Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Karyawan berjalan di depan layar elektronik Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta, Kamis (24/6/2021). Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Karyawan berjalan di depan layar elektronik Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta, Kamis (24/6/2021). Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

PERAN MARKET CAP DI BURSA HANYA 22,6%

Emiten BUMN Tetap Jadi Referensi

Kamis, 24 Juni 2021 | 21:32 WIB
Lona Olavia ,Trimurti (trimurties@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Meski kinerja harga saham emiten BUMN saat ini sedang tidak bagus, mereka tetap menjadi market leader dan referensi bagi industri di sektor tersebut. Pada umumnya, emiten BUMN memiliki fundamental yang bagus. Emiten BUMN juga dinilai masih menjadi champion di sektornya.  

Harga saham emiten BUMN saat ini pada umumnya terlalu murah (undervalued) dan berada di bawah fundamentalnya. Sementara itu, emiten BUMN Karya memiliki utang besar terjadi karena menanggung penugasan pemerintah dalam membangun proyek infrastruktur yang membutuhkan investasi besar.

Top 10 laba bersih emiten BUMN
Top 10 laba bersih emiten BUMN

Rendahnya kinerja harga saham emiten BUMN membuat kontribusi emiten BUMN terhadap pasar modal cenderung menurun. Pada era 2000- an, kapitalisasi pasar (market cap) emiten BUMN dan anak usahanya mencapai 30% terhadap total market cap di bursa.

Kini, dari 34 BUMN dan anak usaha per 23 Juni 2021, porsi market cap itu tinggal 22,6%. Dari Top 10 market cap emiten di BEI, BUMN hanya menempatkan tiga wakilnya, yaitu BBRI, TLKM, dan BMRI. BBRI yang per 18 Juni 2021 memiliki market cap Rp 477 triliun, berada di urutan ke-2, terpaut jauh dari BBCA di urutan ke-1 dengan market cap Rp 772 triliun. TLKM dan BMRI yang bertengger di urutan ke-3 dan ke-4 dengan market cap Rp 332 triliun dan Rp 286 triliun, tak lama lagi diperkirakan tergusur oleh emiten baru super jumbo, yakni GoTo dan Bukalapak. Ketika IHSG menguat 0,93% (ytd) per 23 Juni, indeks 20 saham emiten BUMN (IDX BUMN20) malah minus 14,43%, bahkan saham 17 emiten syariah BUMN (IDEXMES BUMN 17) minus 17,37%. Saham konstruksi dan infrastruktur berkontribusi paling besar terhadap penurunan indeks saham BUMN.

Direktur Utama PT Indo Premier Sekuritas Moleonoto The. Foto: IST
Direktur Utama PT Indo Premier Sekuritas Moleonoto The. Foto: IST

Menurut Direktur Utama PT Indo Premier Sekuritas Moleonoto The, emiten BUMN saat ini banyak yang jadi panutan dan referensi bagi semua pelaku industri. “BUMN yang sudah listed sudah bagus-bagus kok. Khusus untuk Garuda Indonesia, tidak fair juga kalau bilang jelek sekali, karena industri penerbangan seluruh dunia mengalami hal yang sama akibat Covid. Tapi di luar itu, emiten BUMN yang sudah terdaftar di bursa merupakan champion di industrinya masing-masing. BUMN menjadi ujung tombak perekonomian. Tanpa BUMN lumpuh ekonomi kita,” katanya.

Terkait harga beberapa saham BUMN yang performanya anjlok, menurut Moleonoto hal itu karena banyak faktor dan tidak serta-merta karena fundamental. Bahkan, dia menilai saat ini banyak saham yang fundamentalnya bagus, namun harga sahamnya jeblok. Saham-saham emiten BUMN umumnya undervalued karena persepsi yang buruk, terutamaterhadap BUMN Karya.

”Jangan dibilang kalau harga saham BUMN lagi turun, itu kinerjanya jelek, belum tentu. Itu ada unsur persepsi. Misalnya ada dana asing keluar daripasar modal. Asing tidak peduli fundamental saham tertentu bagus atau tidak, tapi mereka harus mengurangi portofolio untuk Indonesian stock. Jadi, bukan berarti saham-saham BUMN jelek. Kita harus optimistis, BUMN adalah ujung tombak ekonomi nasional,” kata dia.

Karena itulah, IPO BUMN dan anak usaha harus tetap dilanjutkan. ”BUMN tetap menjadi champion, pasti diminati investor,” kata Moleonoto.

Janji Surga

Edwin Sebayang, Head of Research PT MNC Sekuritas dalam diskusi Zooming with Primus - Investasi Pilihan 2021, live BeritasatuTV, Selasa (29/12/2020). Sumber: BSTV
Edwin Sebayang, Head of Research PT MNC Sekuritas  Sumber: BSTV

Sedangkan Direktur MNC Asset Management Edwin Sebayang menyatakan, ada sejumlah strategi jangka pendek yang harus ditempuh pemerintah untuk memperbaiki citra emiten BUMN di lantai bursa. Misalnya untuk perusahaan konstruksi seperti Waskita Karya, pemerintah harus membantu menjual proyek tolnya untuk segera mendapatkan dana segar. Namun persoalannya, investor tidak tertarik dengan proyek yang masa konsesinya 30-40 tahun.

“Karena itu, pemerintah harus menawarkan insentif untuk investor yang mau mengambil tol Waskita, misalnya dikasih grace period 10 tahun dan tax holiday. Ini karena bagi investor publik, jangka pengembalian investasi lima tahun saja sudah kepanjangan, apalagi sampai 30-40 tahun. Tanpa insentif menarik, ya tidak ada yang mau,” ujar Edwin.

Edwin menambahkan, jika investor swasta tetap tidak tertarik, pemerintah mesti turun tangan dengan membeli tol-tol Waskita itu agar memperoleh dana segar, kemudian memasukkan ke aset-aset tersebut ke Jasa Marga, dan nantinya baru dijual ke investor.

Selanjutnya untuk Wijaya Karya dan Adhi Karya dalam jangka pendek harus terus disampaikan ke publik progres proyek-proyek besar yang tengah mereka garap, yakni Kereta Cepat Jakarta-Bandung (WIKA) dan LRT Jabodebek (ADHI). Kemudian, pemerintah harus memastikan bagaimana pembiayaan proyek-proyek besar itu tidak ada masalah.

Top 10 kapitalisasi pasar emiten BUMN dan afiliasinya
Top 10 kapitalisasi pasar emiten BUMN dan afiliasinya

“Dan yang penting lagi, Wijaya Karya dan Adhi Karya harus segera mendapatkan pembayaran saat mereka telah menyelesaikan termin proyek agar memperlancar cash flow,“ kata dia.

Edwin menuturkan, BUMN-BUMN konstruksi yang banyak mendapatkan penugasan pemerintah harus diperlakukan secara fair, yakni segera diberikan proyek-proyek yang menguntungkan dan anggarannya sudah pasti dari APBN. Pemerintah juga mesti membantu pembebasan lahan tol yang selama ini menjadi kendala BUMN konstruksi.

Edwin menyayangkan peran Lembaga Pengelola Investasi (LPI) atau Sovereign Wealth Fund (SWF) yang dinilai belum kelihatan sama sekali. Padahal, pemerintah gembar-gembor kehadiran LPI bisa menyelesaikan permasalahan pembiayaan proyek perusahaan konstruksi dan infrastruktur.

“Itu seperti janji surga bagi investor. Lebih baik kalau terbukti SWF yang membawa dana miliar dolar AS bener-bener ada, baru ngomong. Ini kan investor merasa dibohongi, jadi mereka akhirnya menghukum pasar, lihat saja saham WIKA sampai turun 44% dan PT PP turun 47%,” papar dia.

Edwin juga menyarankan agar proyek infrastruktur lebih diarahkan ke proyek teknologi dan komunikasi untuk menyesuaikan dengan prilaku masyarakat saat ini.

Ringkasan kinerja saham emiten BUMN dan afiliasinya di BEI
Ringkasan kinerja saham emiten BUMN dan afiliasinya di BEI

Sedangkan untuk BUMN perbankan, sebaiknya fokus pada produk-produk digital dan mengurangi kantor-kantor cabang.

Edwin menjelaskan, untuk memoles citra BUMN adalah dengan menempatkan jajaran direksi dan komisaris yang memiliki pengalaman, kapasitas, dan kredibilitas.

“Jangan ada jatah-jatah pendukung, ini investor bukan hanya domestik (yang mungkin memahami) melainkan juga investor internasional. Mereka nggakmau tahu, yang penting kinerja perusahaan harus bagus, jadi ya harus ditempatkan orang-orang yang benar-benar profesional,” papar dia.

Lebih jauh, Edwin menekankan agar pemegang saham publik tidak dirugikan oleh penurunan harga saham maupun soal dividen, emiten BUMN hanya menggarap proyek-proyek yang feasible secara bisnis, mengingat mereka adalah perusahaan publik yang dituntut untuk menghasilkan profit.

“Perusahaan publik memang harus mengejar revenue dan laba bersih. Kalau nggak, ngapain jadi perusahaan publik, jadi perum saja,” kata dia.

Dengan citra saham emiten BUMN yang tidak bagus seperti sekarang, Edwin berpendapat bahwa rencana IPO BUMN dan anak usaha tetap dilanjutkan.

“Namun, saat ini yang dibutuhkan pasar modal adalah IPO perusahaan-perusahan BUMN yang menguntungkan, seperti Pegadaian, Per tamina, PLN, PTPN, dan juga BUMN pelabuhan,” tegas Edwin.

Integrasi BUMN

Ekonom dan pengamat pasar modal dari LBP Institute Lucky Bayu Purnomo. Foto: IST
Ekonom dan pengamat pasar modal dari LBP Institute Lucky Bayu Purnomo. Foto: IST

Sementara itu, analis pasar modal Lucky Bayu Purnomo menyatakan, untuk mendorong kinerja saham emiten BUMN, perlu adanya kinerja yang terintegrasi. Artinya, lintas BUMN harus memiliki desain kerja sama yang dapat menopang kinerja satu sama lain. Emiten BUMN harus memberi kontribusi signifikan, terutama dividen serta memberikan kemanfaatan bagi masyarakat, lintas BUMN, dan negara.

Untuk menjaga solvabilitas, BUMN khususnya kontruksi harus menentukan skala prioritas proyek yang digarap, yang memiliki nilai ekonomi, feasible, dan memberikan profit.

Selain itu, selama ini BUMN berperan sebagai pusat produksi, distribusi, dan konsumsi. Masing-masing harus lebih fokus dan perlu ekosistem yang dibentuk dalam lintas BUMN agar tercipta sinergi kinerja.

”Yang perlu dilakukan membuat satu postur BUMN lebih efisien dengan menentukan satu departemen yang diharapkan jadi mesin uang. Program BUMN go digital juga bagus untuk mendorong kinerja dan efisiensi,” kata Lucky.

Lucky juga berpendapat agar IPO BUMN dan anak usaha tetap dilanjutkan. Hal ini penting agar perusahaan negara tersebut didorong memiliki good corporate governance (GCG) yang lebih baik, memiliki tanggung jawab moral, dan memiliki fundamental yang bagus.

Andreas Kenny, Equity research Manager PT BRI Danareksa Sekuritas dalam diskusi Zooming with Primus - Investasi Pilihan 2021, live BeritasatuTV, Selasa (29/12/2020). Sumber: BSTV
Andreas Kenny, Equity research Manager PT BRI Danareksa Sekuritas  . Sumber: BSTV

Dihubungi terpisah, analis Danareksa, Andreas Kenny menilai, secara keseluruhan Good Corporate Governance (GCG) emiten BUMN utama sudah sangat baik dan patut diapresiasi kinerjanya. Adapun untuk beberapa emiten yang memiliki sejumlah masalah seperti profitabilitas dan utang, Andreas melihat sudah dilakukan langkah-langkah konkret, seperti restrukturisasi dan divestasi.

Hal itu telah dilakukan terhadap emiten BUMN konstruksi dan infrastruktur, yang akan melibatkan LPI.

Seorang analis menyatakan bahwa emiten BUMN perlu memperlihatkan perbaikan kinerja operasional dan finansial secara periodik, sehingga investor ekuitas maupun obligasi dari BUMN semakin confidence.

“Perbaikan kinerja tidak hanya menyangkut aspek finansial tetapi juga operasional,” kata salah seorang direksi sekuritas pelat merah ini.

Dia juga menekankan bahwa BUMN bisa membangun core competence-nya yang sulit diduplikasi oleh kompetitor. “Kolaborasi dengan pihak swasta juga bisa dieksplor dengan pendekatan secara business to business,” ucapnya.

Suntikan PMN

Ekonom Universitas Indonesia Ahmad Mikail Zaini
Ekonom Universitas Indonesia Ahmad Mikail Zaini

Dihubungi terpisah, ekonom Universitas Indonesia Ahmad Mikail Zaini menilai, memperbaiki GCG BUMN merupakan langkah yang harus diambil pemerintah, dengan menempatkan SDM yang terbaik di negeri ini untuk memegang jabatan dewan direksi (BOD) dan komisaris BUMN.

“Cara berikutnya dengan mendorong BUMN/BUMD yang layak untuk melantai di bursa atau mendorong BUMN menerbitkan obligasi agar rekam jejak BUMN tersebut dapat dipantau banyak pihak,” kata Mikail Zaini.

Pemerintah, lanjut Mikail Zaini, juga dapat mendorong kinerja BUMN/ BUMD untuk bergerak di sektor riil penghasil barang, terutama barang -barang ekspor, dengan pemberian penyertaan modal negara (PMN) atau bantuk credit facility seperti credit guarantee dari pemerintah.

Pemberian PMN dan pelunasan utang-utang pemerintah, tegas Mikail Zaini, harus mutlak dilakukan untuk mendorong solvabilitas BUMN-BUMN karya. Pemerintah juga dapat memberikan credit guarantee guna memastikan BUMN yang kesulitan pendanaan akibat penugasan program pemerintah untuk bisa mendapatkan akses kredit yang lebih mudah bagi BUMN tersebut. Menurut Mikail Zaini, BUMN yang ditugaskan untuk mencari keuntungan dan sahamnya sudah dimiliki publik, sebaiknya tidak lagi dibebankan program-program infrastruktur pemerintah yang tidak feasible.

“Jikapun harus mendapatkan penugasan dari pemerintah, pemerintah harus bertanggung jawab menyediakan serangkaian fasilitas bagi BUMN tersebut, seperti PMN atau credit guarantee,” ujarnya.

Emiten BUMN dan afiliasinya
Emiten BUMN dan afiliasinya

Untuk mengurangi beban BUMN, Mikail Zaini juga sependapat jika swasta perlu sebanyak-banyaknya dilibatkan dalam program-program  infrastruktur pemerintah. Berbagai insentif bisa diberikan pemerintah bagi sektor swasta yang mau berkontribusi membangun infrastruktur. Meski citra saham emiten BUMN sedang tidak baik, menurut Mikail, BUMN perlu tetap didorong untuk melakukan IPO agar pengelolaan keuangan BUMN semakin transparan dan masyarakat bisa ikut kepemilikan di BUMN tersebut.

Strategi jangka menengah dan panjang untuk menciptakan BUMN yang memiliki kapitalisasi pasar yang besar adalah dengan mendorong BUMN bergerak di sektor manufaktur, pertanian, dan pertambangan. Ketiga sektor ini, menurutnya, harus digarap oleh BUMN terutama untuk tujuan ekspor. Pemerintah dapat memberikan berbagai fasilitas bantuan modal dan kredit.

“Pemerintah perlu mengubah strategi dari BUMN yang berorientasi domestik menjadi BUMN yang berorientasi ekspor,” ujar Mikail.

Pengamat pasar modal Budi Frensidy
Pengamat pasar modal Budi Frensidy

Adapun pengamat pasar modal Budi Frensidy mengatakan, menurunnya kinerja emiten BUMN karya disebabkan oleh tingginya ambisi pemerintah dalam membangun infrastruktur yang melebihi kapasitas. Itu membuat utang emiten menggelembung.

Meningkatnya rasio utang berdampak pada penurunan harga saham BUMN. Pada penutupan perdagangan Rabu (23/6), harga saham WIKA tercatat melemah 3,65% ke level Rp 1055, JSMR turun 0,80% ke Rp 3710, PTPP terkoreksi 2,05% menjadi Rp 955 dan WSKT terpangkas 1,53% ke Rp 965 per saham.

Menurut Budi, ada beberapa solusi bagi BUMN infrastruktur. Pertama adalah dengan melakukan initial public offering (IPO) saham anak usaha. Dengan begitu, induk usaha dapat mendapatkan dana untuk mengurangi utang.

Kedua, pemerintah dapat meringankan beban emiten BUMN dan tetap mengejar target pembangunan infrastruktur dengan membagikan tanggung jawab tersebut pada pihak swasta, dengan konsep kerja sama operasi dan lainya. Ketiga, emiten BUMN melakukan beberapa efisiensi dengan mengurangi porsi proyek ambisius yang membutuhkan dana yang tinggi, untuk mengurangi beban utang. Keempat, emiten BUMN menerbitkan obligasi untuk refinancing, guna menekan beban utang. (bil/fur/ts/hg)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN