Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pekerja melintas di main hall Bursa Efek Indonesia, Jakarta. Foto ilustrasi:  Beritasatu Photo/Uthan AR

Pekerja melintas di main hall Bursa Efek Indonesia, Jakarta. Foto ilustrasi: Beritasatu Photo/Uthan AR

Fokus Pasar: Lawan Stigma Negatif Industri Sawit

Jumat, 30 Juli 2021 | 08:38 WIB
Muhammad Ghafur Fadillah (muhamad.ghafurfadillah@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Pelaku pasar di akhir pekan mencermati prospek industri sawit yang diperkirakan mampu menopang pertumbuhan pendapatan. Proyeksi ini sejalan dengan hasil studi yang dilakukan oleh Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI).

Dalam hasil studi tersebut juga disebutkan bahwa industri sawit dapat menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru pada tahun ini. Direktur Eksekutif PASPI Indonesia Tungkot Sipayung mengatakan, dari riset yang dilakukan pihaknya membuktikan berkembangnya aktivitas perkebunan dan industri sawit berbanding lurus dengan naiknya pendapatan masyarakat.

Pilarmas Investindo Sekuritas mengatakan, dengan riset tersebut menjelaskan kabupaten yang memiliki sentra sawit perkembangannya lebih cepat dibandingkan dengan kabupaten yang tidak memiliki sawit.

“Penelitian ini dilakukan secara empiris dan hasilnya sama dengan penelitian yang dilakukan oleh World Bank,” jelasnya, Jumat (30/7).

Tungkot Sipayung. Foto: Investor Daily/Gora Kunjana
Tungkot Sipayung. Foto: Investor Daily/Gora Kunjana

Tungkot Sipayung juga menyebutkan, selain menopang laju ekonomi, keberadaan perkebunan kelapa sawit pun berdampak positif pada lingkungan sosial dan ekologi daerah tersebut.

Hal ini merujuk pada riset dari Robert Henson yaitu ahli ekofisiologi asal Oklahoma City, Amerika Serikat. Penelitian Henson di Malaysia diterbitkan dalam laporan berjudul “The Rough Guide to Climate Change”.

Dalam penelitian itu disebut terdapat penyerapan karbondioksida dan produksi oksigen perkebunan kelapa sawit lebih baik dibandingkan hutan. Apabila dihitung, perkebunan sawit mampu menyerap karbondioksida (CO2) sekitar 163 ton/ha/tahun.

Maka dari itu, Lanjut Pilarmas, dengan luas lahan yang dimiliki Indonesia sebesar 16,381 juta hektar, maka perkebunan sawit dapat menyerap CO2 hingga mencapai 2,67 miliar ton/tahun. Perkebunan sawit pun menyediakan konservasi tanah dan air berupa biopori alami dalam sistem perakarannya.

“Di luar itu, sawit juga mampu menghasilkan berbagai produk turunan yang ramah lingkungan dan energi terbarukan, seperti biodiesel, biopremium, bioplastik dan biogas,” ujar Pilarmas.

Pilarmas menilai, apabila pengusaha juga dapat bekerja sama menjaga keseimbangan alam. Hal ini tentu dapat menjadi sebuah alasan yang kuat dalam membalikkan tuduhan bahwa industri sawit dapat mengancam kelestarian alam.

“Dengan adanya upaya dari pengusaha serta pemerintah dalam mendorong industri sawit dapat lebih baik. Tentu ini akan menjadi kekuatan Indonesia dalam menjadi bagian dari perekonomian terbesar dunia,” pungkas Pilarmas.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN