Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pekerja melintasi layar pergerakan saham di gedung BEI, Jakarta. Foto ilustrasi:  Investor Daily/David Gita Roza

Pekerja melintasi layar pergerakan saham di gedung BEI, Jakarta. Foto ilustrasi: Investor Daily/David Gita Roza

Analisis Lengkap IHSG Sepekan ke Depan, Plus Rekomendasi Saham

Minggu, 27 September 2020 | 19:42 WIB
Thereis Love Kalla (thereis.kalla@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – Pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) dalam sepekan ke depan dibayangi sentimen negatif berlanjutnya pengetatan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Jakarta. IHSG diprediksi bergerak pada kisaran level support 4.820 dan resistance 5.020.

Equity Analyst PT Phillip Sekuritas Indonesia Anugerah Zamzami Nasr mengatakan, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah memperpanjang pengetatan PSBB hingga 11 Oktober 2020. “Pengetatan PSBB masih menjadi fokus perhatian investor, apakah kebijakan tersebut mampu menekan peningkatan kasus Covid-19? Selain itu, pemodal juga tetap mencermati kabar soal obat atau vaksin Covid-19,” kata dia kepada Investor Daily.

Zamzami menegaskan, investor juga akan menanti data ekonomi yang dirilis pada awal Oktober, yang bisa menjadi indikator seberapa besar penurunan pertumbuhan ekonomi pada kuartal III-2020. Selain itu, pemodal menantikan beberapa data, seperti purchasing managers index (PMI), inflasi, dan indeks keyakinan konsumen.

Secara terpisah, analis Sucor Sekuritas Hendriko Gani mengatakan, IHSG akan cenderung melemah selama sepekan ke depan, namun awal pekan ada kemungkinan menguat terbatas. IHSG akan bergerak dengan peluang kembali menguji level resistance 5.000. “Perpanjangan PSBB DKI Jakarta berpotensi menahan laju pergerakan IHSG, seiring dengan kecemasan investor terhadap kemungkinan terjadinya perlambatan kembali pemulihan ekonomi,” tutur dia.

Lebih lanjut Hendriko mengatakan, investor akan mengukur ekspektasi terkait potensi penurunan PDB Indonesia pada kuartal III-2020. Meskipun begitu, investor diharapkan dapat melakukan pembelian secara bertahap terhadap saham-saham yang terkoreksi, apabila terjadi pelemahan IHSG selama pekan depan.

Dia merekomendasikan, saham PT Itama Ranoraya Tbk (IRRA) dengan target harga Rp 830-850 dan buy on breakout saham PT Astra International Tbk (ASII) pada harga 4.850 dengan target harga Rp 5.100-5.400.

Sementara itu, Zamzami merekomendasikan investor untuk selective buying dan buy on weakness (BOW) pada saham-saham yang berpotensi berbalik menguat. Saham-saham tersebut antara lain, saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dengan target harga Rp 28.700, PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) dengan target harga Rp 1.620, dan PT Astra International Tbk (ASII) dengan target harga Rp 5.000.

Secara terpisah, Direktur Anugerah Mega Investama Hans Kwee menyatakan, kenaikan IHSG pada penutupan perdagangan pekan ini karena didukung oleh klaim Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bahwa pengetatan PSBB berhasil menekan kasus baru Covid-19. Penguatan juga didukung oleh kabar tentang vaksin dari perusahaan Tiongkok.

Sedangkan perpanjangan pengetatan PSBB sampai Oktober menjadi sentimen negatif bagi pasar. “Walaupun PSBB ketat hanya diberlakukan di Jakarta, tetapi Jakarta punya kontribusi besar terhadap perekonomian Indonesia, sehingga berpeluang menekan perekonomian Indonesia,” jelas Hans.

Dia menambahkan, dana asing terlihat terus keluar dari bursa saham Indonesia. Asing tercatat telah melakukan aksi jual (net sell) saham selama 16 pekan, bahkan net sell asing pekan lalu mencapai Rp 2,17 triliun. Selama tiga bulan terakhir, asing tercatat melakukan net sell Rp 28,39 triliun. Adapun secara year to date (ytd), net sell asing mencapai Rp 58,42 triliun.

Keluarnya dana asing dalam beberapa bulan terakhir, menurut dia, dipicu oleh penanganan pandemi Covid-19 di Indonesia yang lemah dan kasus baru yang terus naik. Tes Covid-19 di Indonesia juga masih rendah hanya 11.560 orang per 1 juta populasi, jauh di bawah Filipina sebanyak 32.672. Apalagi, Amerika Serikat yang mencapai 309.524 orang.

Dengan berbagai sentimen tersebut, Hans memperkirakan IHSG masih memiliki peluang menguat pada awal pekan, namun cenderung melemah di tengah hingga akhir pekan depan. Level support IHSG pada posisi 4.820 sampai 4.754, sedangkan resistance pada level 4.978 hingga 5.187.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN