Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
PT ABM Investama Tbk (ABMM). Foto: IST

PT ABM Investama Tbk (ABMM). Foto: IST

ABM Siapkan 'Capex' Hingga US$ 200 Juta, Termasuk untuk Akuisisi

Minggu, 9 Mei 2021 | 22:34 WIB
Gita Rossiana (gita.rossiana@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – PT ABM Investama Tbk (ABMM) menyiapkan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar US$ 150-200 juta tahun ini. Dana capex salah satunya akan digunakan untuk persiapan akuisisi tambang batu bara.

Direktur ABM Investama Adrian Erlangga menjelaskan, pihaknya terus mengevaluasi rencana untuk mengakuisisi tambang batu bara. Pasalnya, hal tersebut sangat bergantung dengan perkembangan harga batu bara saat ini. "Rencana akuisisi sedang di-review dalam tahap lanjut karena dinamika harga batu bara sangat tinggi, sehingga negosiasi belum bisa close," kata dia dalam acara paparan publik secara virtual, Jumat (7/5).

Selain untuk mendanai akuisisi, belanja modal ini juga digunakan untuk mendukung target bisnis tahun ini. Adrian mengungkapkan, pada tahun ini, perseroan mematok produksi batu bara sebesar 13,5 juta ton. Hingga kuartal I-2021 sudah terealisasi 4,4 juta ton. "Realisasi penjualan dan produksi pada kuartal I-2021 ini memang luar biasa. Sampai akhir tahun ada kemungkinan output lebih tinggi sehingga kami bisa mengajukan tambahan RKAP," papar dia.

Sejauh ini, bisnis batu bara masih menjadi andalan dari ABM Investama. Namun tidak menutup kemungkinan, perseroan mengincar bisnis tambang lain selain batu bara. Adrian mengungkapkan, saat ini, pihaknya sedang meninjau tambang nikel, emas ataupun hard rock sebagai bisnis alternatif.

Adapun sampai 2020, ABM Investama mencatat pendapatan sebesar US$ 606,4 juta dari bisnis batu bara. Pendapatan ini meningkat 2,36% dibandingkan 2019 yang mencapai US$ 592,4 juta. Akan tetapi kenaikan pendapatan ini belum bisa menahan ABM Investama dari kerugian sebesar US$ 35,7 juta pada 2020.

Lebih lanjut, untuk mendukung bisnis batu bara, ABM Investama memiliki dua tambang di Aceh dan Kalimantan Selatan dengan total cadangan batu bara sebanyak 245 juta ton. Pada 2020, tambang batu bara di bawah payung Reswara ini mencatat produksi sebesar 12,56 juta ton dengan kontribusi 73% dari Aceh dan 27% dari Kalimantan.

ABM Investama juga memiliki kontraktor tambang di bawah bendera Cipta Kridatama (CK). Pada 2020, CK mendapat tiga kontrak baru dari PT Kuansing Inti Makmur, PT Berkat Murah Rejeki dan PT Energi Batubara Lestari. Di luar bisnis kontraktor tambang, ABM Investama memiliki bisnis logistik, jasa rekayasa dan manufaktur serta penjualan bahan bakar minyak.

Global Bond

Adapun dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada Jumat (7/5), pemegang saham menyetujui penerbitan global bond dengan nilai maksimal US$ 400 juta. Adrian mengungkapkan, dana dari emisi global bond ini akan digunakan untuk refinancing obligasi global senilai US$ 350 juta yang akan jatuh tempo pada Agustus 2022. "Jadi, kami masih cukup waktu untuk mengeluarkan global bond ini pada momentum yang pas," terang dia.

Berdasarkan keterangan resmi pada Kamis, (1/4), surat utang ini memiliki tingkat bunga 9,5% dan jatuh tempo pada 2026. Surat utang akan dijamin tanpa syarat dan tanpa dapat ditarik kembali dengan jaminan perusahaan. "Surat utang dijamin penuh oleh jaminan perusahaan (corporate guarantee) oleh perusahaan terkendali perusahaan," tulis manajemen.

Penerbitan surat utang akan menambah likuiditas dan memperpanjang periode jatuh tempo utang sehingga perseroan bisa  menjaga likuiditasnya. Perseroan juga mengupayakan agar surat utang yang akan diterbitkan lebih menguntungkan dibandingkan dengan surat utang 2022, sehingga dapat memberikan fleksibilitas bagi operasional dan keuangan perseroan.

Perseroan belum mengungkapkan pembeli awal dari penerbitan surat utang ini. Informasi mengenai pembeli awal ini akan diinformasikan pada saat masa penawaran awal (bookbuilding). Investor awal ini berperan membeli surat utang yang diberikan oleh ABM Investama kemudian dijual kembali kepada investor umum.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN