Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Salah satu pabrik baja. Foto ilustrasi: Investor Daily/Defrizal

Salah satu pabrik baja. Foto ilustrasi: Investor Daily/Defrizal

Fokus Pasar: Kemenperin Pacu Kinerja Industri Logam

Kamis, 22 April 2021 | 10:01 WIB
Nabil Alfaruq (nabil.alfaruq@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id — Kementerian Perindustrian memacu kinerja industri logam agar bisa memberikan kontribusi besar terhadap perekonomian nasional. Saat ini kebutuhan baja diproyeksikan semakin meningkat, baik di pasar domestik maupun ekspor.

Pilarmas Sekuritas dalam riset hariannya, Kamis (22/4) menyampaikan, kemenperin menargetkan pertumbuhan sektor industri logam dasar sebesar 3,54% pada tahun ini.

Kepala Badan Standardisasi dan Kebijakan Jasa Industri (BSKJI) Doddy Rahadi mengatakan industri baja diklaim merupakan sektor high resilience yang mampu bertahan di tengah pandemi Covid-19 dan siap untuk kembali meningkatkan kemampuan dan performanya di tahun ini.

Ia mencatat nilai impor untuk HS produk SNI wajib 2020 sebesar Rp 102 triliun, turun jika dibanding 2019 sebesar Rp 133 triliun. Sehingga perlu perhatian serius dari seluruh pemangku kepentingan terkait dalam mendukung pertumbuhan industri baja nasional. Dengan demikian tidak ada celah banjir produk impor yang tidak berkualitas ke pasar dalam negeri.

Penerapan SNI wajib pada produk logam juga bertujuan untuk merealisasikan target substitusi impor sebesar 35% pada 2022. Pembatasan impor terutama untuk produk yang sudah dapat diproduksi oleh industri dalam negeri perlu diperkuat.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, pada tahun lalu industri logam dasar dapat tumbuh 11,46%. Kenaikan tersebut seiring dengan meningkatnya permintaan dari luar negeri. Oleh karena itu pemerintah berkomitmen untuk terus melindungi industri dalam negeri dari serbuan produk impor.

Menteri Perindustrian juga menyatakan diperlukan instrumen yang mampu memacu daya saing produk nasional sekaligus menjaga kesehatan serta keselamatan konsumen dan lingkungan, termasuk di sektor industri logam. Dengan tetap mengedepankan azas fairness dalam perdagangan internasional, implementasi SNI wajib dapat bertujuan untuk meningkatkan akses pasar luar negeri dan menekan laju impor.

Penerapan instrumen berupa pemberlakuan SNI secara wajib, fokus utamanya adalah untuk produk-produk yang berkaitan dengan Keamanan, Kesehatan, Keselamatan, dan Lingkungan (K3L).

“Kami melihat guna mendorong industri logam nasional yang berdaya saing tinggi, perlu diciptakan iklim usaha yang kondusif dan kompetitif hal tersebut dinilai dapat menopang utilisasi serta kemampuan inovatif pada sektor tersebut,” jelas Pilarmas Sekuritas

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN