Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pengunjung berada di galeri BEI, Jakarta, kemarin.  Foto ilustrasi: Investor Daily/David Gita Roza

Pengunjung berada di galeri BEI, Jakarta, kemarin. Foto ilustrasi: Investor Daily/David Gita Roza

FOKUS PASAR:

AS vs Iran, The Fed, Hingga Optimisme BI Jaga Inflasi 2% 2020

Senin, 6 Januari 2020 | 10:33 WIB
Ghafur Fadillah

JAKARTA, investor.id -The Federal Reserve atau biasa disebut The Fed memproyeksikan ekonomi Amerika Serikat (AS) akan terus bertumbuh meskipun industri di bidang manufaktur sedang mengalami tekanan, kemudian angka pengangguran yang semakin mengecil yakni 3,5% pada bulan November atau capaian terendah dalam kurun waktu 50 tahun.

Meskipun begitu tingkat inflasi sejauh ini masih inkonsistensi di bawah level 2%, sehingga para pembuat kebijakan masih menunggu data ekonomi yang akan masuk berikutnya. Hal tersebut ditanggapi oleh The Fed dengan mengatakan akan mempertahankan tingkat suku bunga The Fed dalam waktu yang cukup lama, hal ini dimaksudkan untuk mendorong inflasi menuju target yang The Fed inginkan.

Data manufacture akan memperlambat pertumbuhan global dan investasi bisnis yang lesu di Amerika. Meskipun begitu pemerintah, AS masih berharap bahwa belanja konsumen Amerika yang kuat dapat mendorong pertumbuhan dari sebelumnya 2% menjadi 2.25% tahun ini.

Head of Fixed Income Division PT Indomitra Securities Maximilianus Nico Demus. Foto: id.linkedIn
Head of Fixed Income Division PT Indomitra Securities Maximilianus Nico Demus. Foto: id.linkedIn

Analis Pilarmas Sekuritas, Nico Maximiliamus Demus mengatakan kemungkinan besar The Fed tidak akan mengubah kebijakan moneternya untuk sementara waktu. Selain itu tingkat suku bunga juga akan akan ditahan hingga 2020 usai.

"Setelah itu tingkat suku bunga The Fed akan mengalami kenaikkan 1x sebanyak 25 bps pada tahun 2021 dan 2022,"jelasnya kepada Investor Daily di Jakarta, Senin (6/1).

Nico menambahkan para pelaku pasar diharapkan memperhatikan ketegangan geopolitik yang terjadi antara Amerika dengan Irak.

“Hal ini juga yang menjadi perhatian kami. Kita semua tentu bersyukur sebelumnya bahwa ketidakpastian antara Amerika dan Tiongkok  terkait dengan perang dagang telah usai. Belum juga kesepakatan ditandatangani, sekarang sudah muncul lagi ketidakpastian geopolitik, tidak hanya Amerika dengan Iran, namun Amerika dengan Korea Utara juga tengah memanas. Ujian pertama di awal tahun sudah dimulai, well, marilah kita berdoa sejenak bahwa ini semua pun akan berlalu. Karena apabila perang terjadi, maka semua pihak akan dirugikan. Namun bukan investasi namanya kalau tidak melihat kesempatan dalam kesempitan. Emas mungkin akan menggeliat terkait dengan sentimen negatif yang terjadi saat ini,” paparnya.

Terbaru, AS dan Tiongkok akan segera menandatangani perjanjian kesepakatan dagang pada tanggal 15 Januari 2020, hal ini menjadi kabar baik bagi para pelaku pasar dimana akhirnya ketidakpastian yang diakibatkan perang dagang akan segera usai dan akan menjadi tolok ukur membaiknya perekonomian dunia yang akan dirasakan tidak hanya Amerika dan Tiongkok namun seluruh dunia.

Namun lagi-lagi AS kembali berulah, kali ini serangan udara dari Amerika terhadap Irak telah membuat seorang jenderal militer berpangkat tinggi Irak meninggal dunia.

Presiden AS, Donald Trump mengatakan hal tersebut dilakukan untuk mencegah kembali terjadinya peperangan yang berkelanjutan antara AS dan Irak. Hal tersebut mengejutkan para pelaku pasar karena presiden sebelumnya seperti George W Bush dan Barrack Obama pun tidak pernah mengambil tindakan seperti itu.

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump saat ikut serta dalam jamuan makan siang dengan perwakilan tetap Dewan Keamanan (DK) PBB di Ruang Kabinet Gedung Putih di Washington, DC, pada 5 Desember 2019. ( Foto: AFP / MANDEL NGAN )
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump saat ikut serta dalam jamuan makan siang dengan perwakilan tetap Dewan Keamanan (DK) PBB di Ruang Kabinet Gedung Putih di Washington, DC, pada 5 Desember 2019. ( Foto: AFP / MANDEL NGAN )

Kemudian atas kejadian tersebut harga minyak mengalami penguatan secara drastic. Apabila kenaikan harga minyak tidak terkendali, Nico menjelaskan hal tersebut dapat berdampak buruk bagi pasar terlebih sejauh ini yang akan terkena dampaknya adalah para negara yang melakukan importir minyak salah satunya Tiongkok. Namun di sisi lain, sebagai Negara yang melakukan ekspor minyak, tentu akan memberikan pendapatan yang lebih besar.

Kabar terakhir menyebutkan bahwa Parlemen Irak meminta pemerintah untuk mengakhiri kehadiran pasukan asing di wilayahnya dan mengusir pasukan Amerika dari Irak. Selain itu Irak sudah tidak lagi menganggap dirinya terikat oleh perjanjian nuklir pada tahun 2015 lalu yang telah dinegosiasikan dengan Amerika bersamaan dengan Negara lainnya.

Lebih lanjut  Parlemen Irak menyebutkan bahwa serangan pesawat tak berawak yang terjadi tersebut sebagai sebagai pelanggaran kedaulatan Negara dan menyerukan kepada Pemerintah untuk mencabut permintaannya pada tahun 2014 untuk intervensi militer asing. Dari 172 legislator yang hadir hampir semuanya memberikan hak suaranya, tetapi hampir 160 anggota  parlemen, terutama dari Sunni dan Kurdi mereka tidak memberikan suaranya.

Beralih ke dalam negeri, Bank Indonesia optimistis dapat menjaga Inflasi tahun 2020 pada kisaran 2% hingga 4%. Level tersebut dinilai tidak terlepas dari konsistensi BI menjaga stabilitas harga komoditas.

Bank Indonesia.
Bank Indonesia.

Nico melihat kebijakan moneter dari BI dan kebijakan fiskal dari pemerintah cukup bekerja baik guna menjaga stabilitas inflasi berada pada target. Namun hal lain yang perlu diperhatikan adalah rendahnya inflasi tersebut mengindikasikan adanya daya beli yang rendah.

"Ditambah lagi besarnya kenaikan iuran BPJS Kesehatan dan cukai rokok pada tahun ini dinilai dapat berdampak pada kemampuan masyarakat untuk pengeluaran konsumsi," kata dia.

Nico menambahkan pemerintah perlu menjaga harga bahan baku, agar pertumbuhan ekonomi tidak menjadi kambing hitam dari fokus kebijakan yang hanya bertitik pada stabilitas inflasi. Selain itu, belanja bantuan sosial juga harus segera dilakukan pemerintah.

"Jenis belanja ini, diharapkan mampu menutupi penurunan yang disebabkan oleh kenaikan beragam tarif seperti BPJS Kesehatan dan cukai rokok," pungkasnya.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN