Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Bank BTN. Foto: UTHAN

Bank BTN. Foto: UTHAN

BTN Terdorong Sentimen Positif Tapera

Parluhutan Situmorang, Kamis, 4 Juni 2020 | 06:00 WIB

JAKARTA, investor.id - PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) mendapatkan sentimen positif dari Peraturan Pemerintah (PP) tentang Badan Pengelola Tabungan Perumahan Rakyat (BP Tapera). Selain itu, perseroan dinilai sebagai bank yang cukup kuat dalam menghadapi dampak pandemi Covid-19.

Pesiden Joko Widodo telah meneken PP No 25 Tahun 2020 tentang Penyelenggaraan Tabungan Perumahan Rakyat atau Tapera pada 20 Mei 2020. Regulasi tersebut memungkinkan BP Tapera segera beroperasi.

Berdasarkan Pasal 7 PP 25/2020, BP Tapera akan mengelola dana perumahan bagi Pegawai Negeri Sipil (PNS), calon PNS, Aparatur Sipil Negara (ASN), prajurit dan siswa Tentara Nasional Indonesia (TNI), Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri), pejabat negara, pekerja di Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Badan Usaha Milih Daerah (BUMD), Badan Usaha Milik Desa, perusahaan swasta, serta pekerja apa pun yang menerima upah.

Peraturan tersebut menetapkan besaran simpanan peserta sebesar 3% dari gaji atau upah untuk peserta pekerja dan peserta pekerja mandiri.

Sedangkan peserta Tapera dengan status pekerja, simpanan ditanggung bersama oleh pemberi kerja (perusahaan) sebesar 0,5% dan pekerja sebesar 2,5%, dan peserta mandiri membayar sendiri kewajibannya.

Analis Sinarmas Sekuritas Evan Lie Hadiwidjaja mengungkapkan, BTN memiliki sejumlah sentimen penopang pertumbuhan kinerja keuangan dan saham hingga akhir tahun ini. Salah satunya adanya program Tapera.

“Likuiditas perseroan akan didukung Tapera,” tulis dia dalam risetnya, baru-baru ini.

Sentimen positif lainnya adalah relaksasi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terkait restrukturisasi kredit perbankan dan BTN tergolong sebagai institusi strategis bagi pemerintah dalam pemenuhan rumah. Perseroan juga didukung oleh paket stimulus yang digelontorkan pemerintah senilai Rp 1,5 triliun sebagai subsidi bunga kredit kepemilikan rumah (KPR) tahun ini.

Dana tersebut akan menyubsidi sebanyak 172 ribu rumah yang sebagian besar atau mencapai 146 ribu dibiayai lewat BTN.

Selain itu, menurut Evan Lie, manajemen BTN menunjukkan sikap lebih optimistis terhadap kinerja operasional dan keuangan di tengah pandemic Covid-19 dibandingkan emiten perbankan lainnya. Optimisme tersebut didukung oleh peningkatan rasio coverage perseroan menjadi 105,7% pada kuartal I-2020 dibandingkan periode sama tahun lalu mencapai 45,1%.

Manajemen perseroan juga memperkirakan peningkatan margin bunga bersih (net interest margin/NIM) dalam beberapa kuartal mendatang yang didukung oleh penurunan biaya pendanaan (cost of fund), seiring dengan penurunan deposito berjangka menjadi pendanaan di luar dana pihak ketiga (DPK) atau pendanaan berskala besar (wholesale funding).

Sedangkan kredit yang direstrukturisasi akibat pandemi Covid-19, ungkap dia, diproyeksikan sebesar 17,6% dari Rp 112,8 triliun sebagai kredit kepemilikan rumah bersubsidi dan mencapai 28,2% dari total kredit kepemilikan rumah tanpa subsidi yangn senilai Rp 80 triliun kemungkinan masuk dalam program ini.

Seluruh kredit tersebut berasal dari debitur dengan tingkat risiko tinggi. Hal ini mendorong manajemen perseroan untuk merevisi turun target laba bersih perseroan tahun ini dari Rp 2,5 triliun menjadi sekitar Rp 1,2-1,3 triliun.

Meski perseroan menghadapi sejumlah tantangan, Sinarmas Sekuritas memilih untuk menaikkan rekomendasi saham BBTN dari netral menjadi beli dengan target harga Rp 1.340. Target harga tersebut mengimplikasikan PBV tahun 2021 sekitar 0,9 kali.

Saat ini, harga BBTN masih ditransaksikan di level BV 0,5 kali atau sama dengan level dimana belum adanya program pembangunan satu juta rumah.

Target harga tersebut juga menggmbarkan ekspektasi pertumbuhan PPOP BTN menjadi Rp 4,32 triliun tahun ini dibandingkan realisasi tahun lalu senillai Rp 4 triliu. Begitu juga dengan laba bersih diharapkan melonjak menjadi Rp 763 miliar pada 2020 dibandingkan realisasi tahun 2019 senilai Rp 209 miliar.

Sedangkan PPOP dan laba bersih perseroan tahun depan diharapkan kembali melonjak masing-masing menjadi Rp 6,56 triliun dan Rp 2,44 triliun.

Sementara itu, analis Danareksa Sekuritas Eka Savitri mengungkapkan, BTN akan memfokuskan likuiditas di tengah kondisi sekarang.

“Dengan fokus perseroan untuk mempertahankan likuditas, kami memperkirakan peningkatan NIM perseroan hanya mencapai 20 bps menjadi 3,3% tahun ini,” tulis dia dalam risetnya.

Sedangkan rasio kredit bermasalah (gross NPL) perseroan diperkirakan mencapai 4,1% hingga akhir tahun ini dengan perkiraan biaya krdit mencapai 124 bps. Hal ini mendorong Danareksa Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi beli saham BBTN dengan target harga Rp 1.500. Target harga tersebut mengasumsikan ROAE sekitar 10,3% dan pertumbuhan jangka panjang mencapai 3%.

Target harga terebut juga mempertimbangkan peningkatan PPOP perseroan menjadi Rp 4,67 triliun tahun ini dibandingkan raihan tahun lalu senilai Rp 4 triliun.

Sedangkan laba bersih diharapkan melonjak menjadi Rp 1,13 triliun pada 2020 dibandingkan perolehan tahun 2019 senilai Rp 209 miliar.

Kemarin, harga saham BBTN melonjak sebesar 21,71% menjadi Rp 925. Lonjakan harga tersebut dipengaruhi atas sentimen positif Tapera. Meski demikian, harga saham tersebut masih lebih rendah dari level tertinggi perseroan terhitung sejak awal tahun hingga kemarin pada level Rp 2.180.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN