Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Unit mobil. Foto: Beritasatuphoto/Joanito De Saojoao

Unit mobil. Foto: Beritasatuphoto/Joanito De Saojoao

Astra Tetap dalam Kehati-hatian

Kamis, 18 Maret 2021 | 04:30 WIB
Parluhutan Situmorang

JAKARTA, investor.id - PT Astra International Tbk (ASII) mendapatkan angin segar dari pemulihan ekonomi, penerapan insentif pajak pembelian mobil, dan penguatan bisnis anak usaha. Namun, perseroan masih menghadapi kehati-hatian, terutama di bisnis otomotif tahun ini.

Analis BRI Danareksa Sekuritas Stefanus Darmagiri mengungkapkan, meski ekonomi nasional diperkirakan mulai pulih dan semakin banyak jumlah penduduk yang mendapatkan vaksin Covid-19, prospek bisnis perseroan diperkirakan tetapdalam kehati-hatian tahun ini. Guna mendukung pertumbuhan di tengah kehati-hatian ini, perseroan memang sedang menjajaki peluang baru, khususnya bisnis digital.

“Kehati-hatian pertumbuhan bisnis Astra International tahun ini mendorong kami untuk memangkas turun target harga saham ASII dari Rp 7.800 menjadi Rp 7.500 dengan rekomendasi dipertahankan beli. Target harga ini juga mempertimbangkan penurunan target harga saham PT United Tractors Tbk (UNTR) menjadi Rp 31.000,” tulis Stefanus dalam risetnya.

Terkait dampak kebijakan pemerintah yang membebaskan pajak penjualan barang mewah (PPnBM) untuk mobil berkapasitas mesin di bawah 1.500 cc sepanjang Maret 2020, menurut dia, belum bisa diprediksi pasti dampaknya terhadap penjualan otomotif perseroan.

Menara Astra International. Foto: dok. Astra
Menara Astra International. Foto: dok. Astra

Sebelumnya, Gaikindo telah merevisi naik target penjualan mobil nasional menjadi 750 ribu unit tahun 2021 atau bertambah 80 ribu unit dari perkiraan semula. Meski terbuka peluang peningkatan permintaan mobil setelah kebijakan insentif pajak, Astra International diprediksi menghadapi kendala dalam memenuhi kebutuhan pasar akibat kekurangan pasokan bahan baku dari prinsipal, menyusul kekurangan semikonduktor. Toyota dan Daihatsu memang sedang mencari sumber semikonduktor lain untuk mengatasi kekurangan pasokan tersebut.

“Kami memperkirakan masalah tersebut bisa berimbas terhadap produksi mobil perseroan pada kuartal II-2021, khususnya menjelang puasa dan Lebaran. Oleh karena itu,

kami mempertahankan asumsi penjualan mobil nasional sebanyak 780 ribu unit tahun ini atau melonjak 46,5% dari perolehan tahun 2020,” jelas Stefanus.

Terkait dukungan pemerintah untuk pengembangan mobil listrik (electric vehicle/ EV) guna menekan emisi karbon, Stefanus menjelaskan bahwa Astra memang sedang mengambil sejumlah strategi yang mengarah pengembangan EV. Bahkan, perseroan telah mulai menjual kendaraan hybrid, PHEV, dan EV. Perseroan melalui Toyota dan Lexus telah memasarkan setidaknya 10 model kendaraan ramah lingkungan, yaitu delapan mobil HEV, satu PHEV, dan satu EV.

Astra juga sudah mulai gencar mendidik pelanggan terkait keuntungan penggunaan mobil listrik guna meningkatkan permintaan masyarakat. Selain itu, perseroan menargetkan mulai memproduksi mobil listrik di dalam negeri mulai tahun depan.

Namun, kehati-hatian terhadap prospek industri otomotif tahun ini mendorong BRI Danareksa Sekuritas memangkas turun target laba bersih Astra International dari Rp 17,55 triliun menjadi Rp 17,16 triliun tahun ini.

Sedangkan pendapatan dipertahankan dengan target harga Rp 214,71 triliun. Target ini mempertimbangkan penjualan sekitar 780 ribu unit mobil dan sebanyak 3,19 juta unit sepeda motor secara nasional.

Tahun lalu, Astra International meraih pendapatan bersih Rp 175,04 triliun, turun 26% dibandingkan 2019 sebesar Rp 237,16 triliun. Laba bersih dengan menghitung keuntungan dari penjualan PT Bank Permata Tbk (BNLI) mencapai Rp 16,2 triliun, turun 26% secara tahunan. Tanpa memasukkan keuntunan tersebut, maka laba bersih Astra terpangkas 53% secara tahunan menjadi Rp 10,3 triliun.

Harga saham ASII satu dekade terakhir, prospek saham ASII, dan kinerja keuangan Astra International
Harga saham ASII satu dekade terakhir, prospek saham ASII, dan kinerja keuangan Astra International

Pelemahan kinerja itu dipicu pandemi Covid-19 dan langkahlangkah penanggulangannya yang menyebabkan penurunan kinerja divisi otomotif, alat berat dan pertambangan, serta jasa keuangan.

Sebelumnya, analis Trimegah Sekuritas Hasbie dan Willinoy Sitorus dalam risetnya mengungkapkan, Astra International merupakan produsen mobil yang paling diuntungkan dalam penerapan insentif pajak tersebut. Sebab, jumlah produk perseroan terbanyak mendapatkan insentif.

Selain insentif PPnBM untuk mobil, pemerintah merelaksasi uang muka menjadi 0% untuk pembelian mobil secara kredit. Meski demikian, hal itu masih perlu dikaji lebih jauh seberapa besar dampak relaksasi tersebut, menyusul sejumlah perusahaan pembiayaan masih kaku dalam pengenaan uang muka kredit pembelian mobil ini.

Hasbie dan Willinoy memperkirakan rata-rata penurunan harga jual produk mobil MPV oleh Astra International sekitar 7-12%.

“Kami menilai bahwa insentif pajak, optimism terhadap pulihnya ekonomi, berlanjutnya distribusi vaksin Covid-19, dan momen Lebaran diharapkan menjadi sentiment positif terhadap penjualan mobil tahun ini,” jelas mereka.

Terkait realisasi penjualan mobil nasional sepanjang Januari 2021 yang mencapai 53 ribu unit, Hasbie dan Willinoy mengungkapkan bahwa itu terjadi penurunan sebesar 34% dari realisasi bulan yang sama tahun 2020 dan turun sekitar 7,4% dibandingkan Desember 2020.

Adapun penjualan mobil oleh Astra International mencapai 26,8 ribu unit, sehingga pangsa pasar penjualan perseroan mencapai 50,7% pada Januari 2021 atau mendatar dari realisasi tahun 2020 sekitar 50,7%.

Penurunan volume penjualan mobil domestik diperkirakan berlanjut hingga Februari, seiring dengan aksi tunggu konsumen atas penerapan insentif PpnBM mulai Maret 2021. Namun, penurunan penjualan Januari dan Februari tersebut diharapkan bisa terbantu dengan kebijakan PpnBM dan sejumlah sentiment positif lainnya.

Sebab itu, Trimegah Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli saham ASII dengan target harga Rp 7.500. Target harga tersebut juga mempertimbangkan peluang kinerja keuangan perseroan yang lebih baik tahun ini dibandingkan realisasi tahun 2020.

Laba bersih Astra International diproyeksi meningkat menjadi Rp 18,74 triliun pada 2021 dibandingkan target 2020 yang senilai Rp 17,42 triliun.

Pendapatan perseroan juga diharapkan meningkat dari target tahun lalu Rp 170,03 triliun menjadi Rp 209,33 triliun..

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN