact
Search
pergerakan IHSG, Beritasatu Photo/Uthan AR

pergerakan IHSG, Beritasatu Photo/Uthan AR

Inflasi Capai Level Tertinggi Sejak Desember 2014, Ini Saham-saham Pilihan Para Analis

Senin, 3 Oktober 2022 | 14:34 WIB
Lona Olavia (redaksi@investor.id)

JAKARTA, investor.id - Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi September 2022 mencapai 1,17% month-to-month (mtm) dan 5,95% secara tahun kalender (Januari-Juli 2022).  Secara mengejutkan, inflasi sebesar 1,17% pada September 2022 ini merupakan inflasi tertinggi sejak Desember 2014 atau hampir 8 tahun.

Melihat kondisi tersebut, tentunya kenaikan inflasi ini berdampaknya ke pasar saham. Analis menilai inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan berpotensi menjadi sentimen negatif bagi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), namun ada beberapa sektor yang masih berpotensi bertumbuh.

Baca juga: Inflasi September 1,17%, Ini Komoditas Penyumbangnya

Analis Jasa Utama Capital Sekuritas Cheryl Tanuwijaya mengatakan, inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan berpotensi menjadi sentimen negatif bagi IHSG, karena inflasi yang konsisten meningkat bisa menggerus daya beli dan menghambat pemulihan ekonomi domestik.

“Sektor konsumen primer biasanya yang bisa diandalkan bertumbuh karena defensif dan masyarakat akan tetap konsumsi kebutuhan pokok,” katanya kepada Investor Daily, Senin (3/10/2022).

Baca juga: BPS: Inflasi Tahunan Tembus 5,95%

Dalam kondisi ini, saham-saham yang menurutnya layak untuk dikoleksi adalah PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), PT Mayora Indah Tbk (MYOR), dan PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR).

Lebih lanjut, meski inflasi menghantui namun Cheryl menuturkan, bursa saham selalu menarik untuk investasi karena menyimpan banyak peluang.

Head of Research Henan Putihrai Sekuritas Robertus Yanuar Hardy mengatakan, di tengah laju inflasi yang meningkat maka sektor perbankan juga bisa menjadi pilihan para investor. “Sektor perbankan menarik, karena kenaikan suku bunga berpotensi menaikkan NIM,” katanya.

Baca juga:  Duh, Inflasi September Capai 1,17% Tertinggi Sejak Desember 2014

Untuk sahamnya adalah PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dengan target harga Rp 5.500 dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dengan target harga Rp 9.500 per sahamnya.

Sementara itu, Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Martha Christina memprediksi IHSG masih sulit keluar ke area positif pada hari ini. Namun, data inflasi akan terus dipantau dalam 2-3 bulan mendatang karena efek kenaikan BBM akan terefleksi dalam dalam beberapa bulan ke depan juga.

Baca juga: BI Perkirakan Inflasi September 5,88%

“Karena kecenderungan inflasi tinggi, dan kenaikan suku bunga masih lanjut. Jadi, secara keseluruhan bukan berita yang baik untuk IHSG, juga secara sektoral,” pungkasnya.

Pasar ke depan, sambung Martha akan lebih akan mengantisipasi laporan keuangan kuartal III-2022. Adapun, sektor perbankan, termasuk dalam sektor yang direkomendasikan hingga akhir tahun.

Sementara, untuk sektor konsumer, Martha melihat PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) menarik karena harga crude palm oil (CPO) yang turun.

Editor : Lona Olavia (olavia.lona@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com