Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Merger Bank Syariah BUMN

Merger Bank Syariah BUMN

Didorong Rencana Merger, Pefindo Naikkan Peringkat Utang 3 Bank Syariah Milik BUMN

Rabu, 20 Januari 2021 | 13:36 WIB
Gita Rossiana (gita.rossiana@investor.co.id)

JAKARTA, Investor.id - PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) menaikkan peringkat tiga bank syariah milik Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Hal ini seiring dengan adanya rencana merger ketiga bank syariah tersebut.

Pefindo mengubah outlook PT Bank Syariah Mandiri (BSM), PT BRI Syariah Tbk (BRIS), dan PT BNI Syariah dari sebelumnya AA+ stable menjadi AA+ positif. "Perubahan outlook karena adanya rencana merger ketika bank syariah tersebut," ujar Analis Divisi Pemeringkatan Jasa Keuangan Pefindo Danan Dito dalam acara Konferensi Pers Secara Virtual, Selasa (19/1).

Menurut Danan, penggabungan ketiga bank syariah itu bakal meningkatkan permodalan, pangsa pasar, dan daya saing perusahaan. Selain itu, dengan menjadi bank syariah terbesar di Indonesia, bank hasil merger akan lebih baik dari sisi pendanaan.

"Dari sisi kualitas aset juga akan lebih baik karena sebelum merger, ketiga bank akan mengevaluasi bukunya dan melakukan tindakan bersih-bersih. Sehingga ke depan, bisnis dan keuangan bank akan lebih baik," papar dia.

Sementara secara keseluruhan, peringkat bank masih kuat, yakni banyak yang berada di rating A atau lebih tinggi. Dari 46 bank yang dirating oleh Pefindo, sekitar 39 bank berada di rating A hingga AAA. Hanya sekitar satu bank yang berada di rating B dan enam bank di rating BBB.

Tahun ini, Danan melihat, kualitas aset akan tetap menjadi perhatian karena adanya perpanjangan relaksasi pinjaman hingga 2022. Namun demikian, profitabilitas bank diharapkan bisa membaik karena pencadangan sudah mulai berkurang dibandingkan 2020.

Adapun untuk penerbitan surat utang, industri perbankan termasuk satu dari beberapa industri yang paling rajin menerbitkan surat utang. Dari total penerbitan surat utang sebesar Rp 96,6 triliun pada 2020, perbankan menerbitkan sebesar Rp 7,8 triliun. Instrumen yang paling banyak diterbitkan adalah obligasi sebesar Rp 5,75 triliun dan sukuk sebesar Rp 1 triliun.

Untuk tahun ini, bank akan kembali menjadi salah satu kontributor utama penerbitan surat utang korporasi. Hal ini terlihat dari mandat obligasi yang diterima Pefindo per 11 Januari 2021. Dari total mandat sebesar Rp 33,24 triliun, perbankan akan menerbitkan sebesar Rp 2,7 triliun.

Editor : Parluhutan (parluhutan@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN