Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
PT Bank Multiarta Sentosa Tbk (MASB) atau Bank Mas. (Foto: Perseroan)

PT Bank Multiarta Sentosa Tbk (MASB) atau Bank Mas. (Foto: Perseroan)

Bank Mas (MASB) Cetak Kenaikan Laba Bersih Jadi Rp 60 Miliar

Senin, 9 Mei 2022 | 16:24 WIB
Prisma Ardianto (prisma.ardianto@beritasatumedia.com)

JAKARTA, Inveator.id - PT Bank Multi Arta Sentosa Tbk (Bank Mas/MASB) mencetak laba bersih kuartal I-2021 sebesar Rp 60 miliar atau tumbuh 37,00% secara year on year (yoy). Perseroan pun optimistis bisa memenuhi modal minimum Rp 3 triliun melalui penukaran waran.

Direktur Utama Bank Mas Danny Hartono menyampaikan, pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) mencapai Rp 180 miliar atau tumbuh 28,09% (yoy) pada kuartal I-2022. Beban bunga turun signifikan 26,18% (yoy) menjadi Rp 125 miliar.

Baca juga: Bank Mas (MASB) Bisa Raup Dana hingga Rp 650 Miliar dari Penukaran Waran

Adapun margin bunga bersih (net interest margin/NIM) tercatat meningkat dari 2,67% menjadi 3,42%. Perseroan juga berhasil menekan rasio beban operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) dari 81,46% menjadi 74,86%.

"Laba bersih tahun lalu (2021) sebesar Rp 213 miliar atau tumbuh 96,99%. Per Maret 2021, laba bersih sebesar Rp 44 miliar, sedangkan pada Maret 2022 sebesar Rp 60 miliar, ada pertumbuhan sebesar 37%," terang Danny dalam konferensi pers daring, Senin (9/5).

Dia menjelaskan, pencapaian itu tidak terlepas dari realisasi penyaluran kredit yang masih tumbuh 8,26% (yoy) menjadi Rp 7,92 triliun pada kuartal I-2021. Tapi pertumbuhan itu dinilai terbatas karena kehati-hatian perusahaan melihat pandemi masih berlangsung. Imbasnya loan to deposit ratio (LDR) masih relatif rendah di level 40,98%.

"Melepas kredit itu gampang, tapi apa kredit itu akan kembali dengan selamat? Itu yang perlu kita lihat dengan seksama. Kondisi saat ini kita mulai lagi tumbuh, kita canangkan tumbuh 12%. Kalau pandemi cepat berakhir, maka kita akan lakukan revisi pertumbuhan itu," ucap Denny.

Dana pihak ketiga (DPK) Bank Mas tercatat menyusut 8,72% menjadi Rp 19,32 triliun pada kuartal I-2022. Meski begitu, perusahaan masih mencanangkan DPK tumbuh 9% pada akhir tahun ini di angka Rp 22 triliun. Selain itu, laba bersih ditargetkan hanya tumbuh 6% menjadi Rp 225 triliun, seiring proyeksi BOPO yang naik menjadi 80,68% karena berbagai ekspansi digital.

Sementara itu, sebagai tindak lanjut dari initial public offering (IPO) tahun lalu, semua pembeli saham Bank Mas mendapatkan waran secara gratis yang dapat ditukarkan menjadi saham sepanjang tahun ini. Penukaran waran itu diharapkan bisa kembali menambah ekuitas minimum perusahaan.

"Dengan demikian jumlah yang diterbitkan ada 168.176.500 waran, kalau ditukarkan dengan Rp 3.500 itu menjadi sekitar Rp 651,6 miliar, sebagai tambahan modal disetor. Ini untuk meningkatkan modal kita agar mencapai Rp 3 triliun seperti yang ditetapkan OJK," kata Danny.

Per Maret 2022, Bank Mas mencatat ekuitas sebesar Rp 2,62 triliun. Nilai itu jauh meningkat dibandingkan akhir tahun 2020 sebesar Rp 1,89 triliun, sebagai hasil dari IPO tahun pada lalu. Kemudian dengan penukaran waran menjadi saham, perseroan memperkirakan ekuitas bertambah menjadi Rp 3,2 triliun sampai dengan Rp 3,3 triliun.

Danny menerangkan bahwa salah satu strategi lain untuk menambah modal adalah dengan tidak membagikan dividen tahun buku 2021 seperti yang telah disepakati RUPS. Ke depan, perusahaan masih memantau perkembangan terkait kemungkinan masuknya investor strategis maupun aksi korporasi lainnya.

"Artinya, kita tidak menutup kemungkinan kalau nanti bank ini semakin besar, kita butuh tambahan modal yang lebih besar dan lebih banyak sinergi yang diperlukan, maka kita selalu terbuka. Pendekatan kita adalah kolaborasi bukan berkompetisi," ujar dia.

Digitalisasi
Selama pandemi, kata Denny, perusahaan mempersiapkan layanan digital banking seperti yang dibutuhkan masyarakat saat ini. Kebutuhan itu tercermin dengan realisasi transaksi elektronik di Bank Mas mencapai 80%.

Baca juga: Haryati Lawidjaja Jadi Direktur Layanan Perbankan Digital Bank MAS

Dalam strateginya meningkatkan transaksi, kolaborasi dilakukan bersama entitas-entitas fintech. Penetrasi digital lebih lanjut juga diterapkan untuk merambah ekosistem Wings Group yang merupakan pemegang saham perseroan.

"Wings Group ini banyak punya agen, toko, sampai dengan warung kecil yang akan digarap. Kita tidak mungkin garap pada periode sebelumnya, karena harus buka cabang-cabang. Sekarang dengan digitalisasi, kita lebih baik untuk bisa melayani segmen nasabah itu," imbuh dia.

Direktur Bank Mas Haryati Lawidjaja menyatakan bahwa perusahaan telah banyak menggarap segmen korporasi. Fokus saat ini digeser untuk menyasar segmen ritel melalui layanan digital banking yang mudah dan ramah bagi seluruh lapisan masyarakat.

"Strategi kedua adalah kolaborasi. Bicara digital banking, open app ini sangat terbuka kesempatan melalui kolaborasi. Artinya tumbuh bersama untuk bisa melayani konsumen dari Bank Mas dan rekan kolaborasi. Apalagi nasabah memiliki banyak kebutuhan, tidak melulu satu hal. Sehingga kita bisa memberikan pelayanan pada ekosistem secara relevan," kata perempuan yang akrab disapa Fey itu.

Editor : Parluhutan (parluhutan@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN