Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Sandiaga Uno. (Foto: Beritasatu Photo)

Sandiaga Uno. (Foto: Beritasatu Photo)

Bicara Pasar Saham Kuartal IV, Ini Saran Sandiaga Uno untuk Pemodal

Minggu, 1 November 2020 | 22:04 WIB
Farid Firdaus (farid.firdaus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – Pengusaha Sandiaga Uno menyarankan pemodal segera menempatkan portofolio investasinya di pasar saham pada kuartal IV-2020. Sentimen paling dekat yang mempengaruhi pasar saham adalah pemilihan umum presiden Amerika Serikat (AS) dan antisipasi vaksin Covid-19.

Saat ini, rata-rata jajak pendapat cenderung berpihak kepada calon presiden AS dari Partai Demokrat, Joe Biden. Namun, apapun dapat terjadi pada 3 November. Hal ini bercermin saat pemilu 2016, dimana Donald Trump mengalahkan Hillary Clinton saat detik-detik terakhir.

Saat pandemi, lanjut Sandiaga, pemodal disarankan tetap selektif dalam memilih saham dengan mempertimbangkan kinerja fundamental emiten. Namun, pemodal juga sebaiknya tidak kehilangan optimisme di tengah pasar yang bergejolak.

Menurut Sandiaga, sektor perbankan dan barang konsumsi akan sangat menjanjikan dalam lima hingga 10 tahun ke depan dengan mencermati trajectory pemulihan ekonomi setelah pandemi. Berinvestasi pada saham emiten yang konsisten membagikan dividen sekaligus menjaga cash flow juga sangat disarankan.

“Kita mesti jeli dan jangan ragu-ragu berinvestasi pada perusahaan yang membayar dividen dan punya balance sheet yang sehat, mayoritas memang ada di LQ45,” kata dia saat webminar bertajuk Investasi di Pasar Saham, Tips and Insight” yang digelar Sandilogi, 12 bros, Aden & Co, serta Barito Pacific, baru-baru ini.

Sandiaga menambahkan, secara jangka panjang, pihaknya cenderung merekomendasikan investasi yang terdiversifikasi. Pada pasar saham, penempatan portofolio bisa sebesar 35%-40% dari total alokasi investasi, lalu porsi di pasar obligasi sekitar 30%-35%, dan sisanya bisa dialokasikan pada bentuk investasi alternatif seperti komoditas emas. Para pemodal pun disarankan jangan terlalu banyak menyimpan aset dalam bentuk uang tunai.

Sandiaga yang mengendalikan sebagian saham PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG) ini juga punya harapan pada sejumlah perusahan teknologi berstatus unicorn dapat merealisasikan penawaran umum perdana (initial public offering/IPO).

“Mungkin sembari menunggu Tokopedia, Gojek, dan Traveloka go public, kita bisa mencermati perusahaan yang sekarang punya keunggulan dalam digitalisasi. Memang kita sekarang masih menunggu versi Amazon di Indonesia yang bisa melantai di bursa,” jelas dia.

Selain dari start-up, dia juga berharap banyak perusahaan besar, terutama Badan Usaha Milik Negara (BUMN), yang melantai di bursa. Sandiaga mengaku pernah menyatakan harapan ini kepada Menteri BUMN Erick Thohir.

“BUMN seperti Pertamina dan PLN belum IPO. Kalaupun induk usahanya belum berminat, setidaknya unit usaha mereka bisa IPO, karena ini akan menambah bobot bursa saham kita,” jelas dia.

Perbanyak Investasi

Sandiaga Uno siap mengucurkan lebih banyak investasi di sektor energi terbarukan (renewable energy), perbankan dan teknologi keuangan (fintech), serta barang konsumsi. Hal itu menyusul semakin prospektifnya tiga sektor tersebut pada tahun depan.

Menurut Sandiaga, pihaknya menyukai bank-bank besar yang mengembangkan produk digital banking, termasuk fintech. Ke depan, perkembangan teknologi sektor perbankan diyakini bakal terus membuat ekonomi lebih efisien.

“Investasi di sektor natural resources yang lebih kepada renewable energy juga saya lanjutkan karena ini akan menjadi tren. Selain itu, saya tetap menyukai consumer goods,” ujar dia.

Sebagai investor, Sandiaga mengaku punya pengalaman merugi. Dia pernah melakukan jual rugi atau cut and loss saham emiten di sektor penerbangan. Apabila waktu bisa diputar kembali, pria kelahiran 28 Juni 1969 ini berharap bisa lebih banyak masuk ke saham-saham sektor teknologi. Pihaknya bahkan merasa sedikit terlambat saat mulai berinvestasi pada perusahaan makanan dan pertanian.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN