Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Investor memantau pergerakan harga saham melalui smatphone. Foto ilustrasi: Investor Daily/David Gita Roza

Investor memantau pergerakan harga saham melalui smatphone. Foto ilustrasi: Investor Daily/David Gita Roza

Eits! Saham Emiten Kecil Lebih ‘Cuan’ Ketimbang Emiten Besar

Senin, 12 April 2021 | 11:02 WIB
Abdul Aziz (abdul_aziz@investor.co.id)

JAKARTA,Investor.id – Saham-saham emiten berkapitalisasi kecil atau yang melantai di papan pengembangan ternyata lebih cuan ketimbang saham berkapitalisasi besar alias yang melantai di papan utama. Saat saham-saham di papan utama terjerembab di zona merah, saham-saham di papan pengembangan malah melaju kencang di jalur hijau.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), selama tahun berjalan (year to date/ytd) atau sejak awal Januari hingga 9 April 2021, saham-saham emiten di papan utama melemah 1,90%.

Sebaliknya, saham-saham emiten di papan pengembangan justru melesat 24,41%. Padahal, dalam waktu bersamaan, indeks harga saham gabungan (IHSG) cuma naik 1,52%. Papan pengembangan dihuni 375 saham emiten, sedangkan papan utama digawangi 346 saham emiten.

Pada penutupan pedagangan akhir pekan lalu (Jumat, 9/4), saham-saham emiten di papan utama terkoreksi 0,07%. Sedangkan saham-saham emiten di papan pengembangan naik 0,20%. Adapun IHSG melemah 0,02%.

Sejalan dengan itu, 45 saham emiten yang masuk indeks saham paling likuid di bursa (LQ45) melemah 0,01%. Selama tahun berjalan, saham LQ45 tergerus 3,04%.

Papan utama sudah pasti dihuni emiten-emitem jumbo, seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk (TLKM), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), dan PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR).

Data BEI menunjukkan, top 10 emiten jumbo yang nangkring di papan utama memiliki total kapitalisasi pasar (market cap) Rp 3.022 triliun atau 42,1% dari total market cap di BEI yang mencapai Rp 7.174 triliun per 9 April 2021.

Otoritas bursa sebenarnya telah membuat klasifikasi papan akselerasi, yaitu papan pencatatan saham yang disediakan bagi emiten berskala kecil dan menengah-bawah. Namun, dalam penghitungan indeks, BEI hanya menggunakan papan utama dan papan pengembangan. Itu berarti, emiten di papan akselerasi tetap masuk papan pengembangan.

Sekadar tahu saja, tak sembarang emiten bisa masuk papan utama. Saat penawaran umum perdana (initial public offering/IPO), papan utama hanya ditujukan bagi calon emiten atau emiten yang memiliki ukuran besar dan jejak rekam (track record).

Sebaliknya, papan pengembangan disediakan bagi perusahaan-perusahaan yang belum dapat memenuhi persyaratan pencatatan di papan utama, termasuk perusahaan yang prospektif namun belum menghasilkan keuntungan serta perusahaan-perusahaan yang sedang dalam penyehatan.

Syarat Masuk Papan Utama

Berdasarkan Peraturan Bursa Nomor I-A tentang Pencatatan Saham dan Efek Bersifat Ekuitas Selain Saham yang Diterbitkan oleh Perusahaan Tercatat, baik emiten di papan utama maupun papan pengembangan harus memiliki badan hukum berbentuk perseroan terbatas (PT).

Selain wajib memiliki komisaris independen minimal 30% dari jajaran dewan komisaris, PT dimaksud harus punya direktur independen minimal satu orang dari jajaran anggota direksi, komite audit, unit audit internal, dan sekretaris perusahaan.

Khusus di papan utama, emiten harus memiliki operasional pada bisnis inti yang sama lebih dari tiga tahun serta membukukan laba usaha pada satu tahun buku terakhir. Selain itu, sang emiten mesti punya laporan keuangan auditan di atas tiga tahun dengan opini wajar tanpa pengecualian (WTP) dalam dua tahun terakhir dan memiliki aktiva berwujud bersih di atas Rp 100 miliar.

Syarat lainnya, jumlah saham yang dimiliki bukan pengendali dan bukan pemegang saham utama minimal 300 juta saham, meliputi 20% dari total saham untuk ekuitas di bawah Rp 500 miliar, 15% dari total saham untuk ekuitas Rp 500 miliar hingga Rp 2 triliun, serta 10% dari total saham untuk ekuitas di atas Rp 2 triliun. Jumlah pemegang sahamnya pun mesti di atas 1.000 pihak.

Bagaimana dengan persyaratan bagi emiten di papan pengembangan? Emiten atau calon emiten di papan pengembagan harus memiliki operasional pada bisnis inti yang sama lebih dari setahun. Kendati tidak diharuskan, berdasarkan proyeksi keuangan, emiten papan pengembangan mesti memperoleh laba pada akhir tahun ke-2 (khusus sektor tertentu pada akhir tahun ke-6).

Emiten di papan pengembangan juga wajib memiliki laporan keuangan auditan di atas 12 bulan dengan opini WTP dan punya aktiva berwujud bersih lebih dari Rp 5 miliar.

Syarat lainnya, jumlah saham yang dimiliki bukan pengendali dan bukan pemegang saham utama minimal 150 juta saham, meliputi 20% dari total saham untuk ekuitas di bawah Rp 500 miliar, 15% dari total saham untuk ekuitas Rp 500 miliar sampai Rp 2 triliun, serta 10% dari total saham untuk ekuitas di atas Rp 2 triliun, dengan jumlah pemegang saham lebih dari 500 pihak.

 

 

Editor : Abdul Aziz (abdul_aziz@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN