Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pengangkutan batubara di laut. Foto ilustrasi: Defrizal

Pengangkutan batubara di laut. Foto ilustrasi: Defrizal

Fokus Pasar: Harga Komoditas Batubara Naik Signifikan

Rabu, 24 Maret 2021 | 08:20 WIB
Muhammad Ghafur Fadillah (muhamad.ghafurfadillah@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id  - Fokus para pelaku pasar pada hari ini tertuju pada kenaikan harga batubara yang terjadi pada beberapa bulan terakhir. Pengetatan aktivitas industri yang terjadi akibat kembali berlakunya lockdown jadi sebab peningkatan harga batubara.

Dalam riset hariannya, Pilarmas Sekuritas menjelaskan, kenaikan harga batubara acuan tentu menjadi katalis positif bagi kinerja emiten maupun pendapatan ekspor.

Meski demikian, Pilarmas mengatakan meningkatnya harga batubara acuan dapat menjadi pemicu naiknya inflasi. Lantaran, kenaikan dari biaya produksi sebagai dampak dari kenaikan harga batubara acuan dinilai dapat memberikan kenaikan pada harga jual produk.

Adapun, jika mengacu pada data historis, harga batubara acuan telah naik +24.56% dalam satu bulan terakhir dan +16.94% sejak awal tahun.

Terbaru, lewat kebijakan DMO baik batubara maupun B30 menjadi langkah pemerintah guna menekan impor bahan bakar dan menjaga stabilitas harga dalam negeri.

Sementara itu, untuk memenuhi kebutuhan batubara dalam negeri, pemerintah mematok harga jual batubara yang digunakan sebagai penyediaan tenaga listrik untuk kepentingan umum dipatok US$70 per metrik ton free on board (FOB) vessel.

Kemudian, pemerintah juga mewajibkan pemegang IUP, IUPK, dan PKP2B memenuhi domestic market obligation (DMO) sebesar 25% dari rencana jumlah produksi batubara yang disetujui.

“Penetapan harga US$70 sebetulnya memberikan dampak baik ke konsumen karena bisa mendapatkan penghematan cukup besar disebabkan harga batubara internasional yang mengalami kenaikan,” jelas Pilarmas, Rabu (24/3).

Lebih lanjut, apabila mengacu pada data Kementerian ESDM, pada 2018 saat rata-rata harga batubara pada kisaran US$99 per metrik ton, kebijakan harga DMO batubara mampu menciptakan penghematan BPP sebesar Rp 17,9 triliun. Lalu, pada 2019 rata-rata  harga batubara pada kisaran US$ 77,9 per metrik ton, kebijakan yang sama mampu menghemat BPP sebesar Rp11 triliun.

“Sedangkan selama 2020, harga batubara relatif lebih rendah dari harga caping sehingga tidak ada penghematan biaya. Penentuan harga jual batubara pada sektor ketenagalistrikan dimaksudkan untuk menjamin PLN dapat membeli batubara dalam negeri sesuai kemampuan finansialnya, tanpa ada tambahan subsidi dan kenaikan tarif dasar listrik,” jelas Pilarmas.

Di sisi lain, besaran harga jual batubara untuk kelistrikan sebesar US$ 70 per metrik ton tersebut telah mempertimbangkan kelayakan ekonomi perusahaan pertambangan agar dapat beroperasi secara berkelanjutan. Apabila ditentukan lebih rendah dari HBA US$ 70 per metrik ton, diperkirakan akan terjadi potensi kecenderungan ekspor yang akan menimbulkan kelangkaan batu bara dalam negeri.

Pilarmas menilai, kebijakan DMO menjadi langkah yang tepat oleh pemerintah untuk menjaga supply energi dalam negeri tetap stabil yang menjadi salah satu penopang pemulihan ekonomi.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN