Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom). Foto: Dok B1

PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom). Foto: Dok B1

Ambisi Telkom dalam Bisnis Menara Telekomunikasi

Kamis, 22 Oktober 2020 | 04:38 WIB
Parluhutan Situmorang

JAKARTA, investor.id - PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) atau Telkom sedang memperkuat bisnis anak usahanya di bidang menara telekomunikasi, PT Dayamitra Telekomunikasi (Mitratel). Penguatan ini dilakukan dengan mengakuisisi sebanyak 6.050 menara milik PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel) oleh Mitratel.

Penguatan bisnis Mitratel tersebut menjadikan Telkom melalui anak usahanya tersebut sebagai perusahaan menara telekomunikasi terbesar di Indonesia mengalahkan PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) dan PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG).

Penguatan bisnis kemungkinan bakal dilanjutkan dengan penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham Mitratel yang diprediksi tahun depan.

Analis Trimegah Sekuritas Sebastian Tobing mengungkapkan, Mitratel telah mengumumkan akuisisi sebanyak 6.050 menara telekomunikasi milik Telkomsel senilai Rp 10,3 triliun.

Keputusan ini sebagai akuisisi kedua yang dilaksanakan Mitratel setelah sebelumnya berhasil membeli 2.100 menara senilai Rp 4,4 triliun dari PT Indosat Ooredoo Tbk (ISAT).

Menara telekomunikasi. Foto ilustrasi: Investor Daily/IST
Menara telekomunikasi. Foto ilustrasi: Investor Daily/IST

Seperti diketahui, Telkom merupakan pemegang 100% saham Mitratel. Telkom juga tercatat sebagai pemegang 65% saham Telkomsel dan sisanya dikuasai Singtel. Sebagian besar menara yang diakuisisi kemungkinan berada di lokasi strategis, karena menaramenara tersebut dibangun Telkomsel beberapa tahun lalu.

“Nilai akuisisi menara Telkomsel setara dengan Rp 1,7 miliar per menara atau lebih murah dari harga akuisisi menara Indosat. Namun, hal yang paling penting bahwa EV/EBITDA akuisisi tersebut setara dengan 10,2 kali.

Dengan demikian, harga akuisisi tersebut tergolong masuk akal,” tulis Sebastian dalam riset terbaru.

Terkait opsi IPO saham Mitratel, dia menyebutkan bahwa aksi korporasi itu kemungkinan direalisasikan setelah Mitratel berubah menjadi perusahaan menara telekomunikasi terbesar di Indonesia.

Setelah mengakuisisi 6.050 menara, kepemilikan Mitratel akan bertambah menjadi 22.075 menara, lebih banyak dibandingkan Sarana Menara Nusantara sebanyak 21.271 menara dan Tower Bersama sebanyak 15.893 menara.

“Kami memperkirakan transaksi menara Telkomsel oleh Mitratel tuntas awal tahun depan, sehingga kemungkinan IPO saham Mitratel dilaksanakan paling cepat pada semester II tahun 2021. Telkom juga kemungkinan menunggu waktu tepat untuk merealisasikan IPO saham dan valuasinya,” jelas dia.

Kesuksesan IPO saham Mitratel bisa berdampak positif terhadap peluang peningkatan rasio dividen Telkom dalam jangka menengah dan panjang.

Sedangkan dalam jangka pendek, investor masih membutuhkan waktu untuk menguji dampak aksi korporasi tersebut terhadap kas internal perseroan.

Berdasarkan perhitungan, rasio dividen perseroan diperkirakan mencapai 90% dari keuntungan tahun 2020 atau setara dengan Rp 18 triliun. Dengan besaran dividen tersebut, kas internal Telkom kemungkinan turun dari Rp 6 triliun pada akhir 2020 menjadi Rp 3 triliun pada akhir 2021. Level kas internal perseroan tidak pernah di bawah angka tersebut dalam 10 tahun terakhir.

Menurut Sebastian, hal itu kemungkinan membuat rasio dividen perseroan diturunkan ke level 70-80% guna mendapatkan kas internal sebesar Rp 5-7 triliun pada akhir tahun 2021.

Gedung PT Telkom Tbk
Gedung PT Telkom Tbk

Berbagai faktor tersebut mendorong Trimegah Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi beli saham TLKM dengan target harga Rp 3.100. Target harga tersebut telah mempertimbangkan asumsi penurunan rasio dividen perseroan tahun depan.

Target harga tersebut juga memperkirakan ekspektasi peningkatan laba bersih perseroan menjadi Rp 20,44 triliun tahun ini dan menjadi Rp 23,8 triliun pada 2021 dibandingkan raihan tahun 2019 senilai Rp 18,66 triliun.

Pendapatan perseroan juga diharapkan naik menjadi Rp 130,22 triliun pada 2020 dan menjadi Rp 134,97 triliun pada 2021 dibandingkan pencapaian tahun 2019 senilai Rp 135,56 triliun.

Sementara itu, analis BRI Danareksa Sekuritas Niko Margaronis mengungkapkan, keputusan Mitratel membeli sebanyak 6.050 menara telekomunikasi Telkomsel senilai Rp 10,3 triliun akan menjadikan perseroan sebagai perusahaan menara telekomunikasi terbesar di Indonesia.

Akuisisi tersebut juga akan mengubah dinamika dan peta industri telekomunikasi nasional. Akuisisi juga bakal mendongkrak kinerja keuangan Mitratel ke depan.

“Akuisisi tersebut akan mendongkrak jumlah menara telekomunikasi Mitratel menjadi 22.140 menara atau unggul 870 menara dibandingkan Sarana Menara dan lebih banyak 6.248 menara dibandingkan Tower Bersama,” tulis Niko dalam risetnya.

Dia menilai bahwa pelepasan menara telekomunikasi ini tidak berimbas besar bagi Telkom, karena Mitratel merupakan anak usaha dengan kepemilikan saham mencapai 100%.

Sedangkan dari sisi harga jual, transaksi itu memang lebih mahal dilihat dari aspek rasio penyewaan (tenant ratio) sekitar 1,68 kali dibandingkan transaksi pelepasan menara telekomunikasi oleh Indosat tahun lalu.

Meski demikian, menurut dia, harga tersebut masih masuk akal karena didukung oleh lokasi menara yang strategis. Telkomsel merupakan pemain telekomunikasi terlama yang telah memiliki banyak menara di lokasi strategis, sehingga tingkat penyewaan menara tersebut diharapkan cepat meningkat setelah diakuisisi.

Sebelumnya, Niko menargetkan laba bersih Telkom senilai Rp 19,75 triliun tahun 2020 dibandingkan perolehan tahun 2019 senilai Rp 18,66 triliun. Pendapatan perseroan juga diharapkan bertumbuh menjadi Rp 136,62 triliun pada 2020 dibadningkan pencapaian tahun lalu senilai Rp 135,56 triliun.

BRI Danareksa Sekuritas juga mempertahankan rekomendasi beli saham TLKM dengan target harga Rp 3.800. Target harga tersebut merefleksikan perkiraan peningkatan kinerja keuangan di tengah pandemi Covid-19. Bisnis perseroan juga diharapkan mendapat sentimen positif dari membaiknya perekonomian nasional dalam beberapa bulan terakhir.

Sebelumnya, Vice President Investor Relations Telkom Andi Setiawan mengatakan, jual beli menara dilakukan pada 14 Oktober 2020 dengan penandatanganan perjanjian jual beli bersyarat (Conditional Sale and Purchasement Agreement/ CSPA).

“Dengan pembelian menara ini akan memperkuat fundamental bisnis dan memberikan nilai tambah, sekaligus merealisasikan rencana jangka panjang Mitratel,” ujar dia dalam keterangan resmi.

Ke depan, Telkomsel akan fokus pada bisnis utamanya sebagai perusahaan telekomunikasi digital. Hal itu dilakukan dengan membangun ekosistem digital dan memberikan pengalaman digital connectivity terbaik bagi pelanggannya.

Pada tahap pertama, Telkom akan mengonsolidasikan sekitar 5.000-6.000 menara milik Telkomsel ke Mitratel. Konsolidasi ini akan dilakukan sehingga Mitratel bisa menjadi penyedia menara terbesar di Indonesia.

Sementara itu, analis Samuel Sekuritas Indonesia Suria Dharma mengungkapkan, salah satu pasal dalam Omnibus Law UU Cipta Kerja mengatur kerja sama penggunaan spektrum frekuensi radio untuk penerapan teknologi baru, serta pengalihan penggunaan spektrum dengan penyelenggara telekomunikasi lain.

“Pasal ini dapat membantu operator skala kecil menekan belanja modal dalam penerapan teknologi baru. Selain itu, pasal ini memberi kejelasan aturan konsolidasi antar operator telekomunikasi,” tulis dia dalam risetnya.

Menurut dia, operator seperti 3 Indonesia dan Smartfren berkesempatan dikonsolidasikan dengan pemain lainnya. Sementara, pasal lainnya mengatur besaran tarif serta batas atas dan bawah tarif penyelenggara telekomunikasi. Hal ini diharapkan dapat mencegah perang harga antar operator.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN