Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi investasi. Foto: Pixabay

Ilustrasi investasi. Foto: Pixabay

Dana Kelolaan Danareksa Investment Capai Rp 35 Triliun

Thereis Love Kalla, Senin, 18 Mei 2020 | 10:10 WIB

JAKARTA, investor.id – Danareksa Investment Management (DIM) mencatatkan kenaikan dana kelolaan (asset under management/AUM) sebesar 4% secara year to date menjadi sebesar Rp 35 triliun. Instrumen pendapatan tetap (fixed income) menjadi faktor utama pertumbuhan AUM reksa dana DIM selama empat bulan terakhir dari Rp 22,7 triliun menjadi hampir sebesar Rp 25 triliun.

CEO DIM Marsangap P Tamba mengungkapkan, pandemi Covid-19 menyebabkan pertumbuhan ekonomi turun dari 4,97% pada kuartal IV-2019 menjadi 2,97% pada kuartal I-2020. Meski demikian, hingga Maret 2020, pasar DIM tumbuh dari 4,2% menjadi 4,8%.

“Lebih dari 60% investasi DIM berada pada instrumen pendapatan tetap, termasuk pada obligasi pemerintah dan obligasi korporasi dengan rata-rata peringkat AA. Kami tentu akan menyesuaikan diri dengan kebutuhan Investor dan perkembangan ekonomi untuk dapat memberikan nilai tambah jangka panjang buat para Investor,” jelas Marsangap dalam konferensi pers virtual, baru-baru ini.

Sementara itu, untuk portofolio saham DIM terdiri atas beberapa produk reksa dana berbasis saham, yang saat ini ditempatkan secara rata-rata pada saham-saham berkapitalisasi besar dengan historis laba yang baik. “Tingkat likuiditas dari berbagai portofolio DIM saat ini cukup tinggi dan ditempatkan pada bank-bank besar atau rata-rata pada bank BUKU III. Preferensi ini cukup penting untuk menopang kelanjutan investasi jangka panjang,” kata dia.

Lebih lanjut Marsangap mengatakan, pemilihan terhadap instrumen yang lebih likuid dan berkualitas tinggi akan terus menjadi fokus di tengah fluktuasi jangka pendek yang akan terus berlanjut pada masa sulit ini, sambil memantau kemungkinan peluang yang ada.

Meski demikian, pihaknya tak menutup kemungkinan untuk merevisi target dana kelolaan atau AUM tahun ini di tengah tekanan akibat pandemi Covid-19 yang turut dirasakan oleh industri reksa dana. Target dana kelolaan DIM berpotensi direvisi turun 10% menjadi sekitar Rp 30,6-31,5 triliun dari target semula Rp 35 triliun. “Itu karena potensi koreksi pasar dan early redemption beberapa produk yang mendekati mature-nya. Tapi kami berupaya untuk bisa menjaga dana kelolaan stabil di Rp 34-35 triliun,” tutur dia.

Marsangap menegaskan, reksa dana pendapatan tetap dan reksa dana pasar uang (money market) bisa menjadi alternatif investasi dibandingkan instrumen seperti deposito. Hal ini sejalan dengan strategi investasi yang lebih defensif dengan fokus pada kualitas instrumen investasi yang moderat, low risk, dan likuiditas yang tinggi di tengah pandemi Covid-19.

“Buat investor saat ini, yang paling ideal yang likuiditasnya tinggi. Kalau orang bilang cash is the king, tapi kalau di manajer investasi saat ini adalah reksa dana money market is king. Soalnya reksa dana ini bisa berikan upside dibanding produk deposito dan tawaran return-nya lebih menarik,” ujarnya.

Adapun reksa dana pasar uang bisa dicairkan sewaktu-waktu dan reksa dana pendapatan tetap pun hanya memakan waktu dua atau tiga hari untuk redemption. Dengan begitu, dua instrumen tersebut dianggap lebih baik secara likuiditas dibanding deposito. Sedangkan untuk jangka panjang, reksa dana saham masih memiliki prospek yang menarik. Terlebih, secara year to date, valuasi saham diskonnya sudah sekitar 30%.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN