Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Gubernur Bank Indonesia Perry Wajiyo saat memberikan keterangan pers mengenai Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia, di Jakarta, Selasa (19/5/2020). Foto: Humas Bank Indonesia

Gubernur Bank Indonesia Perry Wajiyo saat memberikan keterangan pers mengenai Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia, di Jakarta, Selasa (19/5/2020). Foto: Humas Bank Indonesia

BI Telah Injeksi Likuiditas ke Perbankan Rp 670 Triliun, Bank Masih Selektif Salurkan Kredit

Rabu, 28 Oktober 2020 | 18:28 WIB
Triyan Pangastuti

JAKARTA, investor.id - Bank Indonesia mengungkapkan sejak awal tahun ini hingga akhir Oktober lalu telah melakukan injeksi likuiditas ke perbankan atau quantitative easing (QE) mencapai Rp 670 triliun. Namun, perbankan kini lebih selektif dalam menyalurkan kredit.

QE ini tercatat naik Rp 2,4 triliun dari informasi quantitative easing dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) lalu yang mencapai Rp 667,6 triliun.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengungkapkan likuiditas perbankan kini sudah lebih dari cukup, sehingga mendorong penurunan suku bunga dan kondusif untuk pembiayaan perekonomian.

Kendati begitu, Perry tidak merinci bentuk dari suntikan dana tersebut. Ia hanya menyebut injeksi likuiditas itu dilakukan melalui pembelian surat berharga negara (SBN) dari pasar sekunder, penyediaan likuiditas ke perbankan dengan mekanisme term repurchase agreement (repo), dan penurunan giro wajib minimum (GWM).

Bank Selektif Salurkan Kredit
Lebih lanjut Perry mengakui bahwa ada permasalahan sisi persepsi risiko yang tinggi, sehingga menyebabkan perbankan lebih selektif dalam menyalurkan kredit.

“Injeksi likuiditas kurang lebih Rp 670 triliun atau mencapai 4 persen  terhadap produk domestik bruto. Tapi ada masalah persepsi risiko tinggi, sehingga bank-bank milih-milih (menyalurkan kredit),” tuturnya dalam webinar menavigasi pemulihan kesehatan dan ekonomi nasional di tengah pandemi, Rabu (28/10).

Faktor lainnya, sisi permintaan kredit masih melemah. Hal ini disebabkan aktivitas ekonomi dunia usaha belum kembali normal, yang menimbulkan adanya credit crunch.

Untuk mengatasi hal tersebut, Otoritas Jasa Keuangan telah memperpanjang restrukturisasi kredit hingga Maret 2022, guna mempertemukan antara permintaan dan akses kredit. Selain itu, akan terus didorong penyaluran kredit perbankan dengan mempertemukan demand and supply kredit itu, dengan mempererat komunikasi antara menteri keuangan, ketua DK OJK, dunia usaha, dan perbankan. 

"Perlu demand for credit dan matching ini mengatasi kalau credit crunch dan asimetris informasi, itu penting. Kemudian Ketua DK OJK, Pak Wimboh,  sudah memperpanjang program restrukturisasi kredit sehingga memberikan nafas bagi dunia usaha dan perbankan untuk mengatasi tadi,” ujarnya.

Stimulus BI yang Lain
Selain melalui injeksi likuiditas, Perry mengatakan, BI juga mendorong pemulihan ekonomi nasional melalui stimulus kebijakan moneter dan makroprudensial. Ini di antaranya BI telah menurunkan suku bunga acuan sebanyak 4 kali di tahun ini. Kemudian, BI juga berperan dalam mendanai APBN untuk pembiayaan fiskal di tahun 2020.

“Kami  ikut mendanai untuk pembiayaan fiskal, stabilisasi nilai tukar rupiah, dan melonggarkan makroprudensial. Itu stimulus moneter dan makroprudensial dari BI,” tuturnya.

Dengan begitu, lanjut dia, BI berharap pemerintah segera mempercepat realisasi anggaran pemulihan ekonomi nasional (PEN) dan APBN untuk mendorong pemulihan ekonomi nasional dari sisi fiskal.

“Kemenkeu genjot realisasi anggaran tahun ini dan insyaallah beliau (menteri keuangan)  akan  mempercepat realisasi anggaran tahun depan, DIPA-DIPA juga dipercepat  sehingga awal tahun depan APBN yang telah disetujui DPR segera dilakukan, sehingga stimulus fiskal mendorong ekonomi dan meningkatkan permintaan,” tuturnya.

Editor : Esther Nuky (esther@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN